Kangen Upi dan Uti


Kiri : Uti (ibu mertua). Kanan : Upi (ibu kandung)


Tak harus menunggu 22 Desember untuk membuat tulisan tentang ibu. Siang ini saya agak mellow sehabis tadi menelpon Mbah Uti (ibu mertua), lalu lanjut menghubungi Mbah Upi (emak). Sayang sekali, telepon dengan Upi tidak tersambung, mungkin masalah sinyal. 

Seperti terjadwal (padahal tidak secara sengaja mengatur waktu seperti ini), hari Sabtu atau Minggu adalah hari menelpon Mbah Uti (ibu mertua). Biasanya, setelah "ngobrol" dengan Uti, lanjut telepon Upi. Seringkali hanya sekedar "say hai", ngobrol "remeh-temeh". Dan yang terpenting adalah menyambungkan dua simbah itu dengan duo cucunya. Cucu yang rata-rata hanya setahun sekali dijumpainya.

Ishhh...menelpon orangtua seminggu sekali? Tegaaa yaaa..

Rasa hati juga nggak enak sih. Pulang cuma bisa setahun sekali. Eh menelpon juga cuma seminggu sekali. Tapi ritme seperti ini belum lama terjadi. Sebelumnya, walaupun tidak tiap hari, tapi pasti lebih dari sekali seminggu. Terutama jika teleponan dengan Uti. Dulu, Uti rajin menghubungi, entah itu melalui pesan pendek atau telepon. Dan jika Uti sudah telepon, biasanya beberapa hari kemudian gantian saya yang menelepon. Kalau misal dalam seminggu Uti menelpon satu kali, lalu saya balik menelpon satu kali, artinya kami sudah dua kali kontak via telepon.

Sebagai mertua dan menantu, hubungan kami memang relatif dekat dan baik. Situasi yang tentu saja amat sangat saya syukuri. Terlebih jika melihat hubungan beberapa teman  (perempuan) yang tak akur dengan ibu mertua nya. Baik yang tak akur dalam level rendah (cuek - tak saling perhatian), hingga yang bener-bener nggak akur sampai cakar-cakaran bermusuhan. Mending kalau tidak tinggal serumah. Lha kalau tinggal satu atap tapi tak rukun...aduuh maaak. 

Ya sih, kata seorang temen, hubungan saya dengan mertua justru baik karena kami berjauhan. Kalau kata perumpamaan Jawa : sri gunung, artinya kurang lebih jarak yang jauh menyebabkan pemandangan terlihat bagus, seperti gunung yang terlihat cantik kalau dilihat dari kejauhan. Coba, kalau tinggal serumah/berdekatan, bisa jadi sri taman. Terlihat cantik dari jauh, tetapi begitu dekat terlihat batang kering yang belum dipangkas-lah, ulat-lah, daun jatuh yang belum disapu-lah...dan -lah -lah lainnya.

Well..okay..mungkin itu ada benarnya. Tapi in my humble opinion, kalau memang sudah nggak akur, mau dekat mau jauh ya tetap nggak akur. Jarak hanya membantu meminimalisasi terjadinya gesekan langsung. Namanya sama-sama perempuan ya...kalau tinggal serumah dan dasarnya sudah tak saling cocok serta tak saling menahan diri, urusan lantai kurang bersih saja bisa memantik masalah besar. Daaan, kalau dasarnya sudah nggak rukun, jarak tinggal yang jauh sekaligus akan membuat jarak hati yang semakin jauh. Telepon-teleponan say hai dan ngobrol-ngobrol santai..... nggak bakalan.

Kadang saya berpikir, mengapa hubungan kami bisa baik?

Apakah karena Uti adalah mertua yang baik dan saya adalah menantu yang baik? *Angkat bahu...* Jujur saja, saya merasa masih jauh dari baik. Apalagi kalau ingat pertama kali diajak bertemu dengan beliau oleh mantan pacar (suami yang tentu saja anak Uti). Saya memakai celana jeans belel dan anting satu saja di kuping. Hadoooh...bukannya seperti mau ketemu calon mertua tapi seperti mau nonton konser musik ^-^

Yang paling mungkin adalah, dalam berelasi dengan menantu, Uti sudah belajar banyak dari pengalaman-pengalaman terdahulu. Suami saya adalah anak bungsu (dari empat bersaudara lelaki semua) dan menikah terakhir. Otomatis, saya adalah menantu terakhir. Jujur saja, tak semua hubungan Uti dengan menantu-menantunya yang terdahulu berjalan mulus. Sementara. sejauh saya kenal, Uti cenderung tak frontal menyalahkan orang lain ketika sesuatu tak berjalan sesuai keinginannya.

Uti membuat saya mengerti, bahwa menjadi mertua juga perlu belajar. Persiapan bagi saya yang juga cuma punya anak cowok ^_^. Ada suatu peristiwa yang ternyata sama-sama lekat di ingatan kami berdua. Yakni ketika dulu kami pulang kampung dan ketika balik ke Sumatera Utara, Uti turut serta. Untuk pertama kalinya, saya dan Uti akan bersama dalam waktu lebih lama daripada sekedar pulang kampung yang paling-paling seminggu. 

