Masih Gagal

gambar pinjam dari sini




Ceritanya, sejak punya eksternal keyboard itu aku buat challenge buat diri sendiri, yakni "satu hari (minimal) satu tulisan di blog ini:.

Tapi apa yang terjadiiiih?
Rupanya self-challenge itu masih gagal kupenuhi. Yah namanya alasan, macem-macemlah. Tapi semuanya bisa kusimpulkan dalam dua kata saja, yakni KURANG KOMITMEN!

Nah loooo....
Yuk aaah... buat challenge lagi. Jangan hukum diri terlalu dalam. Kasih kesempatan. Tapi jangan pula terlalu lembek. Kayaknya butuh sistem punishment jugaaaa...misal, kalau hari ini ga nulis, besok ga boleh ngopi. Eh ga boleh ngopi kan berat juga buat dakyuuu :D

Well...kegagalan adalah hal biasa, tapi jangan jadi kebiasaan dong #selftalk

Akhirnya Ngeblog dengan Smartphone

Sebenarnya beberapa waktu lalu sudah install aplikasi "blogger" di HP android S^msung ini. Tapi berhubung niat rutin menulis memang belum ada, aplikasi itu nggak tersentuh sama sekali dan malah aku hapus.

Kemarin2 memang masih dimanjakan adanya laptop. Kalaupun hasrat menulis lagi muncul, aku pilih pakai laptop. Buatku, mengetik di laptop tetap lebih nyaman daripada di HP (apalagi HP layar sentuh_walau sudah beberapa bulan pakai layar sentuh, rasanya masih lebih nyaman pakai HP keyboard biasa).

Belakangan, ketika hasrat menulis kembali subur, laptopku justru dipakai BJ akibat peristiwa laptop BJ digondol maling tempo hari. Jadilah memutuskan beli eksternal keyboard agar tetap nyaman mengetik. Tapi rupanya pakai eksternal keyboard pun belum sepenuhnya nyaman. Apalagi, waktu kemarin ngetik postingan pakai eksternal keyboard, aku belum install aplikasi lagi. Tapi masih buka blog pakai browser (karena dibuka pakai opera mini nggak bisa). Ketik dulu di doc_to_go baru copy lalu buka blogger via browser baru paste. Ribet..

Gara_gara keribetan itu, hari ini jad kepikiran lagi soal aplikasi blogger. Soal kenyamanan ngetik di layar sentuh, mungkin perlu pembiasaan saja. Jadi tadi pagi, dengan semangat ala para orator demo, langsung deh install aplikasi Blogger dan langsunh deh mencoba menulis.

Tapi rupanya nggak langsung berhasil. Mungkin karena setting HPku ya, jadi begitu masuk aplikasi otomatis terdaftar dengan emailku yang ***lisdha. Padahal aku ingin mengaktifkan blog yang terdaftar dengan email ***lywife. Aku berusaha untuk menambah account email tapi gagal. Mencoba sign out untuk ganti account juga nggak berhasil. Googling maupun tanya via status facebook juga nggak nemu solusi.

Akhirnya sampai malem, aplikasi tadi masih kubiarin. Baru deh setelah Ale tidur, aku coba utak_utik lagi. Tetap belum bisa #nasibgaptek. Baru kepikiran untuk coba aplikasi lain. Pilihan jatuh ke blogaway. Sama dengan blogger, begitu install langsung otomatis login dengan email ***lisdha. Utak_utik untuk ganti/tambah account. Nggak langsung berhasil tapi Puji Tuhan happy ending.

Dan hasilnya adalah tulisan ini...yeayy!! Memang gini deh nasib kalau gaptek yaaa.... tapi dengan berhasil utak_utik sendiri, rasanya puas.

Dan dengan berhasilnya install aplikasi ini, mudah2an niat proyek pribadi berupa (minimal) satu_hari_satu_tulisan bisa terlaksana. AMIIIN. (LSD)

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Abang atau Mas?

Tinggal di daerah yang berlainan suku ternyata menjadi seni tersendiri dalam memberikan sebutan untuk Ale setelah adiknya lahir nanti.

Sebagai orang Jawa, kakak laki-laki biasa dipanggil "mas" atau bisa juga "kang" seperti di Sunda. Sementara, sekarang kami tinggal di daerah suku Batak, yang mana seorang kakak laki-laki lazim dipanggil dengan sebutan "abang". Sedangkan sebutan "kakak" adalah khusus untuk "kakak perempuan". Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang sama-sama menggunakan "kakak" baik untuk saudara laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini, bahasa daerah umumnya memang lebih spesifik yaa...

