Main Sebentar ke Selayar (1)

28 Juni 2022










26 Mei 2022

Sebelum pukul 07.00 kami berempat sudah bertolak dari Makassar. Paling lambat tengah hari, kami harus tiba di Tanjung Bira supaya tak ketinggalan kapal pukul 14.00 menuju Kepulauan Selayar. Tak meleset dari hitungan,, kami tiba di pelabuhan Tanjung Bira sekitar pukul 12.00. Jika sesuai jadwal, tentu kami belum terlambat.

Namun, hari itu tak berjalan sesuai rencana.

Menurut jadwal reguler yang kami lihat di internet, dalam sehari ada dua trip kapal dari Tanjung Bira ke Pelabuhan Pamatata, Selayar. Kapal pertama pukul 08.00, sedangkan yang kedua pukul 14.00. Tiket tak bisa dipesan online. Sebab itu kami mengejar waktu. Tiba di Bira setidaknya dua jam sebelum keberangkatan untuk proses antri beli tiket. Apalagi, BJ dan saya jarang bepergian dengan kapal. Ini juga pengalaman pertama Bira ke Pamatata.

Ternyata, hari itu ada tiga trip kapal ke Selayar. Memang, jika ada situasi khusus, jadwal bisa saja berubah. Ketika kami bermaksud membeli tiket, kapal kedua sedang bersiap meninggalkan dermaga. Dari loket tiket, kami bisa melihat kapal putih dengan lambung bertuliskan “We Bridge the Nation” bergerak pelahan ke lautan.

Kami baru bisa ikut penyeberangan ketiga, yang dijadwalkan paling cepat pukul 17.00 (sangat mungkin molor). Saat itu, kami belum bisa langsung membeli tiket. Kami hanya bisa memasukkan nomor antrian yang diberikan petugas di pintu gerbang pelabuhan. Nomor antrian terkumpul adalah garansi dapat tempat di kapal.

Ya udah deh… mau bagaimana lagi, ya kan? Bersyukurnya, tak ada agenda yang harus kami kejar di Selayar. Lagipula, pemandangan Bira itu cantik. Meski sudah beberapa kali main ke Bira, kami belum bosan dengan pantai berlaut biru di ujung bawah Sulawesi Selatan itu. Kami membuang waktu menunggu dengan bermain di pantai Bara yang tak terlalu jauh dari pelabuhan.

Sekilas Selayar

Sebelum pindah ke Sulsel, saya kurang familiar dengan nama Kepulauan Selayar. Meski sama-sama punya kawasan laut yang menjadi taman nasional, saya lebih sering membaca nama Wakatobi yang terletak di Sulawesi Tenggara. Di peta, Kepulauan Selayar bisa cepat ditemukan dengan mengarahkan pencarian ke ujung selatan kanan (tenggara?) Sulsel.

Jarak Tanjung Bira ke Pelabuhan Pamatata Selayar bisa ditempuh sekitar dua jam. Belakangan, saya baru tahu kalau ada kapal langsung dari Makassar menuju Selayar. Tentu saja, jaraknya lebih jauh, jadi butuh waktu tempuh kurang lebih sembilan jam.

Selayar adalah salah satu dari sekian pulau-pulau yang berada di wilayah laut Sulsel. Waktu perjalanan (darat + laut) yang cukup lama, membuat pergi ke Selayar lama tersimpan di kotak keinginan. Beda dong dengan menyeberang ke Pulau Samalona yang masih dekat dari Makassar.

Secara administratif, Selayar merupakan kabupaten sendiri. Selayar merupakan satu-satunya kabupaten di Sulsel yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan Sulawesi. (Di Sulsel memang ada Kabupaten Pangkep yang merupakan singkatan dari Pangkajene dan Kepulauan. Meski mengandung kata “kepulauan”, tak semua wilayah Pangkep terpisah dari daratan Pulau Sulawesi).

Sebagai daerah kepulauan, Selayar terdiri dari banyak pulau dengan ukuran beragam. Pulau-pulau utamanya adalah Selayar, Jampea, Kayu Adi, dan Bonerate. Di perairan Bonerate-lah terdapat Taman Nasional Takabonerate yang pasti sudah dikenal para pecinta wisata laut dalam.

Selayar juga dikenal dengan nama Tana Doang yang artinya Tanah Udang. Ini mengacu pada bentuk pulau Selayar yang ramping memanjang seperti udang. Versi lain, Tana doang juga berarti tanah tempat berdoa. Di masa lalu, Selayar menjadi tempat transit (berdoa) bagi para pelaut yang hendak melanjutkan perjalanan ke timur maupun ke barat. Selayar memang sempat memiliki peranan penting dalam jalur perdagangan di masa itu.

Kami pergi ke Selayar tanpa ekspektasi tinggi. Mengunjungi Taman Nasional Taka Bonerate jelas tidak kami agendakan. Sebab, untuk menuju kesana, masih perlu satu trip penyeberangan lagi. Lagipula, untuk menikmati keindahan bawah laut secara paripurna tentu butuh kemampuan menyelam. Sementara saya, sekadar snorkeling pun agak takut-takut (soalnya saya pernah tersengat mahluk-entah-apa saat snorkeling di Samalona).

Intinya, tak ada agenda atau tujuan khusus. Pokoknya pergi ke Selayar saja. Tak ada itinerary yang rapi dan tercatat. Dengan rencana perjalanan pulang pergi hanya 3 hari dua malam (termasuk PP Makassar), kami tak muluk-muluk mau ke semua tempat. Bisa ke Selayar saja sudah hepi, aji mumpung masih tinggal di Sulawesi😀. Itung-itung menambah koleksi pulau yang sudah dikunjungi. Faktanya, sebagai warga negara maritim, pulau yang saya jejaki masih bisa dihitung dengan jari. Padahal, menurut data, Indonesia punya 17.000 ribu pulau.

Angka yang rasanya sudah besaaarrrr. Tapi ternyata Indonesia bukan negara dengan pulau terbanyak lho. Tebak, negara mana yang jumlah pulaunya paling banyak sedunia?? Bagi yang belum tahu, lanjut baca sampai akhir yak…

“Nama Baru”

Menjelang pukul 16.00, kami sudah tiba kembali di Pelabuhan Tanjung Bira. Sudah ada sekumpulan orang menunggu loket tiket yang belum dibuka. Tidak ada kursi di area loket, jadi para calon penumpang menunggu dengan berdiri, jongkok, atau ngampar di lantai.

Tak seberapa lama, petugas memanggil nomor urut antrian. Saya harus mendekat ke loket karena petugas tak menggunakan pengeras suara. Takut dong terlewat dipanggil. Di dinding loket, ada anjuran untuk mengunduh sebuah aplikasi supaya bisa mengisi data secara online. Tapi tak ada anjuran langsung dari petugas. Saya juga belum tahu bagaimana alurnya (tadi di atas, saya tulis kalau saya dan BJ tak banyak pengalaman menyeberang dengan feri).

Saya melihat beberapa calon penumpang diminta KTP. Jadi saya pun menyiapkan KTP. Tapi, ketika saya dipanggil, petugas tak meminta kartu identitas. Hanya sedikit tanya jawab, lalu bayar, lalu tiket langsung di tangan. Saya membayar tiket untuk mobil minivan sudah termasuk penumpang. (Untuk tarif penyeberangan bisa dilihat di website ASDP).

BJ mengerutkan kening ketika membaca nama-nama kami di tiket. Dari kami berempat, hanya si sulung yang namanya tertulis secara benar. Lainnya, berubah nama semua. Budi Jalu jadi Udin Jalu, Lisdha jadi Risdha, Ernest jadi Arnes.

Wew..gini nih kalau penulisan nama hanya berdasarkan tanya jawab. Mungkin terasa bukan masalah, saya pun tak protes apa-apa saat menerima tiket (mungkin juga sudah hal biasa?). Tapi buat BJ yang lebih teliti dan suka mikir panjang, itu jelas persoalan. Tentu saja, jauh-jauh deh kejadian kecelakaan. Namun, kalau itu diizinkan terjadi, bagaimana rilis manifes penumpang? Siapa mengira itu kami, lha wong namanya saja beda? Apalagi, kami hanya bilang ke satu tetangga soal pergi ke Selayar. Akhirnya, foto tiket saya kirimkan ke seorang kakak sembari bercanda soal nama-nama baru kami.

Tapi kenapa saya nggak diminta KTP pas di loket yak? Kalau saja setiap penumpang wajib mengunduh aplikasi pengisian data, atau setidaknya diminta menuliskan nama, pasti bisa meminimalisasi kesalahan semacam ini. Memang bukan masalah ketika kapal baik-baik saja. Tapi bagaimana kalau ada kejadian yang tak diinginkan?

