Bahagia dan Sedih

Semua orang ingin bahagia. Ya nggak sih? Bahagia dengan pengertian masing-masing, dengan usaha masing-masing. Segala apa yang dilakukan, muaranya adalah agar bahagia.

Pun denganku. Mungkin aku bahkan agak-agak terobsesi untuk menjadi bahagia. Sampai-sampai, di situasi yang meyedihkan pun, aku berusaha menjumput-mengorek-mengais hal-hal yang sekiranya bisa membuatku tetap merasakan bahagia. Atau mungkin istilah yang lebih tepat adalah : tidak terlalu dalam tenggelam dalam kesedihan.

Aku ingat sewaktu Elo sakit dan opname lebih dari seminggu di rumah sakit. Saat itu sedihnya bukan main. Dengan segenap hati aku meyakini "mantra" bahwa selalu ada hal indah yang bisa dijumput di sela kekacauan. Mungkin ini bisa dibilang sebagai sugesti atau iman atau pengharapan. Apalah itu, yang pasti itu adalah kata-kata agar aku tak sedih terlalu dalam.

Rrrrr...malam ini tiba-tiba teringat pikiran lama. Sebenarnya, sedih itu tak masalah lho. Kesedihan, dalam dosis yang tidak over justru adalah penikmat kebahagiaan.

Siapa bisa mengerti arti manis kalau tak pernah merasakan pahit. Siapa bisa menjelaskan panas kalau belum tahu apa itu dingin. Mereka yang terkena kemarau panjang adalah orang-orang yang akan begitu bersukacita merasakan hujan.

Yaah... jadi tak perlu kecil hati jika diizinkan mengalami situasi menyedihkan. Berdoa saja agar kesedihannya tidak berkembang-biak, menyebar ke mana-mana, menggerogoti benteng-benteng kegembiraan hidup. Kesedihan dan kebahagiaan adalah keniscayaan yang beriringan, yang menjadikan kita dewasa dari waktu ke waktu.

#NgingetinDiriSendiri



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?