Periksa Meteran/Instalasi Listriknya (Part 1)

Siang tadi, sebenarnya saya sedang cukup hepi karena dikunjungi tetangga dari kampung nun jauh di pelosok Jawa Tengah sana. Ibu Br Galingging yang tengah pulang ke Medan karena mamaknya meninggal, menyempatkan diri datang ke kontrakan kami. Kami tengah mengobrol ketika ada dua orang mengenakan rompi biru mengucapkan salam di pagar.

Ternyata petugas PLN.  Setelah membaca surat tugasnya, mereka bertiga (yang satu lagi masuk belakangan) tepatnya adalah petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Dengan sopan mereka menyatakan hendak memerika meteran. Sampai di situ, saya belum ngeh. Saya pikir pengecekan rutin saja.

Saat hendak membuka meteran, salah satu petugas menunjukkan pada saya bahwa segel telah terputus. Selanjutnya dia menunjukkan jika pada bagian dalam meteran ada kabel lain (warna hitam) yang secara horisontal menyambungkan dua kabel vertikal warna merah.

m
Intinya, kabel hitam itu membuat meteran kami berjalan lebih lambat dari semestinya.
pic : indonesia.coconuts.com
Wait!! Baru deh sadar kalau ini adalah masalah! Saya langsung bertanya, apakah semua rumah diperiksa. Menurut petugas, hanya rumah-rumah yang ada di daftar yang diperiksa. Saya melihat daftarnya, ada belasan rumah di situ.
Langsung deh ngomong sama bapak petugas kalau kami baru empat bulan menghuni rumah ini. Si bapak petugas sih menurut saya cukup sopan, tidak arogan. Dengan alatnya dia merunut histori tagihan listrik di rumah ini (sayangnya terbatas sampai tahun 2015). Menurut dia, dengan daya 1300 watt, dan memakai AC, tidak mungkin tagihan hanya sebesar di rekap rekening. Konsekuensinya adalah saat itu juga meteran akan dibawa dan kami harus mengurus denda ke kantor PLN Deli Tua.
Hiks....
Waah...langsung terbayang kerumitan ke depan. Terlebih ketika bertanya kisaran denda, petugas tidak memberi angka pasti tapi menyebut nominal jutaan. Duuuuuh....apalagi sih ini???
Kemarin ketika kami masuk rumah ini, meteran air yang bermasalah. Rumah dalam kondisi kosong, tapi tagihan tiga bulan hampir Rp 2 juta sehingga empunya rumah pending membayar. Saat kami sudah tinggal, ada petugas PDAM yang menyampaikan surat peringatan untuk pemutusan. Bersyukur Ibu SN selaku pemilik rumah langsung mengurus hal ini.  Entah dengan membayar semua atau ada bargaining dengan PDAM mengingat lonjakan tarif justru terjadi ketika rumah tidak ada yang mengontrak (dilihat dari daftar rekening sejak 2015). 
Kembali ke soal listrik..
Kalau sore itu juga meteran dibawa, listrik di rumah mati dong? Saya langsung telepon BJ  (suami) yang saat itu lagi meeting di kantor. Semula sih saya pikir BJ merasa cukup untuk teleponan dengan petugas. Tapi dia langsung memutuskan untuk pulang. Di benak dia langsung terpikir penipuan oleh orang-orang yang mengaku petugas PLN, yang melakukan pemerasan di tempat. Saya langsung meminta tiga petugas itu untuk menunggu BJ yang ternyata datang dengan seorang rekan kantornya. Di telepon tadi BJ berpesan, saya jangan menandatangani apapun.
Sesampai di rumah, BJ langsung mendapat penjelasan dari petugaa. Selanjutnya BJ yang menandatangani kopi berita acara hasil pemeriksaan warna pink (foto di atas) sebanyak tiga lembar. Berkas ini yang besok harus dibawa saat datang ke PLN cabang Deli Tua. Atas permintaan kami, sore itu listrik tidak diputus. Tapi meteran dibawa.
Sore itu juga BJ menelpon Ibu SN. Berhubung ibu SN besok tak bisa ikut ke PLN, beliau minta tolong kami yang mengurus. Saat ini kami dalam posisi belum mengerti apa nih yang aka terjadi besok. Tapi tadi sempat googling, urusan begini dendanya memang bisa jutaan.
Ihiksss....
Apapun yang terjadi besok, mudah-mudahan ibu SN selaku empunya rumah kooperatif. Lha masa kami selaku pengontrak yang harus bayar? Sementara di rekap data rekening, perusakan meteran sudah terjadi jauh sebelum kami tinggal. Tapi jangan-jangan, ibu SN juga tak tahu menahu karena memang rumah ini hanya dikontrakkan, tidak beliau tinggali. Masalahnya, soal ini berbeda dengan air dulu. Tagihan air yang melonjak sudah diketahui sejak sebelum kami mengontrak dan si ibu sudah berjanji menyelesaikan. Sementara yang ini, si ibu bilangnya juga tak tahu menahu.
Ah entahlah...berdoa saja persoalan tidak menjadi rumit. Next saya cerita gimana lanjutannya...
Yang pasti ini pelajaran banget. Jika hendak mengontrak atau membeli rumah, ada baiknya meminta petugas PLN mengecek meteran listrik. Mungkin sedikit ribet dan kayak kurang kerjaan. Tapi daripada ada kejadian seperti ini, atau yang saya baca di artikel hasil googling : pengontrak dan pembeli rumah harus menanggung denda jutaan gara-gara penghuni sebelumnya/pemilik rumah tak mau tahu.
Sayangnya, saya baru membaca itu setelah ada kejadian ini :D


Komentar

  1. Duh, mbak. Ikut prihatin sama kejadian ini. Makasih infonya. Siapa tau bener2 kebeli rumah di daerah permata hijau kan ya? (Hahaha, mimpi), jd pengalaman ini bs jd pegangan buat aku. Semoga urusannya cepat selesai dan ga merugikan mbak lisdha ya. Amin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Trimakasih ya ratih. Puji Tuhan empunya rumah baiik kayak Empunya Blog hehehe... nambahi amiin lagi untuk rumah di permata hijau yaaaa ^-^

      Hapus
  2. Iya bener, air sama listrik itu hal yg harus dicek sebelum memutuskan milih rumah, apalagi rumah bekas alias udah ditinggali.. kalo aku dulu pertama tinggal di rumah yg masalah airnya, jadi airnya gak nyala tapi meterannnya muter terus, kena deh tagihan sekian juta >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah..pernah kejadian gitu ya mbak Meriska. Air kemarin juga masalah. Tapi Puji Tuhan yang punya rumah kooperatif dan memang masalah air sudah diketahui sejak kami belum nyewa sih..

      Hapus
  3. Wah dulu gak kepikiran ngecek hehe. TFS jadi tahu :D

    BalasHapus
  4. Nyebelin juga, ya, Mbak kalau terjadi seperti itu? Harus lebih waspada kalau mau mengontrak nih. :( Kalau tetangga saya dulu kasusnya saluran airnya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. dan ngeceknya oleh petugas PLN..hehehe rada ribet yaa.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?