Si Bungsu Yang Selalu Bermasalah

pic :www.winnetnews.com



Sebenarnya, cerita ini adalah pengembangan dari status facebook-ku. Tadinya mau cerita panjang lebar di status facebook saja. Tapi hape mungilku sudah lemot, tak mau diajak ngetik cepat-cepat. Ya sudah, ngetik seadanya saja. Nanti lanjut panjang lebar di blog sampai puas, puas, puas #IntonasiAlaTukulArwana.


Si bungsu di sini bukan si Elo yaaah. Kalau situasi tidak menyenangkan dari si bungsu yang itu sih tidak aku sebut sebagai MASALAH (huruf besar). Tapi konsekuensi logis dari punya anak. Kalau beberapa waktu lalu memang ada “masalah”,  Puji Tuhan, bisa teratasi.  Aku berpikir, masalah dari/karena anak, seringkali ditujukan untuk mendewasakan orangtuanya. Terbukti, aku dan BJ rasanya jadi lebih temuwo (dewasa) setelah kehadiran anak-anak dengan segala suka dukanya.


Ehhh...tuh kan, kebiasaan banget kalau menulis sesuatu malah melenceng ke mana-mana. Balik ke laptop #MasihAlaTukulArwana. 

Lebih dari satu dekade lalu,  aku sering pusing. Setelah serangkaian cek medis, ada dugaan pusingnya berkaitan dengan gigi geraham bungsu yang tak bisa tumbuh karena sempitnya ruang. Rasanya, aku menyimpan hasil foto rontgenku. Buat jaga-jaga, kalau suatu saat mesti menjalani tindakan serupa lagi. Eh tapi di mana ya? Menulis ini jadi teringat lagi pada foto itu. Tapi di mana yaaa??

pic : www.hellosehat.com

Singkat cerita, dalam rentang waktu yang tak terlalu jauh (sepertinya hanya dalam hitungan bulan, bukan tahun), aku menjalani dua kali bedah gigi bungsu. Iya bedah, bukan cabut. Sebab, gigi itu masih tersimpan di dalam gusi, belum nongol sama sekali. Bahkan, gusinya pun masih baik-baik saja. Dalam artian, tak ada bengkak atau sebangsanya.

Detail proses operasinya, aku sudah lupa. Tapi aku masih ingat bagaimana saat alat bedah membelah gusi yang tertutup rapat. Apalagi gigi itu kan dekat telinga. Jadi, saat gusi itu dibelah, tidak hanya terasa, tapi juga seperti terdengar. Sllllsssshhhhhh.... bagaimana ya? Susah mengalihkannya dalam bahasa tulisan.  (Bertahun kemudian aku merasakan sensasi serupa dalam skala lebih besar saat operasi caesar).  Aku tak bisa melihat, tapi aku tahu saat lapisan gusiku dibelah.  Sakit? Kalaupun sakit hanya sedikit. Jelas saja, aku dibius. Dan biusnya cukup kuat. Tapi setelah pengaruh bius habis..duuuh, sakitnya bertahan hingga beberapa hari kemudian. Nyeriiiiii.... Aku tak bisa makan macam-macam. Waktu itu menuku hanya bubur-bubur-dan-sejenisnya. 

Operasinya sih tidak bikin traumatik. Dokter giginya ok dan kliniknya rapi wangi plus biaya bedah ditanggung kantor. Jadi enjoy saja. Tapi pasca operasinya itu looh. Mungkin karena saat itu aku tidak ambil cuti di hari setelah bedah. Tetapi aku langsung bekerja seperti biasa meski muka bengkak dan masih nyeri nyut-nyutan.

Gigi bungsuku besar dan utuh. Aku juga sempat menyimpannya, tapi sekarang entah di mana. Aku bukan Ikke Nurjanah, pedangdut cantik yang setia menyimpan gigi-giginya (dan anaknya) yang copot. Pasca bedah, pipiku bengkak. Tapi aku mesti kerja. Entah kenapa nggak ambil cuti beberapa hari. Kan sakit beneran. Belum lagi soal tampilan, olaaaa...muka seperti korban kekerasan.