Saat itu, dalam perjalanan saya beranikan menyampaikan sesuatu pada Uti. Kurang lebih begini dalam bahasa Indonesia, "Bu, sekarang ini kita akan tinggal bersama agak lama. Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti akan ada hal-hal yang membuat Ibu kurang cocok. Bagaimanapun, Ibu dan saya masing-masing punya kebiasaan yang mungkin berbeda. Semoga kita sama-sama bisa saling menerima."

Haha,.... kalau dipikir-pikir, sebagai menantu kok rada-rada kurang ajar duluan ngomong gitu. Saat itu Uti cuma senyum dan bilang ya. Tapi beberapa tahun kemudian, Uti bilang, perkataan itu sangat mengena di hatinya. 

Saya menganggap hubungan yang indah ini sebagai KARUNIA. 
Sesuatu yang terjadi sebagai berkat Tuhan.

Tetapi sejak Uti terserang stroke, pola komunikasi jadi berubah. Telepon hanya bisa terjadi satu arah, yakni saya yang harus menelpon. Jangankan, mengetik pesan pendek, bicara langsung saja Uti tak/belum bisa. Uti bisa memahami perkataan, tapi tak bisa memberikan tanggapan. Jujur saja, saya sempat bingung jika menelpon Uti. Sebab, pertanyaan standar semacam "sudah makan, Mbah?", hanya akan dijawab dengan ah-eh-uh yang saya tak paham. Terlebih dalam komunikasi suara, saya tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Senangkah? Sedihkah? Biasa sajakah? Bocil saya, Al yang dulu juga biasa teleponan dengan Uti, juga bingung mau bilang apa ketika telepon saya sodorkan padanya. Bersyukur, sekarang kami sudah ketemu cara untuk "berbincang" dengan Uti. Cerita apa saja yang kira-kira bisa menyenangkan hatinya.  

Yang bikin sedih, dari empat menantu, hanya saya yang sama sekali belum mengunjungi Uti. Sejauh ini, baru suami saya yang sudah pulang untuk Uti. Rencananya sih, Desember nanti, kami akan pulang lengkap. Semoga tak ada aral melintang..

Tentang Upi....

Ah ya, bisa dibilang Upi adalah sosok yang 180 derajat dengan Uti. (Oh ya, panggilang Upi itu gara-gara keponakan saya yang tak bisa memanggil "Uti" (mbah Putri). Jika Uti terasa perhatian terhadap anak dan cucu-cucunya, Upi justru cenderung terasa cuek. Upi tak bisa bilang kangen, apalagi sayang ^-^. Upi tidak terbiasa mengungkapkan rasa sayangnya secara verbal. Upi juga cenderung tidak menampakkan perhatiannya.

Gara-gara itu, dulu sewaktu kuliah dan makin jauh dari rumah, saya sempat protes dalam hati. Soalnya, teman sebelah kamar nih, tiap kali tiba di kost usai pulang kampung, pasti langsung ditelpon oleh sang ibu. Dipastikan keselamatannya, ditanya gimana perjalanannya... Lha saya, boro-boro begitu. Dari mulai hingga selesai kuliah nyaris tidak pernah ditelepon kecuali ada hal yang teramat penting. Kami memang tak pernah cek-cok, tapi sering "sepakat untuk tak sepakat" dalam banyak hal.

Sampai sekarang pun, Upi tetap teramat jarang menelpon. Sampai jarak fisik kami semakin jauuuh dan jarak pertemuan semakin panjang. Kalau dulu hanya berbeda kota, kami bisa bertemu dalam hitungan bulan. Sekarang  kami sudah berbeda pulau, dan jadwal rutin pulang hanya setahun sekali. Jadinya malah saya yang nyaris selalu membuat inisiatif menelpon. Tapi langkah ini pun seringkali terhambat sinyal yang tak bersahabat. Hmmmh... jalan di kampung memang sudah aspal mulus. Tapi soal sinyal telepon, masih jauh dari kondisi was-wus.

Puji Tuhan... dengan menjadi ibu, saya bisa melihat situasi ini dengan perspektif yang berbeda. Kini saya merasa, Upi demikian bukan karena tak sayang. Tapi mungkin karena Upi "terbentuk" situasi dan keadaan menjadi demikian. Ya lah,..Upi tumbuh dalam keluarga yang teramat tradisional, yang tak mengenal kata verbal " i love you" antara anak dan ortu. Upi juga bertumbuh menjadi ibu dalam situasi yang tak seperti sekarang. Zaman itu, mana ada internet dan grup-grup di platform chatting yang membuat Upi bisa mengakses aneka informasi parenting, -bahkan saat itu ilmu parenting bisa jadi belum dianggap penting.

Menjadi ibu bisa membuat saya lebih memahami Uti dan Upi. Beliau berdua, dua perempuan yang sangat berarti buat saya. Upi adalah perempuan yang Tuhan jadikan jalan kehadiran saya ke dunia. Upi menyediakan begitu banyak waktu untuk membesarkan saya. Sedangkan Uti, perempuan yang hadir kemudian. Mungkin hanya sedikit waktu yang Uti berikan untuk saya. Tapi saya tak boleh lupa, Uti adalah perempuan yang membesarkan suami saya. Dalam istilah Jawa, suami adalah garwa, "sigaraning nyawa", belahan nyawa. Jika Upi membesarkan saya, makan Uti membesarkan separuh nyawa saya.

Upi dan Uti, dua perempuan yang saling melengkapi. Dua perempuan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dua perempuan, yang dari mereka, saya banyak belajar....












Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?