Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?



Sepertinya kebanyakan ibu-ibu kenal sama jenis popok satu ini ya... Saya sendiri menyebutnya popok-tali-dua, merujuk adanya dua tali pengikat di sebelah sisi popok. Teman-teman menyebutnya popok apa?


Saya mulai menggunakan popok ini setelah Ale lahir. Iya lah...kalau belum punya bayi, buat apa kain macam gini? Hihihi. Berguna bangeeet buat newborn yang frekuensi pee (pipis) dan pup (buang air besar)-nya masih sering. Walau ada popok sekali pakai (pospak) maupun cloth diaper yang didesain untuk newborn, saya tetap pilih popok tali dua dengan alasan frekuensi pee dan pup tadi. Masih sering pee dan pup, kalau pakai popok sekali pakai jadi banyak sampah. Dan saya itu kok gimanaaaa gitu sama sampah popok sekali pakai. Kalau bisa sih seminimal mungkin memproduksi sampah jenis ini. Sedangkan kalau pakai cloth diaper, ribet nyucinya. Terutama untuk noda pup bayi yang daya lekatnya hebat itu. Kan cloth diaper nggak bisa dicuci seperti kebanyakan kain. Dalam hal noda kuat, cloth diaper nggak bisa pakai sembarang sabun, apalagi pemutih.


Selain itu kulit newborn masih sangat rentan. Walau tidak telat ganti pospak/cloth diaper bisa saja kulitnya terkena ruam. Maka itu untuk bayi baru lahir, bagi saya popok tali dua tetap juara.


Etapi, sampai usia berapa anak dipakaikan popok tali dua?





Dulu pas bayi Ale, si tali dua ini cepet pensiunnya. Seingat saya, begitu dia bisa pakai celana pendek model kacamata (lubang kaki tampak di depan), si tali dua sudah saya masukkan lemari. Jadi kira-kira dia pakai tali dua cuma sampai umur kurang lebih enam bulan. Beda dengan si adek. Elo lebih lama pakai tali dua. Saat saya nulis ini (umur Elo tepat 1 tahun 5 bulan), dia masih saya pakaikan tali dua. Si popok ini saya fungsikan sebagai celana dalam. Berhubung anaknya mungil, jadi si tali dua masih muat-muat saja di body-nya.


Ada nggak sih aturan pakem-nya, sampai usia berapa bayi memakai tali dua?


Kalau di saya, beda anak beda penerapan karena insting saja hahaha. Pengalaman dulu si Ale, tanpa tali dua ketika belum lulus toilet training itu bikin jorok kalau pas pup. Kalau siang hari di rumah, saya memang memilih untuk tidak memakaikan pospak/cloth diaper (kecuali kasus khusus). Berhubung cuma pakai celana pendek yang longgar lubang kakinya dan belum pakai celana dalam, jadi deh kalau pee, pipisnya meluncur sampai lantai/kasur. Lantai basah memperbesar potensi terpeleset bagi si bocah yang ketrampilan jalannya pun masih dalam fase penyempurnaan. Parah lagi kalau pup, kadang fesesnya sampai jatuh. Iiiihhhhhh....


Kok ya dulu nggak kepikiran untuk nggak cepat-cepat memensiunkan si tali dua ya? Sebab, dengan memakaikan tali dua sampai usia sekarang, potensi terpeleset dan kejadian jorok seperti di masa lalu sangat minimal.


Ketika pipis, ada dua lapis kain (yakni kain tali dua dan kain celana) untuk media rembesan si urine. Jadi si urine tidak sampai mbleber ke lantai. Sedangkan ketika pup, feses juga tertahan di kain tali dua yang lekat ke pantat bayi sehingga tidak jatuh-jatuh. Dan kalau pup, melepasnya pun gampil. Tinggal buka ikatannya, lalu lepas. Sempat sih terpikir cari celana dalam buat Elo. Tapi ada nggak sih celana dalam yang ukurannya SSS?


Memang sih, dengan pergerakan bocah yang sudah aktif jalan kesana-kemari, agak ribet memakaikan tali dua ini. Karena ikatannya baru bagus kalau dipakaian dengan posisi bocah telentang dan tenang. Tapi menimbang manfaatnya, rasanya saya belum ingin mengakhiri kerja si tali dua ini.

Komentar

  1. aku mah cuman 2 minggu, mbak. capek nyucinya *dasar ibu2 pemalas, hehehe...

    BalasHapus
  2. Soalny ada si embah tukang cuci mam audi...kalo ga da mungkin dua minggu doang juga hahahaha

    BalasHapus
  3. Soalny ada si embah tukang cuci mam audi...kalo ga da mungkin dua minggu doang juga hahahaha

    BalasHapus
  4. Aku cuma beberapa minggu aja, langsung pensiun deh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. berarti aku agak rekor ya mbak anisa ha2..

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi