Bom Makassar

 

Foto dari tangkap layar video di grup WA. Sumber tidak diketahui

Kabar ledakan bom di negeri ini sudah tidak mengagetkan lagi. Memang bukan peristiwa saban hari. Namun, faktanya di negeri ini bom meledak secara berkala, walau memang tak tentu periodenya. Saya tidak membuka data, tapi rasanya setiap tahunnya selalu ada kejadian serupa.

Selain soal waktu, pelaku sering menarget sasaran yang sama, yakni gereja. Sering berbeda dengan selalu ya...

Paradoks Kesepian

 

langit suatu sore, di seberang Trans Studio Mall Makassar

Kesepian, kadang seperti uap

Pelan dan lembut menelusup celah

Luput dari penglihatan yang lelah

Terasa siksanya setelah jiwa meresah

 

Sepuluh Bulan di Makassar

 

satu senja di Pantai Akarena - Makassar

Maret 2021. Tang-ting-tung, ternyata sudah hampir sepuluh bulan saya dan anak-anak di Makassar. Berbeda dengan BJ yang sudah setahun lebih sedikit. Tahun lalu, BJ memang berangkat lebih dulu. Sedangkan saya, Ale, dan Elo menyusul kemudian karena menunggu kenaikan kelas.

Diajak ke Mappettuada, Lamaran Adat Bugis

 

kerudung hantaran yang tepat di depan tempat duduk saya
isinya, aneka kue

Dalam banyak budaya, salah satu acara yang kental dengan prosesi adat adalah pernikahan. Tata cara adat tidak hanya dilaksanakan pada hari-H pernikahan. Acara adat bahkan sudah mewarnai tahapan sejak sebelum pernikahan, seperti lamaran.  

Pada Minggu (14 Maret), saya dan BJ diajak ke sebuah acara lamaran oleh keluarga angkat kami. Puji Tuhan, begitu pindah ke sini, kami langsung punya orangtua angkat. 

FYI, keluarga angkat kami di Sulawesi ini adalah pemilik rumah yang kami tinggali. Dengan posisi rumah yang saling membelakangi, praktis bapak dan ibu angkat sekaligus tetangga terdekat. Beberapa kali pindah tempat tinggal membuat saya berpikir, hubungan baik dan dekat dengan orang-orang setempat adalah berkat. Family is not always blood itu benar adanya.

Akhir Cerita, Wisata Macam Apa (FamTrip Toraja #5)

 

Ke Toraja, seolah wajib foto dengan tongkonan ^-^

Menginjak Toraja langsung mengaitkan ingatan saya pada Coco. Film animasi produksi Pixar yang mengisahkan petualangan Miguel, bocah kecil yang ingin menjadi musisi. Cita-cita masa kecil yang yang langsung terganjal restu keluarga. Suatu ketika, tanpa sengaja Miguel masuk ke dunia orang mati. Di sana, ia berjumpa dengan kakek buyutnya yang terlunta.

 Film Coco menyajikan cerita  menyentuh berkaitan dengan dunia arwah. Alih-alih gelap dan horor, Coco justru terlihat meriah. Film dengan pendapatan 807,8 juta USD ini juga menjadi promosi luar biasa bagi kebudayaan Meksiko ke seantero dunia. Berkunjung ke Toraja, mau tak mau membuat saya berpikir, pasti sangat keren jika diangkat dalam film animasi seperti Coco.

Di Ketinggian Negeri Atas (FamTrip Toraja #4)

 



Part #4. 

Ada beberapa pendapat tentang asal-usul nama Toraja|1. Salah satunya adalah dari orang-orang Bugis yang menyebut to riaja, artinya orang yang berdiam di negeri atas. Dalam peta, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara memang tergambar dengan warna coklat dan coklat muda. Warna yang menandakan jika Toraja terletak di ketinggian.

Saat berkunjung ke Toraja, medio Februari 2021 lalu, BJ-saya-Ale-Elo, berkesempatan menapak dua tempat yang di Toraja pun dianggap tinggi. Yakni, Buntu Burake pada hari pertama, dan Lolai di hari kedua. Berikut ceritanya :

“Sambutan Personal” di Batas Kota (FamTrip Toraja #3)


Saya akan mengawali tulisan ini dengan menyebut satu nama, yaitu Kamasean Matthew. Apakah kamu merasa familiar dengan nama ini? Jujur, saya sih tidak. Ok, ganti, bagaimana kalau Sean Idol? Saya bukan penonton setia Indonesia Idol (lebih suka melihat edisi audisi daripada babak spektašŸ˜€). Namun, saya tahu Sean adalah salah satu “lulusan” ajang pencarian bakat itu.

Saya membawa-bawa nama Sean ke tulisan ini karena dia berasal dari Toraja!