Sambal Kacang to Saus Kacang




(Dulu) membuat sambal kacang adalah perkara yang tidak simpel buat saya. Setidaknya itu yang saya lihat dari cara emak  membuat sambal kacang. Menggoreng kacang dan menyiapkan  bumbunya sih simpel. Tapi proses selanjutnya itu lhooo..

Berhubung kami tidak punya apapun itu penggiling dan penghalus mekanik, maka menghaluskan kacang dan mencampurnya dengan gula merah dilakukan menggunakan lumpang dan alu. Bukan lumpang batu, tapi lumpang kayu. Karena membuat sambal kacang bukalah pekerjaan rutin, maka emak menggunakan lumpang dan alu yang sering digunakan untuk membuat kopi bubuk  (Dulu, membuat kopi bubuk juga dilakukan dengan cara sangat manual. Sekarang, meski sudah ada mesin, cara manual ini tidak sepenuhnya punah. Kata emak, kopi bubuk yang ditumbuk lebih mantap daripada yang dimesin). 


Lumpang kayu kami bukan lumpang rapih hasil olahan mesin. Sayang pas puang kampung nggak motret itu lumpang yang masih eksis sampai sekarang. Kurang lebih seperti ini deh :
 
 
gambar : www.ilmudi.blogspot.com


Sebelum digunakan untuk menumbuk kacang, si lumpang dan alu harus dicuci dan dikeringkan dulu. Belum lagi proses menumbuk hingga halus dan lumat, jelas membutuhkan waktu dan tenaga. Buat saya, itulah yang membuat proses membuat sambal kacang tidaklah simpel. Rasanya, emak pun menganggap demikian. Makanya, setiap membuat sambal kacang, langsung dalam volume cukup banyak. Sambal kacang buatan emak bisa tahan berminggu-minggu tanpa terasa tengik. Biasanya sih sampai dibagi-bagi ke saudara/tetangga. Soalnya, boseen laaah kalau tiap waktu makan dengan sayur rebus plus sambal kacang alias pecel.
 
Saat masih sekolah lanjut kuliah, sambal kacang home-made ini sering jadi bekal untuk hidup di kost-kostan. Lumayan lah, menghemat uang saku yang pas-pasan :D. Setelah kerja dan ngekost-nya semakin jauh (lintas provinsi), memang nggak ada lagi acara pulang kampung terus kembali kerja bawa bekal sambal kacang. Tapi bukan berarti terus nggak pernah ketemu sama  sambal kacang. Tinggal di Bandung, masih gampang ketemu menu dengan pelengkap sambal kacang dengan aneka variannya. Pecel, gado-gado, ketoprak, kupat tahu de-el-el.

Sekarang, setelah tinggal di Siantar, rasanya juga masih relatif mudah ketemu menu dengan pelengkap sambal kacang (walau tidak sebanyak di Bandung). Di sini banyak kok warung yang menyediakan menu pecel, tapi sebutannya bukan pecel melainkan pecal (mirip-miriplah, beda huruf "a" saja :). Bahkan sekarang menu Bandung, yakni batagor juga sudah tak sulit dijumpai di sini.
 
Sambal kacang kemasan siap saji juga sering saya temui di pajak (pasar) ataupun kedai-kedai kecil, Tapi saya nggak sukaaaa karena buat ukura saya, sambal yang dijual itu bau kencurnya terasa banget. Sementara saya terbiasa dengan sambal kacang emak yang nggak pakai kencur atau kalaupun pakai sedikiiit sekali.

Sejauh itu, saya masih berkutat dengan anggapan bahwa bikin-sambal-kacang-itu-rumit. Gimana dong, saya nggak punya lumpang dan alu. Beli? Aiiih, kalau bisa sih, selama masih nomaden begini, nggak usah beli macem2 perkakas. Sampai suatu hari saya beli blender lalu mikir, kenapa nggak coba lumatkan pake blender ajaa? Ahaaa, ini mungkin sesuatu yang  biasa, tapi buat saya yang nggak hobi ngedapur ini terasa luar  biasa.

Kacang goreng, bumbu, gula merah, masukkan dalam tabung blender. Beri sedikit air, lalu tekan tombol ON. Beressss deeeeh. Saya pakai handblender yang kayak gini nih :

Hasil gambar untuk hand blender philip
gambar : www.tokoperabotan.com


Memang, jadi beda dengan hasil dengan cara emak. Sambal kacang blender tidak bisa disimpan berminggu-minggu karena hasilnya adalah seperti sambal yang sudah diencerkan. Kalau memblendernya lama dan airnya agak banyak, jadinya halus seperti  saus. Berbeda dengan sambal emak saya, yang seringkali masih ada kasar-kasarnya. Sebab itu, saya menyebutnya, saus kacang. Ini sih istilah suka-suka saya aja untuk membedakannya. Toh, bahannya dan rasanya ya sama ajaaa :)
 
Beda generasi, beda cara, beda hasil yaaa…


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?