Naik Kapal

Di langit barat, tersisa sedikit warna keemasan ketika mobil kami bergerak di dermaga. Sunset sore itu tak terlalu cantik. Menjelang maghrib, kami baru naik ke badan kapal. Kami menanti kapal berangkat dengan berdiri di jendela, mengamati ikan-ikan yang berenang di sekitar dinding kapal. Meski senja, bening air dermaga bira masih cukup terlihat. Ikan-ikan kecil aneka warna yang langsung menyerbu cepat ketika ada makanan dilempar oleh penumpang. Sesekali, juga tampak ikan pari berwarna gelap melintas di antara mereka.

Hari sudah petang ketika kapal perlahan meninggalkan dermaga. Semakin menjauhi dermaga, semakin tak terlihat pemandangan di luar, kecuali kelap-kelip di kapal lain di kejauhan dan kelap-kelip bintang di angkasa. Di langit, bulan sedang tak tampak.

Malam itu, kapal tak penuh penumpang. Terlihat, masih banyak kursi yang lowong. Saya dan anak-anak leluasa untuk berjalan ke sana-kemari saat merasa jenuh. Sedangkan BJ banyak menjalankan peran menjaga barang sambil membuka gawai. Ia memperlihatkan rute dan posisi kapal melalui peta dalam jaringan. Cukup membantu saya yang sering disorientasi arah.

Kapal yang membawa kami bernama KMP Kormomolin. Bagi saya yang tidak akrab dengan perjalanan laut, nama itu terasa asing. Saya pun membuka mesin pencari, mengetik Kormomolin, lalu mendapatinya sebagai nama sebuah daerah di Pulau Tanimbar Maluku.

Ada apakah di Kormomolin sehingga ia dijadikan sebuah nama kapal yang cukup besar? Apakah kapal ini, sebelum menempuh jalur Bira-Selayar, sempat melayani perjalanan di Kepulauan Maluku? Nama wilayah yang sejauh ini hanya saya lihat di peta, sebagai kumpulan pulau-pulau kecil dengan legenda rempah-rempah di masa lalu. (Tuh kan...jadi pengin tahu aja).

Puji Tuhan, sekitar pukul 21.00, kapal berlabuh dengan selamat di Pamatata. Kami tak berlama-lama di pelabuhan. Butuh waktu sekitar satu jam bermobil menuju Benteng, ibukota Selayar. Meski sudah membuka-buka aplikasi pencarian hotel, kami belum booking tempat penginapan. Rencananya, kami memang akan datang langsung saja ke salah satu hotel yang sudah lihat di aplikasi.

Masuk Kota Benteng, jalan terlihat lengang. Benteng hanya kota kecil, wajar kalau menjelang tengah malam sudah sepi. Tak terlalu jauh dari kantor bupati, kami langsung ketemu hotel yang sebelumnya sudah kami telusuri di aplikasi. Beruntung, kami langsung cocok begitu melihat kamar (lagian badan sudah sangat capek, tak sanggup lagi untuk cari penginapan yang lain). Masalahnya, badan lelah, tapi perut masih giat mengirim sinyal rasa lapar. Usai mandi, kami langsung keluar mencari makan. Jauh-jauh ke Selayar, tapi upaya kami mencari tempat makan berakhir di ayam penyet Jawa Timuran.

Saat kami makan, hujan deras turun tiba-tiba. Kami terpaksa hujan-hujanan masuk tempat penginapan. Malam itu, kami tidur cukup nyenyak dengan harapan cuaca cerah di esok hari.

(Bersambung)



Menunggu di Pantai Bara





Cemilan siang di Pantai Bara. Pisang dengan sambal.





Kantor Pelabuhan Bira




Masuk dermaga. Entah mengapa, saat itu kalimat We Bridge The Nation terasa sangat bermakna.





Meninggalkan Bira




Kapal terasa lengang



-------------------------------------


Bonus :
Lima negara di dunia dengan jumlah pulau terbanyak :
Swedia (267 ribu pulau)
Norwegia (239 ribu pulau)
Finlandia (178 ribu pulau)
Kanada (52 ribu pulau)
Amerika Serikat (18 ribu pulau)
Sssttt.... Indonesia nomor berapa ya? Ini dia :
6. Indonesia (17 ribu pulau)


Credit : Peta Selayar dari http://pariwisata.kepulauanselayarkab.go.id


26 komentar

  1. Lumayan juga nunggu kapal pemberangkatannya ya Mbak. Untung dekat dengan Pantai Bara jadi bisa melipir dulu ke sana. Iya, kalau ke Selayar emang gak pernah diminta setor KTP cuma kasih nama saja. Btw keren nih sekeluarga ke Selayar buat jalan2 saja.

    Kalau saya ke Selayar biasanya saat ada momen tertentu saja seperti hari raya gitu karena ada keluarga di sana.

    Bagi saya perjalanan ke Selayar memiliki kesan tersendiri karena medan yg ditempuh berbeda dengan daerah lain di Sulsel (harus nyeberang Pulau dulu) selain itu suasana di Selayar juga agak berbedalah. Ditunggu cerita selanjutnya...

    BalasHapus
  2. Ah berlayar, buat aku yang suka mantai lebih enak lihat perairan dari daratan, indah malah. Kalau udah di atas kapal hemm ga kebayang takutnya gimana, nyerah dulu sebelum naik ke dermaga. Ah, pisang sambal rasa manis dan pedas sambal yang unik memang ajaib, pernah nyoba, jadi pengin lagi. Terima kasih sharingnya!

    BalasHapus
  3. Aku takjub ngeliat jumlah pulau2 di Swedia dll. 17 RB pulau di Indonesia aja ga tau kapan bisa didatangin semua, ini lagi 267,000 🤣🤣.

    Mbaaa, asiiik banget ke Selayar. Aku tau pulau ini pas baca bukunya mba trinity. Jadi pengen sih kesana, tapi Ntah kapanlah ada waktunya 😂. Sementara ini baca2 cerita temen yg udah kesana aja. Ditunggu lanjutannya mba

    BalasHapus
  4. Seru yaaa, antrinya lama juga mau naik kapal hihi. Untung Pantai Biranya keren bisa sambil mainan untuk nunggu kapal. Seumur hidup saya baru berkunjung berapa pulau yah? Sumatera, Kalimantan, Madura, Bali, Lombok, yaah.. gak sampe 5 pulau, padahal Indonesia ada 17rb pulau yak hehe

    BalasHapus
  5. Indonesia keren nih jadi top 6 negara yang memiliki jumlah pulau terbanyak ada 17.000 pulau. Tapi salfok sama negara swedia yang punya ratusan pulau jadi mikir kira-kira nih pulau punya nama semua gak sih. Terus presidennya hapal gak ya nama pulau nya. Wkwkwk

    BalasHapus
  6. Indonesia emang kaya banget ya dengan keindahan alamnya. Pulau-pulau kecil banyak banget. Sampai 17 ribu pulau. Kalau setiap bulan mengunjungi satu pulau, bisa berapa tahun tuh ya selesai mengunjungi semuanya?

    BalasHapus
  7. Masyaallah, aku sudah merasa Indonesia memiliki banyak pulau, tapi Swedia bikin aku ternganga, bagaimana caranya mendata pulau-pulau itu dengan detil. Tapi pulau merupakan kekayaan yang tidak ternilai memang

    BalasHapus
  8. Enak ada camilannya. Travellingnya asik banget berpetualang seru naik kapal. Jadi kepengen juga

    BalasHapus
  9. Astagaaa itu nama diganti semua enggak bikinin bubur merah putih pula...ngasl bener duh. Setuju, bahayanya itu kalau ada apa-apa manifes penumpang sulit dilacak.
    Ya ampun baru juga bagian satu, dah nampak langit dan laut biru , juga singkong dan sambalnya...jadi mupeng ke Selayar akuuu

    BalasHapus
  10. Sudah 4 kali ke Makassar tapi belum pernah sekalipun ke Selayar. Padahal pengen banget. Sebuah pulau yang cantik dengan pasir putihnya yang menawan seperti bedak. Dulu Sudah mau ancang-ancang ke sana tapi mengingat naik kapalnya cukup lama yakni 9 jam, terpaksa batal lagi. Kayaknya harus kelamaan di Makassar baru deh bisa mampir ke Selayar

    BalasHapus
  11. Deg-degan ya mbak kalau perjalanan mengejar waktu apalagi tiketnya gak bisa dibeli secara online. Alhamdulullah meskipun molor waktunya masih bisa berangkat saayt itu.
    Indah banget ya Selayar, aku belum pernah ke sana, bisa merasakan suasana pesisir laut

    BalasHapus
  12. Wah Indah banget viewnya. Seru banget ya bisa mengunjungi Pulau Selayar bareng keluarga. Ini Masih bersambung ya ceritanya. Wah, jadi pengen tahu kisah selanjutnya di Pulau Selayar

    BalasHapus
  13. Pantai Selayar indah sekali. Aku beberapa kali pernah dengar tapi belum pernah ke sana. Ternyata pisang goreng dimakan sama sambal enak lho hehe

    BalasHapus
  14. Mbaaak, dirimu udah kemana-mana aja masih merasa belum keliling Indonesia.. Akuuu ini keluar Pulau Jawa baru ke Makassar doang. Huhu... Pengeeeennn banget bisa ke Indonesia Timur, atau kalau di Sumatera ya ke Padang atau Palembang gitu (kalau yang 2 ini karena aku suka rendang dan pempek, jadi pengen makan langsung di sana, hehe).

    BalasHapus
  15. Baca ini sambil doaaaa smoga suatu saat bs plesir ke sini jugaaa
    Ama.anak2 pasti seru dan berkesan bgt ya

    BalasHapus
  16. Yaaah kok bersambung sih 🥲 Besok kalau udah nyambung lagi tulisannya, kabarin ya Mbak 😍

    BalasHapus
  17. Dennise Sihombing7/06/2022 10:18 PM

    Liburan ke Indonesia Timur dengan pantainya yang masih biru, menjelajahi banyak pulau memberikan kebahagiaan tersendiri. Btw cemilan pisang makan dengan sambel sama ya kaya di Manado. Awalnya aku juga aneh pisang goreng kok dimakan dengan sambel. Tapi setelah adaptasi ternyata enak kok, he he he

    BalasHapus
  18. Dari Makassar ke Tanjung Bira lumayan jauh juga yaa..
    Trus naik kapalnya ke Pulau Selayar butuh waktu berapa lama, kak?

    Aih, uda ada tulisannya bersambung aja sih..
    Hehhe, gak sabar berpetualang ke Pulau Selayar bareng kak Lis sekeluarga.

    Btw, pisang goreng dicocol sambal rasanya bagaimana, kak Lis?
    Sambelnya tampak menggoda kalau disandingkan dengan nasi anget ((uhhuu, gabisa banget liat sambelan))

    BalasHapus
  19. Mbak Risdha, eh Lisdha, hihi ... urusan naik kapal itu agak nyebelin mbak. Waktu kami ke Kepulauan seribu juga susah mau pesan online. Bahkan ada speed yang murah tapi hanya 20 orang per hari, itu kudu antre dari subuh. Antrenya ga boleh ditinggal, duduk aja di depan loket.

    Eh ku pikir selayar itu pulau kecil ternyata bisa bawa mobil ke sana. Salah satu bucket list waktu masih tinggal di Sulawesi. Ku tunggu kelanjutannya yaaa

    BalasHapus
  20. kalau kepulauan gitu jadii muter-muter banyak ya naik kapal ya mau tidak mau. mak kamu keceeee jalan-jalan begiini. aku liat laut lama2 mabuk biasanya. pdhhl di sini rata2 pantai dan laut juga tapi ttp aja mabuk

    BalasHapus
  21. Wah
    Kawasan Indonesia timur ini emang surga tersembunyi y mbak
    Indah pake banget
    Penasaran makan pisang goreng sM sambal

    BalasHapus
  22. Mba, aku ga sabar menunggu postngan berikutnya. Penasaran banget dengan kisah di Selayar. Perjalanannya aja udah asyik nih untuk diikuti, apalagi pengalaman di Selayar. Jauh-jauh ke sana makan pertama malah penyetan ya mba hehehee...

    BalasHapus
  23. Waduhh namanya diganti sesuka hati, bener juga misal ada musibah jadi gak cocok manifes penumpang. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya mbak. Aku salah fokus dengan sambelnya, itu singkong goreng atau pisang sih, ngiler deh, hahahaa

    BalasHapus
  24. Kayaknya aku beberapa kali pernah tau tentang selayar ini cuma belum tau letak tepatnya di mana, kalau sulawesi emang terkenal dengan pulau kecil-kecilnya sih seperti pulau ora dll.. tapi kayaknya aku susah kesana,, belum tentu punya kesempatan kesana, baca gini ikutan senang dan jadi tau

    BalasHapus
  25. Wah asyik banget nih bisa main ke Selayar. Walopun cuma sebentar. Huhu aku udah lama deh gak naik kapal begini. Terakhir kayaknya waktu kuliah. Hahah 25 tahun yang lalu. Duh mau banget ih kapal-kapalan lagi. ☺

    BalasHapus
  26. Wuooww Swedia, aku pikir dia negara daratan aja ternyata banyak pulau2 juga bahkan ratusan ribu yaa
    Hayo lhoo kenapa gak dimintain KTP? Jangan2 petugasnya kenal hihi kidding, alhamdulillah selamet2 yaa sampai tujuan dan pulang
    Seru banget pastinya liat laut dan pulau2
    Ditunggu sambungannyaaa :D

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)