Dua gigi bungsu sudah dibedah. Artinya, masih ada dua geraham bungsu tertanam dalam gusi. Tapi aku tak menuntaskan operasi bedah karena sakit kepala yang serupa dulu tidak lagi kualami. Bukannya aku tak pernah sakit kepala lagi. Pusing....itu sepertinya sakit yang wajar dialami setiap orang. Tapi aku belum pernah lagi pusing yang sesering dan sehebat dulu. Pusing-pusing saat ini, biasanya sembuh hanya dengan tidur. Atau kalau rasanya benar-benar pusing, aku akan minum asam mefenamat (aku merasa lebih cocok dengan obat itu daripada paracetamol).

Tapi, beberapa waktu belakangan aku merasa sisa makanan sering nyangkut di belakang gigi-geraham-belakang-sebelah-kanan. Masalah yang akan teratasi hanya dengan mendorong-dorongkan bagian lidah dan atau menggosok gigi. Soal gosok gigi, aku melakukannya seperti anjuran dalam iklan pasta gigi atau layanan kesehatan : rajin gosok gigi setelah sarapan dan sebelum tidur.

Seminggu lalu aku merasa gusiku sedikit bengkak. Tapi sakitnya tak hebat, sehingga aku tak merasa perlu makan obat. Waktu itu, aku sudah curiga, jangan-jangan si bungsu mau tumbuh. Kecurigaan yang langsung aku tepis sendiri, mengingat penjelasan dokter dulu kala, bahwa ruang belakang gusiku terlalu sempit untuk  tempat tumbuh geraham bungsu.

Kemarin, bagian belakang gigi itu terasa penuh dengan makanan nyangkut. Aku menggerak-gerakkan lidahku, dengan maksud mendorong makanan yang nyangkut itu seperti biasa aku lakukan. Masih saja terasa penuh. Jadi aku menggosok gigi dengan konsentrasi lebih di bagian itu. Tapi sikat gigi bukan lagi solusi. Jadi aku memakai tusuk gigi.

Menggunakan tusuk gigi, kuungkit bagian gusi sebelah geraham belakang dengan sedikit memaksa. Ternyata mau terbuka. Lalu terasa ada bagian yang keras. Itu pasti GIGI!!!! Kuambil senter lalu menghadap cermin. Kuarahkan sinar ke rongga mulut sembari menatap bayangannya di kaca. Ternyata, itu memang gigi, GIGI BUNGSU. Ironisnya, gigi itu sudah berlubang dan posisinya tetap di bawah lapisan gusi. Hanya akan terlihat kalau gusi diungkit. Sepertinya sih posisi gigi dan gusi terwakili oleh gambar berikut :

pic : www.jnynita.com


Tadinya sempat bertanya-tanya, kok bisa ya, gigi di bawah gusi tapi sudah berlubang. Tapi, segera mendapat jawaban setelah melihat gambar tersebut. Gigi tak bisa tumbuh sempurna karena sempitnya ruang. Lapisan gusi yang tak terbuka sempurna membuat sikat gigi tak bisa menjangkau permukaan gigi. Sisa makanan menumpuk dan jadilah kuman yang merusak si gigi.

Memang salahku juga sih, tidak menaati anjuran untuk pemeriksaan gigi secara berkala. Akibatnya, saat ada kerusakan begini, sudah telanjur terjadi. Apalagi, sebelumnya tidak ada warning sakit kepala rutin dan sangat seperti dulu. Tapi kalau sudah begini, mau tak mau harus berkunjung ke dokter gigi deh. 

Komentar

  1. Ya ampun mba... aku linu jadinya hehe... aku mau cabut gigi geraham yg atas aja, masih maju mundur cantik... takuuut :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungannya. Mohon tidak meninggalkan link hidup dalam komentar ya :)

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?