Raport Tanpa Rangking

Akhir pekan lalu, Al mengakhiri sekolah taman kanak-kanaknya yang ditandai dengan seremonial perpisahan di sekolah. Acara perpisahannya berjalan lancar dan ceria, khas acara anak-anak. Tapi ada yang tak enak di luar acaranya, yakni protes beberapa orangtua murid karena si anak nggak dapat rangking. Ada yang sampai SMS guru dan ingin bertemu langsung dengan pihak yayasan.

Waduuuh...

Mungkin bukan cerita baru yaaa... Di mana-mana dan sejak lama,  ada saja cerita orangtua yang tidak puas dengan penentuan rangking si anak oleh gurunya. Mereka golongan orangtua yang kemudian protes kepada guru/pihak sekolah karena merasa anaknya tuh pandai lhooo. Kok bisa sih nggak juara?

Sebagian lain bukan menyalahkan guru, tapi memarahi si anak. Menaruh cap bodoh pada si anak. Mengatakan si anak tidak melakukan hal yang sepadan dengan perjuangan orangtua mencari biaya sekolah.

Waduuuuh...

Tidak menutup mata. Mungkin memang ada kasus di mana siswa di-cing, didiskriminasi karena persoalan pribadi/subyektif si guru. Diskriminasi yang mungkin membuat siswa tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.

Mungkin yaaa... saya bilang mungkin karena tidak punya data, belum pernah mengalami sendiri, atau mengetahui secara langsung sebuah kejadian seperti itu.

Balik ke raport yang bikin ketidakpuasan para ortu, saya jadi ingat lagi deh artikel-artikel yang dulu pernah saya baca, yakni tentang raport tanpa rangking. Yaiii...walau sudah banyak sekolah yang menerapkan, tetap saja ini masih antimainstream. Karena mainstream-nya masih pakai rangking!

Temen-temen lebih setuju yang mana?

Kalau saya pribadi sih cenderung pro ke rapor tanpa rangking. Mungkin karena otak saya sudah telanjur tercuci oleh teori "kecerdasan majemuk". Saya percaya setiap anak punya kecerdasan dalam suatu hal. Jadi kalau dirangking, dia pasti punya peringkat bagus dalam suatu materi penilaian.

Teringat sebuah ilustrasi di sebuah buku parenting. Yakni ketika monyet, kelinci, dan burung harus berlomba memanjat. Siapa yang juara? Tentu si monyet. Tapi kalau lomba terbang, siapa pemenang? Jelas si burung. Beda lagi kalau lomba menggali tanah? Siapa yang nomer satu? Tak lain si kelinci.

Coba yaa..semua poin penilaian dibuat perangkingan masing-masing, pasti semua anak dapat rangking. Bahkan anak yang masih tampak paling tertinggal sekalipun dibandingkan teman-temannya, bisa jadi dia tetap punya sebuah keunggulan. Masa sih "anak bodoh" itu sepenuh-penuhnya bodoh, tak ada satupun keunggulannya?

Atau jangan-jangan masih berpegang, buat apa pintar menyanyi tapi tidak bagus dalam sains? Juara mata pelajaran ketrampilan tapi jeblok di matematika? 

Padahal, suatu saat nanti, teman-teman para sarjana sains akan melakukan standing ovation saat si temen-yang-bodoh-di-sains-tapi-pandai-menyanyi ini mengakhiri suatu konsernya. Atau kelak para ahli matematika akan memburu karya craft si teman-yang-dulu-jeblok-di-matematika-tapi-keren-di-pelajaran-ketrampilan.

Lagipula, buat anak-anak, apa iya rangking itu sedemikian penting? Paling-paling bangga sesaat ketika menerima piala, habis itu main-main lagi seperti biasa. Anak-anak yang nggak dapat rangking pun, mungkin ada yang nangis sesaat ketika temannya maju menerima piala. Habis itu juga main-main lagi as usual.

Jangan-jangan rangking ini bukan untuk kepentingan anak, tapi lebih untuk kebanggaan orangtua. Siapa yang tak bangga kalau ikut diminta maju dan berfoto bersama anak memegang piala? Bukti bahwa sebagai orangtua, kita berhasil mendidik anak atau karena kita memiliki "kekayaan" berupa anak yang nilai akumulatifnya lebih dari yang lain?

Mungkin ada pendapat bahwa pemberian rangking  di rapor melatih anak untuk lebih kompetitif. Iyakah? Sepanjang pengalaman dan pengamatan yang terbatas, kok kejadiannya nggak seperti itu.  Dominasi rangking kelas biasanya itu-itu saja. Jarang-jarang ada rising star yang tadinya rangking bawah terus mencuat ke papan atas. Geser-gesernya biasanya nggak jauh-jauh amat. 

Walhasil cap pintar atau bodoh seolah permanen selama anak menempuh pendidikan. Tragisnya, "anak-anak bodoh" biasanya bukan berjuang untuk menjadi "anak pintar", tapi mencari perhatian dengan menjadi "anak nakal".

Saya membayangkan sebuah acara pelepasan anak-anak, di mana masing-masing anak mendapat peringkat bagus sesuai keunggulannya. Anak-anak senang karena menjadi juara. Orangtua puas karena tahu anaknya punya sebuah kompetensi yang layak dikembangkan.

Ya sih, mungkin agak lebih ribet dalam praktiknya. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.













Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?