Mencicip Nasu Cemba di Gunung Nona (Famtrip Toraja #2)

Gunung Nona, Bambapuang, Enrekang, Sulsel

Hari sudah menjelang siang ketika kami meninggalkan PLTB Sidenreng Rappang. Kami berempat bergerak menyusur jalan menuju Kabupaten Enrekang. Ini adalah perjalanan pertama saya dan anak-anak melewati Bumi Massenrempulu. Sedangkan bagi BJ, chief of the family, ini adalah perjalanan kesekian. Hari itu, kami melewati Enrekang dalam perjalanan ke Tana Toraja.

Baca : Mampir Sebentar di PLTB Sidrap

Jalanan naik turun dan berkelok, sesuai dengan julukan massenrempulu yang berarti daerah pinggiran gunung. Hari mendekati separuh, sebentar lagi jam makan siang.

Mampir Sebentar ke PLTB Sidrap (Famtrip Toraja#1)

 

Karena tidak bisa naik bukit, hanya bisa foto turbin dari kejauhan



Mumpung lagi tinggal di Sulawesi Selatan, sebisa mungkin kami explore tempat-tempat menarik di provinsi ini. 
Medio Februari 2021, saya-BJ-Ale-Elo  family trip ke Toraja.  Dalam perjalanan berangkat dari Makassar, kami mampir di Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Sidrap. Di Indonesia, PLTB masih terbilang langka. Maka, mampir ke PLTB Sidrap saya dokumentasikan di sini.

----------------------------------------------------------------------------

Apa kabar listrik di rumah teman-teman? Semoga tidak sedang oglangan.  Kalaupun oglangan, ketika teman-teman bisa membaca tulisan ini berarti masih punya cadangan energi listrik di gawai. 

Ada yang asing dengan kata oglangan? Haha, saya juga baru tahu setelah kuliah di Solo. Oglangan berarti mati listrik alias power off. Hihi, unik kan?

Hari gini, energi listrik memang sudah menjadi kebutuhan vital. Tak hanya di perkotaan, tapi juga sampai pelosok pedesaan. Mati listrik seharian saja sudah bikin kelabakan, ya nggak?

Selepas Siang di Rammang-Rammang



Rammang-Rammang, nama yang terdengar unik di telinga. Terutama bagi yang pertama kali mendengarnya. Apakah kalian sepakat? Pada sebagian orang, Rammang-Rammang membuatnya langsung teringat pada kata ulang remang-remang, suatu keadaan dengan pencahayaan yang sangat kurang. Pada saya, nama Rammang-Rammang langsung mengaitkan otak pada binatang siamang. Bukan karena banyak siamang di Rammang-Rammang, tetapi murni karena kesamaan rima.

Padahal, Rammang-Rammang tidak berhubungan dengan remang-remang maupun siamang. Beda cerita dengan “saudara dekatnya”, Bantimurung yang identik dengan kupu-kupu. Rammang-Rammang adalah sebuah tempat dengan pemandangan yang menawan. Bebatuan karts, sungai, sawah, perahu, kolam, rumah panggung, dan lain-lain terhampar saling berdampingan. Nama Rammang-Rammang konon terberi karena kabut yang sering turun menghampiri.

Hari Murung di Bantimurung



Hari hujan cenderung digambarkan sebagai waktu yang murung. Langit kelabu di saat hujan membuat warna-warna cenderung terlihat muram. Basah dan becek juga membuat orang tidak bisa bergerak dengan leluasa.  

Namun, hanya diam selama musim penghujan justru bisa membuat rasa murung makin meraja. Sebab itu, sesekali kami tetap bepergian. Tentu saja, kami pergi dengan tetap berusaha mematuhi protokol kesehatan. Tempat yang minim kerumunan adalah salah satu faktor penting dalam menetapkan tujuan jalan-jalan.