Ale yang masih kecil, belum memahami perbedaan seperti ini. Terlebih sewaktu saya belum hamil, saya dan BJ (suami) belum intens mengenalkan konsep kakak_adik padanya. Dia belum mengenal sebutan "mas" dan lebih familier dengan panggilan "abang", laiknya dia memanggil kawan-kawan bermain yang lebih besar di sini. Nah, saat kami pulang kampung ke Jawa, Ale bermain dengan kakak sepupu laki-lakinya (Iel). Kami bilang ke Ale, "ini Mas Iel".....dan spontan Ale memanggilnya "Abang Mas Iel" hahahaha.

Sekarang, menjelang punya adik, mungkin karena alasan primordial, kami membiasakan Ale dengan panggilan "Mas Ale." Bukan karena nggak suka dengan panggilan "Bang" sih...tapi lebih karena "panggilan akar budaya". Toh, selama kami masih tinggal di Tanah Batak, Ale ini akan tetap dapat panggilan "Bang" dari kawan-kawan sepermainan yang lebih kecil.

Jadi, dipanggil abang atau mas?

Ale bisa mendapatkan dua-duanya. Saya rasa, ini salah satu sentuhan kekayaan budaya Indonesia pada Ale.

Akhirnya...Punya Eksternal Keyboard

Saya termasuk golongan orang yang sampai sekarang masih belum nyaman pakai teknologi layar sentuh untuk mengetik, terutama kalau mengetik yang cukup panjang. Kalau cuma buat status atau chat sih masih okelah pakai touch screen :). Bahkan waktu beberapa bulan lalu memutuskan ganti HP dari si jadul Nokia E63, saya nasih berpikir untuk ganti gandget yang pakai tombol. Tapi misua merekomendasikan Samsung Grand Duos...ya okelah. Berhubung merasa suami lebih melek gadget, saya manut.

Memang sih, sejak awal beli si Samsu ini sudah terlintas pengen punya eksternal keyborad. Tapi ah buat apa? Karena untuk ngetik-ngetik panjang saya masih bisa pake laptop BenQ yang walopun sudah termasuk The Jaduls tapi masih bisa dioperasikan. Baru deh, setelah kejadian kemalingan tempo hari (ntar saya buat tulisan tersendiri), langsung deh jadi merasa harus segera mbeli eksternal keyboard. Soalnya, laptop saya yang Puji Tuhan ga ikut terangkut si maling sementara dipake kerja sama misua, sampai dia dapat lapi pengganti dari kantor. Padahal di situasi seperti ini, saya justru lagi menggebu-nggebu ingin kembali sering nulis seperti duluw. Eheeem...

Jadi deh langsung googling soal eksternal keyboard. Setelah dapat sejumput info, hari selanjutnya cari-cari itu barang di Siantar. Pertama-tama dateng ke toko komputer langganan di Jalan Bandung. Pertama tanya, saya keliru bilang "eksternal hardisk" ke empunya toko. Gara
-gara sejak beberapa waktu sebelumnya ngomongin .eksternal hardisk melulu sama misua. Di toko itu, ga ada eksternal keyboard. Jadi deh pindah ke toko handphone +aksesoriesnya di Jalan Merdeka. Ternyata di situ juga ga ada dan direkomendasikan ke toko seberang jalan. Jadi deh, nyebrang lagi. Eh tapi di dua toko itu saya kembali salah selalu nyebut eksternal hardisk lebih dulu :D.

Puji Tuhan di toko terakhir tersedia, tapi cuma satu model saja. Ya udah deh, gapapa daripada enggak ada.Tanya-tanya dan coba pakai, akhirnya deal harga Rp 240ribu dari semula Rp 250 ribu (kalau pandai nawar, pasti bisa lebih miring lagi eh :.D).

Beberapa hari setelah beli, si eks_kibod nggak langsung saya pakai. soalnya misua ada di rumah, jadi bisa deh pakai BenQ. Baru deh hari ini, saya running si eks_kibod. Masih gugak_guguk alias belum lancar :D. Ya teuteup lebih enakan langsung pake lapi Tapi lumayan deh, lebih cepetan pake eks_kibod daripada pake layar sentuh. Tapi teuteup aja masih banyak salah typo :)