06/02/16

Panduan Membuang Sampah Pospak

Ilustrasi sampah pospak. Gambar pinjam dari SINI


Masih nulis tentang popok nih. Ini satu dari dua tulisan (lagi) tentang popok. Padahal tak  ada  rencana mau nulis serial tentang popok loh. Tapi ide muncul begitu saja gara-gara setelah posting tulisan kemarin, saya jadi googling tentang sampah popok sekali pakai (pospak). Hihi, terbalik yaa... menulis dulu baru cari referensi :D.

Di berbagai artikel disebutkan jika sampah pospak termasuk sampah yang sulit diuraikan. Butuh waktu ratusan tahun bagi alam untuk menguraikan sampah jenis ini. Tapi melihat kondisi saat ini, rasanya sudah sangat sulit (kalau tak mau bilang mustahil) untuk menghentikan produksi sampah pospak ya... Selama masih ada kelahiran bayi, rasanya masih akan ada sampah pospak. Saya saja belum sepenuh-penuhnya bisa tidak menggunakan pospak. Baru sebatas meminimalisasi penggunaannya.

Parahnya, sampah tak hanya mencemari lingkungan, tapi juga pemandangan. Saya sering lho mendapati sampah pospak terserak di jalanan. Mending kalau di sampah pospaknya hanya ada urine dan relatif kering. Kadang ada lho sampah pospak yang kewer-kewer di jalan masih ada (maaf) pup-nya. Yieksss...... 

Temen-temen pernah mengalami hal serupa? Berbahagialah jika belum/tidak pernah. Kebetulan, di lingkungan tempat tinggal saya banyak terdapat anjing. Jadi kemungkinan besar, itu sampah pospak berceceran sampai jalan karena digondol anjing dari tempat sampah.

Tapi apa sepenuhnya salah si anjing? Namanya anjing, sepertinya memang selalu tertarik dengan tempat sampah ya.. (entah kalau anjing trah bangsawan ^-^). Seperti sudah fitrahnya untuk selalu mengendus-endus kumpulan sampah walau sudah diberi makan sama si empunya. 

Pencemaran pemandangan seperti di atas tentu bisa diminimalisasi jika para pengguna pospak (termasuk saya tentunya) sopan dalam membuang sampahnya. 
Saya sendiri, selain meminimalisasi penggunaan, juga berusaha mengurangi sampah pospak dengan cara membakarnya. Tapi ini hanya berlaku bagi sampah pospak yang masih relatif kering (belum banyak urine-nya). Selain itu, situasi tempat tinggal saya memungkinkan untuk melakukan pembakaran sampah kering. Selain ada halaman belakang dan para tetangga yang toleran, di sekitar rumah juga masih banyak pohon hijau yang mengurangi polusi akibat pembakaran.  

Sebenarnya ibu mertua tidak setuju pembakaran sampah pospak ini. Konon katanya bisa mengakibatkan kulit bayi suluden. Entah seperti apa penyakitnya, saya juga belum pernah lihat. Tapi karena kulit Ale-Elo tak pernah bermasalah dengan pembakaran sampah pospak ini, ya saya lanjut saja #menantubandel. Sepertinya suluden ini cuma mitos yaa..

Tapi tak semua rumah tangga memiliki lahan untuk pembakaran, juga tetangga yang toleran. Mau tak mau, sampah pospak harus dibuang. Nah, supaya tidak terjadi hal-hal tidak menyenangkan akibat sampah pospak, bisa nih ikuti panduang berikut. Poin-poinnya saya modifikasi dari website Fitti (salah satu merk pospak) :
  • Sebelum membuang popok, lebih dulu bersihkan kotoran yang ada. Ingat, popok bukan kloset. Jijai kan kalau lihat sampah terserak masih lengkap dengan kotorannya? #pertanyaanretoris
  • Jangan buang di kloset, bikin mampat. Kecuali kalau klosetnya punya teknologi tinggi yang bisa memproses sampah pospak.
  • Gulung dan kemas sampah pospak sebelum dibuang. Akan lebih baik jika dikemas dengan rapat dan kuat, misalnya dengan kantong plastik. Selain tidak mencemari pandangan, bisa menyulitkan binatang yang suka mengorek-orek sampah pospak.
  • Jika tersedia, cari tempat sampah yang sesuai. Beberapa tempat menyediakan tempat sampah khusus untuk pembalut dan popok. Membuang pada tempat yang sesuai akan membantu penanganan sampah pospak di tahap selanjutnya.
Rasanya, panduan di atas bukan hal yang sulit ya... Tapi kok masih banyak sampah pospak berceceran? Yang sulit memang bukan cara-nya. Tapi sepertinya lebih karena kesadarannya, niatnya, mentalnya :D. 

Kalau di tulisan ini kita sekedar baca tentang "cara membuang", selanjutnya saya akan menulis tentang cara daur ulang sampah pospak. Tunggu ya....


6 komentar:

  1. Mitos itu mkg perpanjangan dari kepercayaan bahwa kita ga boleh terlalu panas setrika baju bayi. You know lah, wong temanggung akeh critane to?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang nggak boleh mertuaku dr klaten mbak..klaten tmg msh deket he2.

      Hapus
  2. Bener mba.. aku juga masih sering melihat sampah pospak berserakan di jalan. Entah karena ibu/ pengasuh yang kurang informasi atau bagaimana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. entah ya mbak..kok kalau saya merasa ya itu tadi, tau sih tau, tapi kurang kesadarannya :(

      Hapus
  3. Di sini mah gak di jalan, tapi banyak yang di sungai, karena mitosnya sih gak boleh dibuang sembarangan, harus di sungai. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama kayak bu mer-ku tuh mbak..harus dibuang di sungai :D

      Hapus

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler