11/05/17

Alkisah Nama-Nama Perumahan


iklan rumah di koran. (dok pribadi)
 
Hampir setahun tinggal di Medan, salah satu acara keluarga saat liburan adalah blusukan lihat-lihat perumahan. Maklum, kami masih terhitung sebagai “kaum kontraktor” alias “rumah masih ngontrak”. Blusukan yang ini tentu ada maksud dan tujuan. Tapi, sejauh ini belum ada juga keputusan final. Ada beberapa hal yang membuat kami belum bisa melabuhkan hati ke salah satu perumahan yang sudah kami kunjungi.
Aiiih, pilih rumah apa pilih pasangan sih? Hehehe, seperti saya tulis di sini, suasana cari rumah itu seringkali seperti cari jodoh. Ada yang dengan mudah dapatnya, ada juga yang mesti melalui proses berliku. Dan kami sepertinya termasuk golongan yang menempuh proses agak panjang. Rasa-rasa sudah cocok dan mau deal, eh karena sesuatu hal, jadi batal. Tapi tak apalah, kami nikmati saja prosesnya, termasuk menikmati jalan-jalan blusukan lihat perumahan. Rupanya, ini jadi alternatif kegiatan liburan yang menyenangkan juga. 

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah nama-nama perumahan. Aiih, kalau ngomongin nama, saya selalu ingat sebuah novel berjudul “Makna Sebuah Nama”. Novel karya penulis berdarah India yang bermukim di Amerika, Jumpa Lahiri. Dengan bahasa yang indah, Lahiri menjalin cerita si tokoh utama bernama Gogol. Nama yang historis bagi si pemberi nama (ayahnya), tapi tak disukai oleh Gogol sendiri. Cerita lain yang sering  saya ingat soal nama adalah novel Biji Sesawi karya almarhum Romo Mangun. Di awal novel diceritakan tentang bayi bernama Rahadi yang tumbuh sakit-sakitan. Akhirnya, si bayi dianggap "keberatan nama". Nama Rahadi yang dianggap terlalu "priyayi" disulih menjadi Yunus.
Kalau Shakespeare terkenal dengan ungkapannya, apalah arti sebuah nama? Tentunya itu situasional dan kondisional ya... Faktanya, soal nama kadang bisa jadi urusan ribet yang makan waktu, tenaga, uang, dan perasaan. Soalnya, pernah mengalami sendiri keribetan soal nama ini.
Kembali ke nama-nama perumahan. Di seputaran Medan ini,saya melihat ada nama-nama perumahan yang membuat saya tidak bisa lewat begitu saja saat membacanya. Minimal jadi sedikit mikir (karena unik) atau tertawa (karena lucu) atau heran (karena nggak cocok antara nama dengan kondisi perumahan). Kurasa, nggak hanya di Medan, di banyak kota-kota lain juga demikian. 
Laiknya nama-nama bayi kekininan, nama-nama perumahan juga banyak yang kebarat-baratan. Memang masih banyak perumahan yang memakai nama lokal, semacam “puri”, “taman”, “griya”, atau “pondok”. Tapi kita juga akan mudah menemukan nama-nama perumahan dengan embel-embel “residence”, “regency”, “grand”, atau “land”. (Perumahan tempat kami tinggal sekarang juga pakai salah satu embel-embel itu). Tak hanya perumahan menengah ke atas, perumahan subdisi pun, tak lepas dari nama-nama impor ini. Mungkin karena di benak sebagian besar kita, apa-apa yang berbau impor itu terasa lebih keren. Dan lebih mahal.
Seperti saat saya ketemu dengan sebuah perumahan yang mengandung nama “riverside”. Ya memang betul, letaknya di sebelah sungai alias “girli” (pinggir kali) kalau kata orang Jawa. Sama-sama artinya, temen-temen pembaca menangkap rasa yang sama atau berbeda saat membaca “riverside” dan “pinggir kali”?
Nama-nama perumahan kadang juga nggak sesuai dengan kenyataan. Istilahnya “jauh panggang dari api”. Mungkin sih karena nama adalah doa. Kasih nama perumahan yang indah agar kelak jadilah seperti namanya. Tapi hingga perumahan sold out, doa itu tidak terkabul (karena nggak diusahakan sih hehehe). Misal perumahan dengan tambahan kata “green” tapi jauh dari kesan “ijo”. Pohonnya kecil-kecil dan dikiit. Masih mending kalau cat asli rumah berwarna hijau yaaa, kan ada ijo-ijonya buat ngeles hehehe. 
Atau perumahan yang menggunakan kata “taman”. Tapi di dalamnya nggak ada sepetak pun fasilitas taman dari pengembang. Ada  sih sedikit taman di halaman mungil beberapa rumah. Tentu saja itu taman bikinan si penghuni. Mungkin itulah yang diharapkan pengembangnya, tiap rumah bikin taman sendiri hehehe. 
Ada juga perumahan yang menggunakan kata “villa” dan “resort”, tapi letaknya di antara pemukiman padat. Salah nama atau aku yang perlu revisi pemahaman? Soalnya, selama ini  kalau dengar kata “villa” sama “resort”, pikiran saya langsung mengait pada tempat-tempat berlibur yang eksklusif dan jauh dari kepadatan.
Memang sih, sejauh ini sih belum pernah kedengaran orang ribut atau batal beli rumah gara-gara nama perumahannya. Mungkin saya saja yang terlalu nyinyir. Laiknya orang nyinyir, beli kagak – nyinyir iya hahaha.

Salam









 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler