20/12/16

Serenity Prayer


Satu gambar bisa mewakili sejuta perasaan. Dan ini gambarku hari ini. Gambar yang tadi aku ambil dari pinterest. 

29/10/16

Selamat Hari Sumpah Pemuda, Teman-Teman...

pic : google doodle

Kemarin pas blogwalking, ketemu artikel tentang sumpahpemuda di blog Mbak Irawati Hamid. Di salah satu bagian tulisan, Mbak Ira mengenang masa sekolah dulu. Tiap peringatan hari Sumpah Pemuda, ada 54 siswa-siswi yang dipilih untuk berbusana daerah. Mereka tampil  berpasangan mewakilii 27 provinsi di Indonesia (waktu itu masih 27 provinsi).  Mbak Ira pengin ada dalam kelompok itu, sayangnya tak pernah terpilih (cup cup cup Mbak Ira)

Gara-gara tulisan Mbak Ira, saya jadi merefleksi diri sendiri, “apa ya yang saya ingat dari seremoni peringatan Soempah Pemoeda?” Saya  berusaha mengubek-ubek file ingatan saat upacara, dari zaman seragam putih merah, putih biru, sampai putih abu-abu,... tapi NIHIL!  Terlalu nggak sih? Hihi, mungkin karena dulu nggak terlalu suka upacara. Kalau pagi-pagi hujan terus nggak ada upacara, rasanya seneeng ^-^. Giliran sekarang kadang ada perasaan kangen kalau lihat upacara hahaha.

Memang, segala-gala yang jadi seremoni rutin, kadang jadi mengalami degradasi makna. Rasa-rasanya sih, dulu saya tak merasakan makna dan pentingnya sumpah pemuda berdasarkan pengalaman pribadi. Sumpah pemuda hanya terasa sebagai ide yang "tinggi". Masterpiece para pemuda dan pemudi pada masanya, yang sekarang sih nggak terlalu relevan lagi. Lah kita sudah merdeka dari penjajah Belanda dan Jepang. Terus hari gini, nggak zaman lagi negara satu menginvansi negara lain seperti masa perang dunia. Kalau ada pertanyaan tentang makna sumpah pemuda di ulangan harian atau ujian, maka jawaban saya adalah normatif berdasarkan pelajaran Sejarah atau PSPB (yang tahu pelajaran ini pasti sudah usia emak-emak/bapak-bapak deh ^-^).

Pemahaman dangkal seperti itu tak bisa sepenuhnya disalahkan sih. Pertama, saat itu memang masih usia anak-anak/remaja dengan pengetahuan yang lebih terbatas dibandingkan usia sekarang. Kedua, di masa itu, saya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang relatif homogen dari sisi suku. Sedikitnya relasi dengan orang-orang dari suku lain menyebabkan minimnya kasus nyata dalam kehidupan sehari-hari. 
pic : www.kochiefrog.com
Bertambah umur, juga tinggal berpindah-pindah (walau baru sedikit bagian wilayah Indonesia) membantu saya memahami pentingnya Sumpah Pemuda di masa kekinian. Saya ingat percakapan via Whatsapp dengan seorang mantan teman kerja (sebut saja Mbak Y) beberapa bulan lalu. Saat itu saya bercerita tentang kesulitan kami mendapatkan rumah kontrakan di Medan. Ada dua atau tiga kali kejadian di mana kami sudah merasa cocok dengan rumah yang kami lihat. Namun, tak terjadi deal karena perberdaan agama kami dengan si empunya rumah.

Kebetulan, dulu ketika kami masih sama-sama bekerja, saya pernah hampir satu kost dengan Mbak Y. Saya sudah deal dengan pemilik kost, bahkan sudah memasukkan kasur dan beberapa barang. Namun, tak sampai hitungan minggu, si empunya kost meminta maaf pada saya. Dia meminta saya batal kost di situ karena beberapa penghuni kost keberatan karena perbedaan agama saya.

Rrrr... sakit hati? Mengeluh-memaki?

Syukurnya tidak. Puji Tuhan saya boleh memahami perbedaan sikap orang per orang. Perilaku satu atau beberapa orang tak lantas mencerminkan keseluruhan ajaran yang dianut. Lagipula, menolak seseorang dari agama lain tinggal di rumah kita bisa jadi juga karena yang bersangkutan sebelumnya pernah punya pengalaman buruk. Pengalaman buruk yang berulang bisa membuat seseorang menggeneralisir sesuatu.   Perlu dipahami kalau penerimaan dan pemahaman tiap-tiap orang (yang seagama sekalipun) bisa berbeda-beda.

So tak perlu lah langsung menghakimi dan merasa sakit hati. Toh, di dunia ini banyak orang (mungkin termasuk saya) yang masih hidup dalam stigma negatif terhadap orang lain. Padahal namanya stigma, belum tentu kebenaran detailnya.

Obrolan dengan Mbak Y berlanjut sampai ke urusan suku. Bersyukur sih, sekarang (dan semoga seterusnya) tak ada lagi konflik besar antar suku seperti yang dulu-dulu pernah terjadi.  Meski demikian,  sentimen kesukuan itu masih ada saja lho. 

Kalau tak salah ingat nih, Mbak Y cerita bagaimana dulu seorang pemilik kost (yang adalah orang Aceh) tak mau menerima penyewa kamar dari Jawa. Soalnya dulu dia pernah punya pengalaman tak menyenangkan dengan seorang penghuni kost bersuku Jawa. Kapan hari, saya juga membaca resensi sebuah film pendek tentang kesulitan mahasiswa asal Papua mencari kost di Jogja.  Sebuah foto di facebook juga memperlihatkan pengumuman di sebuah kost yang menolak calon penghuni dari Palembang. Dan ini dibenarkan tetangga dekat saya yang berasal dari Sumatera Selatan. Stigma buruk tentang suku/orang Palembang membuat dia sering langsung mengaku dari Muara Enim. (Ya memang aslinya orang Muara Enim sih, tapi sebagian kita kalau berkenalan dengan “orang jauh” kan pertama-tama menyebut ibu kota provinsi dulu sebelum kota asal... ya nggak? ^_^)

Bersyukurnya, meski dulu tinggal di lingkungan yang nyaris homogen Jawa, tapi saya diberi kemampuan untuk beradaptasi dengan suku-suku lain. Terlebih ketika kemudian sempat tinggal di lingkungan sangat santai dalam urusan suku-menyuku ini. Dengan teman-teman kerja dulu, biasa aja tuh saling ledek dengan membawa-bawa suku. Seperti misalnya dulu saya pernah diejek begini nih :

“Kamu ini cantik tapi kasihan deh..”  (iih...ini pasti enak di depan nggak enak di ujungnya :D)
“Emang kenapa kasihan?”
“Karena kamu Jawa.”

Weeeeew.... emangnya saya bisa milih lahir jadi suku apa, bangsa apa? Hehehehe.

Dulu sih sering bercanda-bercanda membawa-bawa SARA dan nggak pakai baper. Tapi yesss, becanda begini harus lihat-lihat tempat, waktu, dan dengan siapa bercanda. Salah-salah malah kena pasal pidana :D. (Atau, kalau nggak mau risiko, ya mending hindari bercanda macam begini).

Saya dan Mbak Y sepakat bahwa sebenarnya Indonesia ini tinggal dalam kerentanan kerukunan. Keragaman suku budaya dan agama seperti layaknya gunung berapi. Cantiiiik tapi punya potensi bahaya. Bahaya yang mesti diantisipasi dari berbagai sisi. Saya nggak bisa membayangkan andai ikatan-ikatan persatuan itu lepas bebas. Lalu di negeri ini terjadi perang yang luas dan berkepanjangan. Cerita derita yang biasanya hanya kita lihat di tayangan berita.

Kalau saya perlu waktu lama untuk merasakan pentingnya sumpah pemuda, bagaimana ya nanti dengan anak-anak saya?

Mudah-mudahan sih prosesnya lebih cepat. Sebab, tinggal di daerah yang jauh dari tempat asal membuat anak-anak lebih cepat melihat dan merasakan keragaman. Sewaktu TK di Siantar, Ale harus ikut menari tor-tor Batak saat kelulusan. Saat ini di Medan, Ale bisa berinteraksi cukup dekat dengan seorang tetangga Tionghoa. Bagi saya, ini membantu dia melihat bahwa keragaman adalah fitrah yang layak disyukuri. Sumpah pemuda memang ide yang "tinggi", tapi selalu relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


  
  
  
  



  
  
  

  

21/10/16

Abang Mas Ale

Dulu saya pernah menulis tentang pilihan panggilan sebelum nama. Lupa kapan tepatnya menulis itu. Mungkin saat menjelang Elo lahir atau bahkan sesudahnya. Saat itu saya "merencanakan" awalan panggilan dari adik Elo pada Ale. Perihal beginian kan biasanya ajaran dari orangtua juga yaa.... bagaimana anak memanggil si ini si itu... Biasanya sih disesuaikan dengan urutan umur dan atau silsilah dan satu lagi, kebiasaan/kebudayaan.

Lupa euy.... nulisnya di blog ini atau di blog satunya yang tulisan-tulisan lamanya sudah saya hapus semua, lalu saya ganti dengan tulisan-tulisan baru.

#selain lupa, saya juga tak tergerak untuk mencarinya dengan ngubek-ubek daftar tulisan atau pakai search engine hehehe#

Intinya sih, dulu memilih untuk membiasakan Elo memanggil dengan sebutan "mas" pada Ale, bukannya "abang" seperti kelaziman di Siantar, atau "kakak" sebagai kata yang umum dalam bahasa Indonesia. Kenapa? Alasannya adalah kebiasaan atas dasar kesukuan.... hehehe, meski seringkali merasa "tak lagi terlalu Jawa" (terutama ketika berhadapan dengan aneka adat istiadat), ternyata sisi primordial itu tetap ada ^_^

Sewaktu di Siantar, bahkan juga sekarang di Medan, memanggil dengan sebutan "mas" memang terasa seperti meneguhkan identitas kesukuan. Padahal maunya bukan begitu loh... dengan semangat bhineka tunggal ika, tak semestinya mengedepankan kesukuan ya kan...

Waktu itu saya hanya berpikir, kalau kelak kami balik tinggal di Jawa atau kalau pas kami pulang kampung ke Jawa, pasti jadi aneh kalau Elo memanggil Ale dengan sebutan "bang.."  Sok yakin banget bahwa kelak kami akan kembali ke tanah asal (kalau kembali ke tanah -ga pakai asal- sih sudah pasti ya....). Sementara, kalau dipikir-pikir sekarang, kayaknya malah entah kelak kami pulang menetap di kampung asal, entah tidak. Saya dan suami tidak (atau belum?) berani membuat rancangan soal ini.

Kok pilih mas, bukan kang? Di Jawa Tengah kan biasa juga tuh panggilan kang.... iya sih, tapi di lingkungan keluarga kami..terutama yang segenerasi dengan kami, sudah nggak biasa lagi menggunakan sebutan kang.

Kalau kakak? Ini panggilan yang nasional lah ya... teman saya di Wonogiri juga menyebut anak sulungnya yang laki-laki dengan kakak. Tapi ternyata dalam hal sebutan "kakak" saya terpengaruh kebiasaan kesukuan juga. Tapi bukan suku Jawa melainkan suku Batak. Sejauh yang saya tahu dalam interaksi dengan tetangga-tetangga dan teman-teman Batak, kakak dipakai untuk saudara (maupun bukan saudara) perempuan yang lebih tua, laiknya "mbak" dalam bahasa Jawa.

Di sini memanggil dengan sebutan "mas" saja sudah tak biasa. Tetapi memanggil si saudara laki-laki dengan sebutan "kakak", jelas lebih tak biasa, bahkan bisa menimbulkan kebingungan atas jenis kelamin anak ^_^

Dulu, ketika masih tinggal di Tanah Karo, pernah juga ada moment "salah paham" gara-gara sebutan kakak ini. Lupa deh, waktu itu ngobrol apa dan sama siapa. Pokoknya dalam sebuah percakapan, saya menyebut "kakak" dengan maksud saudara tua laki-laki teman ngobrol saya. Dia agak bingung, sampai kemudian dia bilang, "maksudnya si abang?" Ow ow... hiya yaaah...di sini kakak itu lebih spesifik untuk perempuan.

Jadi deh kami membiasakan diri dan akhirnya terbiasa memanggil Ale dengan sebutan mas Ale. Ini terutama kalau lagi ada Elo, maksudnya biar membiasakan dia...

Dan apakah si adek terbiasa memanggil Ale dengan mas Ale?

Kami belum tahu. Soalnya sampai usia dua tahun ini si adek masih belum bicara dengan kalimat. Si adek masih bicara dengan bahasa bayi. Sementara si Ale justru sering menyebut dirinya abang ke si adek. Rupanya dalam hal panggilan ini si Ale lebih terpengaruh lingkungan daripada pembiasaan orangtuanya. Sampai-sampai, terjadi double sebutan ketika beberapa tahun lalu, saat pulang kampung, Ale bermain-main sepupunya (anak kakak saya). Kami mengajari Ale memanggil sepupu ini dengan nama Mas Iel. Tapi rupanya Ale memanggil Iel dengan nama Abang Mas Iel.....^_^

Penasaran juga gimana nanti kalau Elo sudah bisa bicara, dia akan memanggil Ale dengan sebutan mas Ale atau abang Ale atau abang mas Ale ^_^

Kalau ternyata dia memanggil mas, berarti pembiasaan kami berhasil. Tapi kalau ternyata memanggil abang, ya nggak apa-apa sih. Mungkin malah jadi warna Indonesia di keluarga kami.

Eh tapi jadi penasaran loh... apa aja ya variasi panggilan untuk saudara  kandung laki-laki dan perempuan di seantero nusantara ini. Terdiri dari buanyak suku dan bahasa, Indonesia pasti kaya soal ini.

18/10/16

Periksa Meteran/Instalasi Listrik Anda (Part 2)

Hasil gambar untuk mencuri listrik itu haram
Pic : www.ardikaya.wordpress.com

Nyambung cerita beberapa hari lalu:

Pada Jumat (14/10) meteran sudah kembali dipasang. Buat yang males buka link, saya flashback singkat : pada Selasa (11/06), rumah kontrakan kami didatangi petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Dari hasil pemeriksaan, KWh-meter (meteran) kami dinyatakan diperlambat. Akibatnya, sore itu juga petugas membawa meteran kami ke kantor PLN Deli Tua. Plus, esok harinya kami harus mengurus masalah itu ke sana.

Sore hari itu, suami saya (BJ) langsung menelpon ibu S, selaku pemilik rumah. Berhubung ibu S bekerja, maka esok harinya beliau tidak bisa ikut ke kantor PLN. Ibu S minta tolong suami saya menguruskan masalah ini sembari minta dikabari perkembangan informasi. Suami saya berangkat cukup gasik ke kantor PLN. Tapi sampai siang belum memberi kabar sehingga saya tanya via Whatsapp.

T : Bisa senyum atau gawat nih?
J : Gawat. Ntar sore/malam kita ke rumah Bu S

Wedewww.... gimana nih gawatnya? Tapi saya nggak ngejar cerita detail via WA. Toh ntar sore pasti diceritain. Dan beneran memang gawat : perusakan KW-h meter itu mengakibatkan denda Rp 10.5 juta.

Weiksssss.....

Lebih gawat lagi kalau kami harus membayar. Sementara posisi kami hanya sebagai pengontrak yang baru empat bulan menghuni rumah. Sore itu juga kami ke rumah bu S menyampaikan berita ini. Bu S juga shock melihat besaran angka yang tertera di “surat cinta” dari PLN. 

Saya sih percaya kalau bukan ibu S yang merusak meteran. Sebab, ibu S tidak pernah mendiami rumah ini, artinya ibu S tidak ada masalah dengan besarnya tagihan PLN. Kalau pas kosong (tak ada yang mengontrak), ibu S tinggal bayar biaya bebannya saja. Apa untungnya ibu S merusak properti sendiri? 

Ditilik dari kronologisnya, tagihan tak wajar bermula dari tahun 2015. Itu adalah penghuni sebelum kami. Tapi ibu S pun tak bisa memastikan siapa pelakunya. Sebab di kurun waktu itu, ada nama pak B selaku pengontrak resmi. Namun, oleh pak B, kontrakan dialihkan ke orang lain tanpa memberi tahu ibu S terlebih dulu.  

Parahnya lagi, kata bu S, si penghuni terakhir itu juga pergi sembari meninggalkan tagihan air sebesar Rp 350 ribu. Duuuh... siapa yang nggak jengkel kalau ketemu kejadian kayak gini?  Pelajaran banget nih, mana tahu suatu saat punya kontrakan. Haha, punya rumah aja belum sudah ngayal punya kontrakan *ngayal mah sah-sah saja ^-^*

Petang itu juga kami ikut Bu S ke rumah Pak T, seorang pegawai PLN. Mana tahu Pak T bisa menolong, memberikan cara agar denda lebih ringan. Atau setidaknya kasih pencerahan, mesti gimana. Kami masih sama-sama blank soal ini.

Ternyata soal denda, Pak T nggak bisa menolong. Menurut Pak T, sekarang-sekarang ini PLN memang sedang gencar-gencarnya melakukan razia pelanggaran pemakaian listrik. Ditambah lagi, mulai dari razia hingga pengurusan di kantor PLN juga diawasi. Jadi, sulit untuk menyiasati perkara ini. Apalagi di saat-saat gencar razia pungutan liar seperti hari-hari ini. Satu-satunya cara ya harus membayar denda. 

*Ya memang sih, kalau sudah niat cari celah, mungkin bakalan ketemu juga meski risikonya cukup tinggi.*  

Puji Tuhan, ibu S memilih jalan yang lurus saja. Menurut Pak T, besaran denda tak hanya dihitung dari besarnya tagihan dan lamanya pelanggaran seperti dugaan kami. Tapi juga dihitung dari besaran daya terpasang dan tipe pelanggaran. Sekalipun baru mencuri selama satu bulan, kalau pelanggarannya dianggap berat, dendanya tetap besar.

Hari Kamis-nya, BJ dan bu S ke kantor PLN. Di sana akhirnya dicapai kesepakatan, pembayaran denda dilakukan secara mencicil. Pembayaran pertama (bulan ini) Rp 3,5 juta. Sisanya dicicil selama 10 kali dengan cara terikut dalam tagihan rekening listrik.  Tanggung-jawab penuh ibu S selaku pemilik rumah membuat saya simpatik terhadap beliau. Dalam beberapa kasus yang saya baca, ada lho pemilik rumah yang tak mau tahu ketika terjadi persoalan seperti ini.

Sebelum ini, saya nyaris tak peduli berita tentang pelanggaran pemakaian listrik. Satu-satunya berita pelanggaran pemakaian listrik yang saya masih ingat hanyalah kasus Daeng Azis. Itu loh, mantan jawara Kali Jodo, Jakarta. Tahu masalah itu juga karena berita penertiban Kali Jodo waktu itu kan lumayan ramai. Akibat pelanggaran listrik, Daeng Azis dipenjara dan dikenai denda ratusan juta rupiah. 

Tapi kalau belum kena sendiri mah baca berita/dengar juga sambil lewat saja. Gara-gara masalah ini, jadilah saya googling, baca sana-baca sini. Weiiih, ternyata buanyak banget berita soal penertiban listrik. Saya-nya saja yang selama ini nggak pernah perhatian *belum kena masalah sih*. Bahkan, setelah posting tulisan pertama, seorang teman lalu cerita kalau kantor suaminya juga barusan kena razia P2TL. Dendanya Rp 64 juta!Fiuuuuuh... Di artikel lain, denda pelanggaran listrik bisa sampai angka miliaran rupiah!! Ini sih bukan pengguna listrik untuk rumah tangga, tapi listrik untuk usaha.


Salah satu artikel sharing yang menurut saya cukup mencerahkan ada di sini nih.  Si empunya blog, Mas Aswin, menceritakan mamanya yang kena denda Rp 11 juta. Tapi tak berhenti pada bete,  Mas Aswin rela bersusah-payah menelusuri dasar hukum P2TL. Bahkan beliau juga sudah bersiap melakukan judicial review atas aturan tersebut. (Namun judicial review batal diajukan karena mama Mas Aswin tak jadi dikenai denda)

Kasus pelanggaran listrik ini menjadi lebih rumit ketika penghuni rumah bukanlah pelaku perusakan meteran/instalasi. Jika semisal pemilik rumah/usaha memang adalah pelaku, ya sudah, itu mudah. Denda/pidana adalah konsekuensi dari tindakannya. Tapi bagaimana jika kasusnya seperti di kami? Dari kejadian kemarin kan, suami yang tanda tangan di berita acara razia. Lalu, kami diminta untuk diskusi dengan pemilik rumah. Bersyukur pemilik rumah bersedia menanggung denda sebagai konsekuensi kerusakan propertinya. Kalau semisal beli rumah second dan ternyata kemudian pembeli terkena denda gara-gara pelanggaran listrik yang dilakukan pemilik rumah sebelumnya??
m
pic : indonesia.coconuts.com
Dari sebuah artikel yang saya baca, ketika pemilik rumah sebelumnya tak peduli, mau tak mau pembeli rumah harus bertanggung jawab jika tak mau listriknya diputus. Dalam kasus seperti ini, pelanggan memang dalam posisi lemah. Sebab, listrik sudah menjadi kebutuhan primer dan hanya bisa disediakan oleh PLN. Memang sih ada beberapa perkecualian, seperti daerah tertentu yang menggunakan listrik tenaga alternatif atau daerah-daerah ekslusif yang punya pembangkit listrik sendiri. Kalau rumah tangga biasa, gimana coba menyediakan listrik secara mandiri? Berbeda dengan masalah air. Kalau air dari Perusahaan Air Minum diputus, kita masih bisa bikin sumur bor, misalnya.

Dari blog Mas Aswin ditulis, ada cara untuk melawan PLN di kasus ini, yakni  melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).  Lewat badan ini, beberapa penggugat menang atas perkaranya melawan PLN. Tapi yah, bagi sebagian orang, mungkin tak tahu atau merasa ribet untuk berurusan dengan masalah hukum seperti ini. Jadi terpaksa-lah membayar denda (rasanya nggak mungkin ya membayar denda dengan sukarela, apalagi sukacita :D).

Kalau ingin listrik tetap mengalir, denda tetap harus dibayar. Ini berbeda dengan kasus keterlambatan membayar. Di mana tiga bulan berturut-turut tak membayar, listrik diputus tanpa konsekuensi pidana (cmiiw). Sedangkan di kasus ini, berita acara di kertas warna pink adalah sekaligus sebagai pemanggilan pertama. Jika abai, akan ada panggilan selanjutnya. Jika masih abai juga, akan ada panggilan lagi. Lupa sih, berapa kali panggilan susulan. Pokoknya, kalau tetap mengabaikan urusan ini, maka masalah akan masuk wilayah pidana. (Ohh, makanya  Daeng Azis sampai masuk penjara..)

Jadi mengambil pelajaran gara-gara kejadian ini.

Pertama, walaupun banyak cara untuk mencuri listrik, lebih baik nggak usah deh. Memang sih, setiap bulan bayarnya irit. Tapi begitu kena razia, dueeeeng langsung deh denda guede. Belum lagi risiko kebakaran gara-gara instalasi listrik yang diutak-utik. Di atas alasan tersebut adalah poin penting yang sering kita ajarkan pada anak-anak : mencuri itu dosa ^_^


Kedua, jika dalam posisi  sebagai pengontrak/pembeli rumah second, ada baiknya memeriksa meteran/instalasi listrik lebih dulu sebelum mengambil keputusan. Sebagai orang awam, mungkin akan sulit untuk tahu kalaupun ada pelanggaran di instalasi listrik. Biar aman dan jelas, bisa kok minta tolong ke petugas PLN. Ya memang sih, agak terasa kurang kerjaan. Tapi ini penting untuk antisipasi kasus serupa di kemudian hari. Nggak enak banget kan kalau kena kasus seperti ini sementara pemilik rumah kontrakan atau pemilik rumah sebelumnya nggak mau tahu sama sekali.

Ketiga, sebaliknya dalam posisi pemilik rumah kontrakan/penjual rumah second, jelaskan keadaan meteran/instalasi listrik yang baik pada pengontrak/pembeli. Biar lebih sahih, baiknya juga memanggil petugas PLN sebagai pihak yang punya kompetensi menjelaskan hal ini. Pun saat menerima pengembalian kunci (dalam usaha kontrakan), ada baiknya meteran/instalasi listrik dicek sebelum yang pamit :)

Dengan tips di atas, akan jelas siapa yang harus bertanggung-jawab ketika terjadi pelanggaran listrik. Mending kalau seperti kasus kami yaa... pemilik rumah sangat koperatif. Tapi kalau beli rumah second dan di kemudian hari kena razia listrik, sementara si pemilik rumah sebelumnya tak mau bertanggung-jawab. Bukannya seperti peribahasa mendapat durian runtuh, melainkan seperti tertimpa durian runtuh dalam artian sebenarnya:

PASTINYA SAKIT BANGEEEET!







12/10/16

Periksa Meteran/Instalasi Listriknya (Part 1)

Siang tadi, sebenarnya saya sedang cukup hepi karena dikunjungi tetangga dari kampung nun jauh di pelosok Jawa Tengah sana. Ibu Br Galingging yang tengah pulang ke Medan karena mamaknya meninggal, menyempatkan diri datang ke kontrakan kami. Kami tengah mengobrol ketika ada dua orang mengenakan rompi biru mengucapkan salam di pagar.

Ternyata petugas PLN.  Setelah membaca surat tugasnya, mereka bertiga (yang satu lagi masuk belakangan) tepatnya adalah petugas Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL). Dengan sopan mereka menyatakan hendak memerika meteran. Sampai di situ, saya belum ngeh. Saya pikir pengecekan rutin saja.

Saat hendak membuka meteran, salah satu petugas menunjukkan pada saya bahwa segel telah terputus. Selanjutnya dia menunjukkan jika pada bagian dalam meteran ada kabel lain (warna hitam) yang secara horisontal menyambungkan dua kabel vertikal warna merah.

m
Intinya, kabel hitam itu membuat meteran kami berjalan lebih lambat dari semestinya.
pic : indonesia.coconuts.com
Wait!! Baru deh sadar kalau ini adalah masalah! Saya langsung bertanya, apakah semua rumah diperiksa. Menurut petugas, hanya rumah-rumah yang ada di daftar yang diperiksa. Saya melihat daftarnya, ada belasan rumah di situ.
Langsung deh ngomong sama bapak petugas kalau kami baru empat bulan menghuni rumah ini. Si bapak petugas sih menurut saya cukup sopan, tidak arogan. Dengan alatnya dia merunut histori tagihan listrik di rumah ini (sayangnya terbatas sampai tahun 2015). Menurut dia, dengan daya 1300 watt, dan memakai AC, tidak mungkin tagihan hanya sebesar di rekap rekening. Konsekuensinya adalah saat itu juga meteran akan dibawa dan kami harus mengurus denda ke kantor PLN Deli Tua.
Hiks....
Waah...langsung terbayang kerumitan ke depan. Terlebih ketika bertanya kisaran denda, petugas tidak memberi angka pasti tapi menyebut nominal jutaan. Duuuuuh....apalagi sih ini???
Kemarin ketika kami masuk rumah ini, meteran air yang bermasalah. Rumah dalam kondisi kosong, tapi tagihan tiga bulan hampir Rp 2 juta sehingga empunya rumah pending membayar. Saat kami sudah tinggal, ada petugas PDAM yang menyampaikan surat peringatan untuk pemutusan. Bersyukur Ibu SN selaku pemilik rumah langsung mengurus hal ini.  Entah dengan membayar semua atau ada bargaining dengan PDAM mengingat lonjakan tarif justru terjadi ketika rumah tidak ada yang mengontrak (dilihat dari daftar rekening sejak 2015). 
Kembali ke soal listrik..
Kalau sore itu juga meteran dibawa, listrik di rumah mati dong? Saya langsung telepon BJ  (suami) yang saat itu lagi meeting di kantor. Semula sih saya pikir BJ merasa cukup untuk teleponan dengan petugas. Tapi dia langsung memutuskan untuk pulang. Di benak dia langsung terpikir penipuan oleh orang-orang yang mengaku petugas PLN, yang melakukan pemerasan di tempat. Saya langsung meminta tiga petugas itu untuk menunggu BJ yang ternyata datang dengan seorang rekan kantornya. Di telepon tadi BJ berpesan, saya jangan menandatangani apapun.
Sesampai di rumah, BJ langsung mendapat penjelasan dari petugaa. Selanjutnya BJ yang menandatangani kopi berita acara hasil pemeriksaan warna pink (foto di atas) sebanyak tiga lembar. Berkas ini yang besok harus dibawa saat datang ke PLN cabang Deli Tua. Atas permintaan kami, sore itu listrik tidak diputus. Tapi meteran dibawa.
Sore itu juga BJ menelpon Ibu SN. Berhubung ibu SN besok tak bisa ikut ke PLN, beliau minta tolong kami yang mengurus. Saat ini kami dalam posisi belum mengerti apa nih yang aka terjadi besok. Tapi tadi sempat googling, urusan begini dendanya memang bisa jutaan.
Ihiksss....
Apapun yang terjadi besok, mudah-mudahan ibu SN selaku empunya rumah kooperatif. Lha masa kami selaku pengontrak yang harus bayar? Sementara di rekap data rekening, perusakan meteran sudah terjadi jauh sebelum kami tinggal. Tapi jangan-jangan, ibu SN juga tak tahu menahu karena memang rumah ini hanya dikontrakkan, tidak beliau tinggali. Masalahnya, soal ini berbeda dengan air dulu. Tagihan air yang melonjak sudah diketahui sejak sebelum kami mengontrak dan si ibu sudah berjanji menyelesaikan. Sementara yang ini, si ibu bilangnya juga tak tahu menahu.
Ah entahlah...berdoa saja persoalan tidak menjadi rumit. Next saya cerita gimana lanjutannya...
Yang pasti ini pelajaran banget. Jika hendak mengontrak atau membeli rumah, ada baiknya meminta petugas PLN mengecek meteran listrik. Mungkin sedikit ribet dan kayak kurang kerjaan. Tapi daripada ada kejadian seperti ini, atau yang saya baca di artikel hasil googling : pengontrak dan pembeli rumah harus menanggung denda jutaan gara-gara penghuni sebelumnya/pemilik rumah tak mau tahu.
Sayangnya, saya baru membaca itu setelah ada kejadian ini :D


09/10/16

Kangen Upi dan Uti


Kiri : Uti (ibu mertua). Kanan : Upi (ibu kandung)


Tak harus menunggu 22 Desember untuk membuat tulisan tentang ibu. Siang ini saya agak mellow sehabis tadi menelpon Mbah Uti (ibu mertua), lalu lanjut menghubungi Mbah Upi (emak). Sayang sekali, telepon dengan Upi tidak tersambung, mungkin masalah sinyal. 

Seperti terjadwal (padahal tidak secara sengaja mengatur waktu seperti ini), hari Sabtu atau Minggu adalah hari menelpon Mbah Uti (ibu mertua). Biasanya, setelah "ngobrol" dengan Uti, lanjut telepon Upi. Seringkali hanya sekedar "say hai", ngobrol "remeh-temeh". Dan yang terpenting adalah menyambungkan dua simbah itu dengan duo cucunya. Cucu yang rata-rata hanya setahun sekali dijumpainya.

Ishhh...menelpon orangtua seminggu sekali? Tegaaa yaaa..

Rasa hati juga nggak enak sih. Pulang cuma bisa setahun sekali. Eh menelpon juga cuma seminggu sekali. Tapi ritme seperti ini belum lama terjadi. Sebelumnya, walaupun tidak tiap hari, tapi pasti lebih dari sekali seminggu. Terutama jika teleponan dengan Uti. Dulu, Uti rajin menghubungi, entah itu melalui pesan pendek atau telepon. Dan jika Uti sudah telepon, biasanya beberapa hari kemudian gantian saya yang menelepon. Kalau misal dalam seminggu Uti menelpon satu kali, lalu saya balik menelpon satu kali, artinya kami sudah dua kali kontak via telepon.

Sebagai mertua dan menantu, hubungan kami memang relatif dekat dan baik. Situasi yang tentu saja amat sangat saya syukuri. Terlebih jika melihat hubungan beberapa teman  (perempuan) yang tak akur dengan ibu mertua nya. Baik yang tak akur dalam level rendah (cuek - tak saling perhatian), hingga yang bener-bener nggak akur sampai cakar-cakaran bermusuhan. Mending kalau tidak tinggal serumah. Lha kalau tinggal satu atap tapi tak rukun...aduuh maaak. 

Ya sih, kata seorang temen, hubungan saya dengan mertua justru baik karena kami berjauhan. Kalau kata perumpamaan Jawa : sri gunung, artinya kurang lebih jarak yang jauh menyebabkan pemandangan terlihat bagus, seperti gunung yang terlihat cantik kalau dilihat dari kejauhan. Coba, kalau tinggal serumah/berdekatan, bisa jadi sri taman. Terlihat cantik dari jauh, tetapi begitu dekat terlihat batang kering yang belum dipangkas-lah, ulat-lah, daun jatuh yang belum disapu-lah...dan -lah -lah lainnya.

Well..okay..mungkin itu ada benarnya. Tapi in my humble opinion, kalau memang sudah nggak akur, mau dekat mau jauh ya tetap nggak akur. Jarak hanya membantu meminimalisasi terjadinya gesekan langsung. Namanya sama-sama perempuan ya...kalau tinggal serumah dan dasarnya sudah tak saling cocok serta tak saling menahan diri, urusan lantai kurang bersih saja bisa memantik masalah besar. Daaan, kalau dasarnya sudah nggak rukun, jarak tinggal yang jauh sekaligus akan membuat jarak hati yang semakin jauh. Telepon-teleponan say hai dan ngobrol-ngobrol santai..... nggak bakalan.

Kadang saya berpikir, mengapa hubungan kami bisa baik?

Apakah karena Uti adalah mertua yang baik dan saya adalah menantu yang baik? *Angkat bahu...* Jujur saja, saya merasa masih jauh dari baik. Apalagi kalau ingat pertama kali diajak bertemu dengan beliau oleh mantan pacar (suami yang tentu saja anak Uti). Saya memakai celana jeans belel dan anting satu saja di kuping. Hadoooh...bukannya seperti mau ketemu calon mertua tapi seperti mau nonton konser musik ^-^

Yang paling mungkin adalah, dalam berelasi dengan menantu, Uti sudah belajar banyak dari pengalaman-pengalaman terdahulu. Suami saya adalah anak bungsu (dari empat bersaudara lelaki semua) dan menikah terakhir. Otomatis, saya adalah menantu terakhir. Jujur saja, tak semua hubungan Uti dengan menantu-menantunya yang terdahulu berjalan mulus. Sementara. sejauh saya kenal, Uti cenderung tak frontal menyalahkan orang lain ketika sesuatu tak berjalan sesuai keinginannya.

Uti membuat saya mengerti, bahwa menjadi mertua juga perlu belajar. Persiapan bagi saya yang juga cuma punya anak cowok ^_^. Ada suatu peristiwa yang ternyata sama-sama lekat di ingatan kami berdua. Yakni ketika dulu kami pulang kampung dan ketika balik ke Sumatera Utara, Uti turut serta. Untuk pertama kalinya, saya dan Uti akan bersama dalam waktu lebih lama daripada sekedar pulang kampung yang paling-paling seminggu. 

Saat itu, dalam perjalanan saya beranikan menyampaikan sesuatu pada Uti. Kurang lebih begini dalam bahasa Indonesia, "Bu, sekarang ini kita akan tinggal bersama agak lama. Sebelumnya saya minta maaf kalau nanti akan ada hal-hal yang membuat Ibu kurang cocok. Bagaimanapun, Ibu dan saya masing-masing punya kebiasaan yang mungkin berbeda. Semoga kita sama-sama bisa saling menerima."

Haha,.... kalau dipikir-pikir, sebagai menantu kok rada-rada kurang ajar duluan ngomong gitu. Saat itu Uti cuma senyum dan bilang ya. Tapi beberapa tahun kemudian, Uti bilang, perkataan itu sangat mengena di hatinya. 

Saya menganggap hubungan yang indah ini sebagai KARUNIA. 
Sesuatu yang terjadi sebagai berkat Tuhan.

Tetapi sejak Uti terserang stroke, pola komunikasi jadi berubah. Telepon hanya bisa terjadi satu arah, yakni saya yang harus menelpon. Jangankan, mengetik pesan pendek, bicara langsung saja Uti tak/belum bisa. Uti bisa memahami perkataan, tapi tak bisa memberikan tanggapan. Jujur saja, saya sempat bingung jika menelpon Uti. Sebab, pertanyaan standar semacam "sudah makan, Mbah?", hanya akan dijawab dengan ah-eh-uh yang saya tak paham. Terlebih dalam komunikasi suara, saya tak bisa melihat ekspresi wajahnya. Senangkah? Sedihkah? Biasa sajakah? Bocil saya, Al yang dulu juga biasa teleponan dengan Uti, juga bingung mau bilang apa ketika telepon saya sodorkan padanya. Bersyukur, sekarang kami sudah ketemu cara untuk "berbincang" dengan Uti. Cerita apa saja yang kira-kira bisa menyenangkan hatinya.  

Yang bikin sedih, dari empat menantu, hanya saya yang sama sekali belum mengunjungi Uti. Sejauh ini, baru suami saya yang sudah pulang untuk Uti. Rencananya sih, Desember nanti, kami akan pulang lengkap. Semoga tak ada aral melintang..

Tentang Upi....

Ah ya, bisa dibilang Upi adalah sosok yang 180 derajat dengan Uti. (Oh ya, panggilang Upi itu gara-gara keponakan saya yang tak bisa memanggil "Uti" (mbah Putri). Jika Uti terasa perhatian terhadap anak dan cucu-cucunya, Upi justru cenderung terasa cuek. Upi tak bisa bilang kangen, apalagi sayang ^-^. Upi tidak terbiasa mengungkapkan rasa sayangnya secara verbal. Upi juga cenderung tidak menampakkan perhatiannya.

Gara-gara itu, dulu sewaktu kuliah dan makin jauh dari rumah, saya sempat protes dalam hati. Soalnya, teman sebelah kamar nih, tiap kali tiba di kost usai pulang kampung, pasti langsung ditelpon oleh sang ibu. Dipastikan keselamatannya, ditanya gimana perjalanannya... Lha saya, boro-boro begitu. Dari mulai hingga selesai kuliah nyaris tidak pernah ditelepon kecuali ada hal yang teramat penting. Kami memang tak pernah cek-cok, tapi sering "sepakat untuk tak sepakat" dalam banyak hal.

Sampai sekarang pun, Upi tetap teramat jarang menelpon. Sampai jarak fisik kami semakin jauuuh dan jarak pertemuan semakin panjang. Kalau dulu hanya berbeda kota, kami bisa bertemu dalam hitungan bulan. Sekarang  kami sudah berbeda pulau, dan jadwal rutin pulang hanya setahun sekali. Jadinya malah saya yang nyaris selalu membuat inisiatif menelpon. Tapi langkah ini pun seringkali terhambat sinyal yang tak bersahabat. Hmmmh... jalan di kampung memang sudah aspal mulus. Tapi soal sinyal telepon, masih jauh dari kondisi was-wus.

Puji Tuhan... dengan menjadi ibu, saya bisa melihat situasi ini dengan perspektif yang berbeda. Kini saya merasa, Upi demikian bukan karena tak sayang. Tapi mungkin karena Upi "terbentuk" situasi dan keadaan menjadi demikian. Ya lah,..Upi tumbuh dalam keluarga yang teramat tradisional, yang tak mengenal kata verbal " i love you" antara anak dan ortu. Upi juga bertumbuh menjadi ibu dalam situasi yang tak seperti sekarang. Zaman itu, mana ada internet dan grup-grup di platform chatting yang membuat Upi bisa mengakses aneka informasi parenting, -bahkan saat itu ilmu parenting bisa jadi belum dianggap penting.

Menjadi ibu bisa membuat saya lebih memahami Uti dan Upi. Beliau berdua, dua perempuan yang sangat berarti buat saya. Upi adalah perempuan yang Tuhan jadikan jalan kehadiran saya ke dunia. Upi menyediakan begitu banyak waktu untuk membesarkan saya. Sedangkan Uti, perempuan yang hadir kemudian. Mungkin hanya sedikit waktu yang Uti berikan untuk saya. Tapi saya tak boleh lupa, Uti adalah perempuan yang membesarkan suami saya. Dalam istilah Jawa, suami adalah garwa, "sigaraning nyawa", belahan nyawa. Jika Upi membesarkan saya, makan Uti membesarkan separuh nyawa saya.

Upi dan Uti, dua perempuan yang saling melengkapi. Dua perempuan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dua perempuan, yang dari mereka, saya banyak belajar....












08/10/16

Pengalaman Membeli Reksadana Online

Hasil gambar untuk reksadana online
pic : www.finansialku.com

Setelah kemarin lusa posting tentang membeli reksadana di BankMandiri, hari ini saya lanjut posting pengalaman membeli reksadana secara online. Semula, saya hanya tahu nama Indopremier untuk transaksi reksadana secara online. Tapi ternyata banyak pilihan untuk transaksi reksadana di internet. Baik itu website “supermarket reksadana” yang menjual produk reksadana dari berbagai manajer investasi, seperti Indopremier dan Bareksa. Maupun website perusahaan yang hanya menjual reksadana produk mereka sendiri, antara lain Schroders dan Manulife.

Kalau di sini saya menulis tentang Indopremier, ini bukan iklan yah. Tapi karena saya baru punya pengalaman di situ. Jelas pengalaman yang masih sangat dangkal. Tapi ada nasihat, sesederhana apapun pengalaman, bagilah... syukur-syukur bermanfaat bagi orang lain ^-^.

Saya mengenal Indopremier dari sebuah forum online (lupa, forum apa, soalnya juga bukan member, baca-baca obrolannya doang). Tahunya juga sudah lama, bahkan sejak sebelum beli reksadana di bank. Tapi karena saat itu merasa lebih yakin kalau melakukan transaksi langsung di dunia nyata (bukan secara online), saya sama sekali tidak mencari informasi tentang itu. Baru awal tahun ini, entah kenapa timbul keinginan untuk tahu lebih banyak.

Jadilah, pada suatu hari (#MulaiMendongeng) saya buka web Indopremier dan klik menu “buka account”. Sebenarnya ada dua pilihan, mengisi formulir secara langsung atau memasukkan nomor telepon dan nanti selanjutnya akan dikontak oleh customer service. Saya pilih opsi mengisi formulir secara langsung. Tapi entah error di mana (gini deh kalo emak-emak gaptek :D), saya gagal mengisi form sampai akhir. Setiap diklik “next”, layar nggak mau gerak. Saya cari-cari isian mana yang belum bener, tapi enggak ketemu-ketemu. Ya wis...jadinya kembali ke semula dan pilih opsi ditelepon oleh customer service.

Besoknya saya dihubungi oleh staff indopremier (lupa namanya siapa). Wawancara singkat dengan pertanyaan-pertanyaan seperti di website. Lalu saya diminta untuk mengecek email dan mengunduh dan mencetak berkas berisi data hasil wawancara. Selanjutnya saya harus menandatangani berkas dan mengirimkannya ke kantor Indopremier. Kalau tidak salah pengiriman berkas dilengkapi dengan fotokopi KTP, fotokopi buku tabungan, dan fotokopi NPWP. Berhubung saya berdomisili di Siantar, berkas dan kelengkapannya bisa dikirim ke kantor cabang Indopremier di Medan. Oh ya, kantor pusat Indopremier ada di Jakarta, sementara cabangnya tersebar di Tangerang, Bandung, Semarang, Solo, Surabaya, Malang, Medan. Pekanbaru, Pontianak, Balikpapan, Makassar, Manado, Lampung, dan Padang.

Karena saya di luar kota cabang, jadi harus mengirimkan berkas via pos. Jika domisili di kota yang ada cabang,  kalau saya tak salah baca, dokumen bisa dijemput oleh kurir dari Indopremier.

Tapi saat itu menjelang pindahan rumah dari Siantar ke Medan, berkas yang sudah saya unduh malah nggak saya apa-apain. Aslinya juga karena lupa mesti tanda tangan di mana saja, sementara catatan panduan tanda tangan dari staff indopremier nyelip entah di mana :D. Jadi deh, proses mandeg agak lama. 

Sampai kemudian kami sekeluarga pindah ke Medan. Saya mencoba telepon nomer kantor Indopremier di Medan, tapi tak pernah bisa masuk. Ya sudah, kapan-kapan datang langsung aja deh ke kantor. Sekalian tanya-tanya karena meski sudah pernah beli reksadana, aslinya tetap belum ngerti banyak soal ini. Ditemani suami dan bocil, saya ke kantor Indopremier di Gedung Uniland. Di sana diterima oleh staff Indopremier, Mbak Nezri.

Sama Mbak Nezri sempat ditanya, “Ibu nggak sekalian investasi saham?”

Rrrrrr (senyum kecut)....buat saya, investasi saham masih terasa so high. Tentang reksadana saja masih perlu belajar banyak. Mbak Nezri sedikit menjelaskan tentang saham yang transaksinya juga bisa dilakukan secara online di Indoremier. Tertarik sih, tapi masih blank banget soal ini. Mungkin suatu saat nanti saya akan melangkah ke sana.

Kembali ke reksadana...

Setelah proses pendaftaran akun member selesai, saya harus mengecek email. Selambatnya seminggu akan dikirim email berisi username dan password untuk login akun. Tak sampai seminggu, email sudah masuk. Saya-nya yang lambat mengecek email.

Mencoba login deh... tapi belum melakukan transaksi. Lihat-lihat dulu si website walau lebih banyak nggak tahu-nya daripada pahamnya wkwkwk. Syukurnya, Mbak Nezri bersedia di-whatsapp jika saya ada kesulitan. Beberapa hari kemudian, sambil tanya ini-itu sama Mbak Nezri, saya berhasil melakukan transaksi. 

Memang bener, bertransaksi reksadana secara online ternyata mudah sekali. Bahkan tak harus buka komputer atau laptop, transaksi bisa menggunakan telepon pintar. Tapi kata mudah sekali saya beri tanda kutip dan bold. Terasa mudah itu ketika dalam posisi sudah tahu. Saat masih blank, duuh, bingung tujuh keliling juga. Jangankan tentang step-step transaksi, dulu apa-dan-bagaimana reksadana saja tak paham sama sekali.

Apalagi saya tak punya partner di dunia nyata untuk tempat bertanya. Jadinya segala informasi hanya saya peroleh dari dunia maya. Membaca-baca di berbagai website dan forum dalam terbatasnya waktu untuk membuka gawai.

Sampai sekarang pun rasanya baru tahu tentang hal dasar saja tentang reksadana. Jangan tanya sama saya, misalnya, bagaimana untuk memilih reksadana? Haha, kemarin pun masih minta rekomendasi sama staff Indopremier. Istilah-istilah dalam reksadana pun, saya masih banyak belum paham.

Tapi belajar sambil jalan, selambat apapun itu perjalanannya (NgelapKeringet). Kalau menunggu paham semua, mungkin saya tak akan pernah menabung di reksadana.



   

05/10/16

Pengalaman Membeli Reksadana di Bank Mandiri

Hasil gambar untuk reksadana
pic source : www.howmoneyindonesia.com

Update : Sejak Januari 2016, PT Mandiri Manajemen Investasi sudah memiliki marketplace reksadan online bernama MOInvest. Selengkapnya bisa klik di www.moinves.co.id
 
Sebenarnya sudah cukup lama menabung reksadana (RD) di Bank Mandiri, tapi baru sekarang menuliskannya. Jadi mungkin sudah informasinya sudah nggak update. Tapi nggak apa-apalah ya... menuliskan berdasarkan pengalaman saat itu saja.

Saya mulai membeli RD di Bank Mandiri September 2014. Bulan dan tahunnya masih ingat betul karena saat itu saya lagi hamil gede, mendekati Hari Perkiraan Lahir si mungil Elo. Membeli di Bank Mandiri karena dua alasan. Pertama, saya yang masih sangat minim pengetahuan tentang RD sekalian ingin konsultasi langsung dengan agen penjual. Saat itu sudah baca sih tentang supermarket RD online, tapi namanya newbie, juga sebagai generasi yang lahir di era belum ada internet, rasanya lebih afdol kalau ngobrol langsung daripada sekedar diskusi di forum online. Kedua, saat itu saya tinggal di Pematangsiantar, di mana belum ada Bank Commonwealth. Kalau ada bank kuning, pasti saya pilih bank kuning dengan pertimbangan pembelian selanjutnya bisa online.

Ya sudahlah, tak ada rotan, akar pun jadi. Saat itu, langsung datang saja ke bank mandiri. Sekilas saja baca informasi tentang RD Bank Mandiri yang bisa dicek di sini. Toh baca serius juga masih gagal paham :D

Meski sudah memutuskan tempat pembelian, prosesnya pun tak langsung sehari jadi. Bukan karena prosesnya yang lama. Tapi karena ternyata tak semua cabang Bank Mandiri melayani penjualan RD. Pertama kali saya datang ke cabang Bank Mandiri di Megaland. Di sana disarankan untuk ke Jalan Sutomo, cabang yang ada staff yang menjadi WAPERD alias Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana. Namanya bumil tua, sambil bawa balita pula, rempong judulnya. Pada hari itu saya tak langsung lanjut ke cabang yang dimaksud. Barulah beberapa waktu kemudian saya ke cabang Sutomo menjumpai Mbak Nia, WAPERD di situ.

Beneran deh, waktu itu saya masih minim banget pengetahuan tentang RD –kalau nggak mau dibilang blank. Tapi dalam pikiran waktu itu, cari informasi terus tanpa aksi mah nggak bakalan ngerti gimana-gimananya. Ya sudah, pokoknya beli dulu aja deh... ntar pelajari sambil jalan. Terlebih RD bisa dengan minimal pembelian Rp 100.000 (tapi ternyata masing-masing RD berbeda ketentuannya ^-^).

Saya diterima Mbak Nia dengan ramah. Namanya Customer Service ya harus ramah ^-^. Berhubung saya juga belum tahu, mau beli RD apa, saya minta saran Mbak Nia. Saat itu memang sudah berniat untuk setting sebagai investasi jangka panjang. Jadi saya langsung minta RD saham. Mbak Nia memperlihatkan produk-produk RD yang dijual di Bank Mandiri. Namanya juga belum ngerti, pasrah aja deh mau dipilihin yang mana (sembari berdoa si ibu memilihkan produk yang bagus :D). Saya ditanya, berapa jumlah yang akan diinvestasikan setiap bulan. 

Berdasarkan jawaban saya, Mbak Nia menyarakan untuk memecahnya ke dalam dua RD. Ibu Nia memilihkan RD keluaran Batavia dan Schroeder. Pembelian pertama RD Batavia adalah Rp 1.000.000, sedangkan yang Schroeder Rp 500.000 dengan pembelian lanjutan sama-sama minimal Rp 100.000.

Saya tinggal mengisi form dari bank serta menandatanganinya.  Sengaja kalau urusan ke bank, saya sudah siapkan KTP dan buku tabungan. Biasanya urusan apapun pasti butuh dua dokumen itu. Tapi ternyata saat itu juga dibutuhkan data tentang NPWP (Nomor Peserta Wajib Pajak). Duh, nggak ngerti butuh data itu juga, jadi nggak bawa. Tapi karena saya berstatus istri, ternyata boleh pakai data suami. Kalau nggak salah saat itu saya kontak suami minta nomor NPWP dia. Lupa deh, saat itu butuh materai apa tidak. Kalau urusan materai di bank kan biasanya nasabah yang bayar ^-^

Berhubung pembelian lanjutan tidak bisa online, saya memilih untuk autodebet dari rekening. Jadi, sekali setiap bulannya, pihak bank akan mendebet uang sejumlah yang saya tentukan di awal pernjanjian pembelian RD. Nantinya, setiap bulan saya akan menerima laporan transaksi dari manajer investasi. Selain itu, secara berkala saya akan menerima laporan transaksi dari Bank Mandiri.

Sudah...begitu aja. Simpel. Nggak butuh proses bertele-tele asal sudah membawa berkas yang dibutuhkan (KTP, buku tabungan, NPWP –saya lupa, kalau nggak punya NPWP bisa apa tidak. Tapi mestinya bisa lah ya.. *asumsipribadi*). Tapiiii... ada tapinya niiih. Seperti ditulis di beberapa artikel pengalaman membeli RD di bank, saat itu saya terkena jebakan betmen juga. Yakni, saya kena rayuan untuk membeli produk asuransi pendidikan axa-mandiri yang adalah unit-link. Nggak kuat mental untuk mengatakan tidak!

Padahal saat itu sudah baca-baca loh...bahwa kalau mau investasi jangan pakai unit link. Dan memang bener, kalau dilihat perkembangannya sekarang, perbandingan nilai tabungan di RD dengan di unit-link beda jauhlah. Yang RD murni tak terpotong apapun, yang  unit-link masih terpotong banyak biaya. Tapi ya sudahlah.... *malesngurus*

Dua tahun berlalu, saya pindah ke Medan. Sebelum pindah saya nggak mengurus perpindahan alamat ke Bank Mandiri. Jadi deh laporan transaksi (yang berbentuk fisik) masih rutin dikirim ke alamat Siantar. Bulan lalu, saya coba mengurus ke salah satu cabang Bank Mandiri di Medan. Tapi misi tak berhasil. Seperti biasa, butuh KTP untuk pengurusan pindah data alamat pengiriman bukti transaksi. Masalahnya, KTP saya masih KTP Jawa Tengah.

Ok, bisa kok pakai KTP luar asal ada surat keterangan domisili dari kelurahan. Saat itu, saya nggak bawa surat yang dimaksud. Bahkan sampai sekarang jadinya juga belum saya urus lagi karena masih malas mengurus surat domisili ke kelurahan. Ribetnya lagi, laporan transaksi tidak bisa dialihkan dalam bentuk email. Mungkin sekedar laporan transaksi sih ya... yang bagi sebagian orang isinya tak akan bermakna apa-apa. Tapi entah ya, bisa saja jadi sumber masalah ketika jatuh ke tangan orang yang mengerti dan jahat. Beruntungnya tetangga di alamat lama masih berbaik hati menyimpankan surat-surat tersebut.

Intinya, buat yang tinggalnya pindah-pindah dan masih suka males mengurus surat-surat, yang kayak-kayak gini bikin males :D. Selain itu, karena nggak online, mesti datang ke bank untuk melakukan pembelian. Sementara, jika menggunakan fasilitas autodebet, kita tidak bisa memilih waktu pembelian karena sudah ditentukan oleh bank.

Untuk alasan kepraktisan, beli RD di bank dan belum bisa online memang tak praktis. Tapi untuk alasan lain, bisa kok dicoba ^-^


  

  

24/08/16

Peralatan Yang Sudah Lama Tak Saya Gunakan

Ide menulis itu ada di/dari mana-mana. Demikian kata para penulis ternama. Memang sih.... saya tak menolak pendapat itu. Soal ide, saya punya buanyaak. Yang minus itu eksekusinya hahahaha... (minus kok bangga :D)

Banyak alasan untuk nggak segera menuliskan sebuah ide, sampai akhirnya ide itu menguap tak berbekas (huh :D). Sebabnya karena menunda-nunda menuliskan ide ituuu...padahal sesepele apapun ide, bisa saja jadi tulisan, baik pendek ataupun panjang - tergantung pengembangannya. Dan sesepele apapun ide, bahkan yang kita sekedaran saja menuliskannya, bisa saja loh bermanfaat buat orang lain - tanpa kita sangka.Seperti cerita seseorang tentang kerusakan ovennya. Sepertinya sekedar cerita saja, tapi ternyata sangat membantu ketika oven saya ngambeg tak mau berbunyi "ting".

Baca : Ketika Oven Tak Mau Berbunyi Ting

Seperti ide menulis yang timbul pagi ini. Supaya tidak menguap, segera deh menuliskannya.

Just a little thing (sih). Tapi nggak apa-apa kan diceritakan. Apalagi di blog sendiri hihihi..

Tadi pagi nih....gara-gara si Al yang (nyaris) selalu pengin (maaf) pup tiap mau berangkat sekolah. Pas cebok dibantu ayah BJ, eh bajunya kena basah. Deuuuh...BJ langsung bilang, bajunya ada berapa? (Maksudnya biar ganti baju aja). Maksud baik yang pagi itu impossible terwujud karena baju putih Al cuma ada dua. Itupun yang satu lagi direndam.

Beeeh...sudah dalam kondisi mepet waktu, malah kejadian begini. Berhubung nggak bisa ganti, BJ sempat bilang ke Al, "nggak apa-apa ya pakai baju basah sedikit". 

Setelah saya lihat, ya sih basahnya memang nggak kuyup. Tapi tepat di bawah krah belakang. Kasihan juga kalau basah-basah. Bisa sih disetrika...tapi makan waktu untuk lepas pakai bajunya.

Tetiba ingat hairdryer merk Miyako yang sudah lamaaaa banget nggak pernah saya gunakan. Bersyukurnya, walau masih ada di dus-dus barang pindahan, tapi saya ingat di mana tepatnya. Jadi deh, langsung ambil si hairdryer, colokkan listrik, lalu tekan tombol dan diarahkan ke bagian yang basah. Tak butuh waktu lama baju Al pun kering dan siap berangkat.

Aha...terimakasih hairdryer...

Walau sudah sepuh dan tak sempurna lagi fisiknya, tapi masih sangat membantu dalam situasi emergency. Terbilang sepuh karena saya membelinya tahun 2008. Walau tak ada catatan pembelian, tapi rasanya saya nggak salah soal waktu itu. Sebab hairdryer itu dulu saya beli sebelum menikah dengan suatu alasan.

Dari pertengahan kuliah hingga masa bekerja, rambut saya selalu pendek. Bukan cuma sebahu tapi cuma sedikiit lebih panjang lah kalau dibandingkan sama Sarah Sechan atau Indy Barends. Plus saya juga bukan orang yang stylish baik dalam.hal berpakain maupun make up and hair do. Dua hal yang membuat saya tidak butuh hair dryer. 

Apalagi pakai hairdyer...pakai sisir aja kadang lewat. Kalau lagi buru-buru, sisir aja pakai jari. Toh perginya juga pakai helm. Mau disisir rapi jali, ntar juga kacau lagi. 

Tapi akhir tahun itu saya berencana menikah. Sesuai dengan asal-usul saya dan suami, kami akan menikah dengan pakaian adat Jawa (pakaiannya doang, ritual adatnya kagak :D). Orang-orang senusantara pasti tahu dong, kalau dandanan pernikahan adat Jawa berarti sanggul lengkap dengan cunduk-mentulnya. 

Rambut saya yang pendek banget bakalan kurang mendukung untuk sanggulan. Mau tak mau harus dipanjangkan untuk mempermudah kerja penata sanggulnya nanti. Setidaknya sampai bahu lah...

Nah itu masalahnya. Gara-gara berambut pendek, saya sering keramas pagi hari. Segar dan nggak masalah karena rambut tetap cepat kering. Ketika rambut sedikit agak panjang, saya sudah merasa agak bermasalah dalam kecepatan rambut kering di pagi hari.

Saat itulah terpikir untuk beli hairdryer. Lupa berapa harganya....udah lama banget. 

Rutin terpakai ya cuma saat-saat itu sih.Setelah menikah, rambut kembali saya pangkas pendek...as always. Sempat agak panjang (sampai bahu) ketika hamil kedua. Setelah itu pendek lagi. Padahal dari SD hingga awal kuliah, rambut nyaris selalu sepinggang lho...sekarang mah boro-boro. Gondrong dikit aja udah gerah ^_^

Eh ya...sebenernya si hairdryer ini nggak sepenuhnya nggak dipake sih. Dulu pas Al kecil, kadang masih saya pakai untuk mengeringkan karpet atau selimut atau kasue yang terkena ompol. Tapi entah kenapa itu nggak berlanjut...mungkin karena dengan udara Siantar yang cukup panas, tanpa di-dryer sudah bisa kering sendiri hihihi.

Begitulah cerita hari ini...

Nggak penting banget....memang ^_^

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler