25/02/17

Penjelasan Paling Gampang Tentang Reksadana





Hasil gambar untuk investasi reksadana
pic source : www.klikmania.net

Walaupun sudah dua kali posting dengan topik reksadana, tapi saya malah belum pernah membuat tulisan tentang "apa itu" reksadana". Soalnya merasa belum punya kapasitas untuk menjelaskan, dalam level paling basic sekalipun. Tapi cukup sering, saat ngobrol sama temen, mereka bener-bener sama sekali belum mengerti "mahluk macam apa sih reksadana" itu? Dan beberapa waktu lalu, saya ikut Bareksa Fund Academy, yakni kelas online (di Whatsapp) bertema penjelasan dasar reksadana. 

Buat temen-temen yang tertarik ikut kelas Whatsapp dengan Bareksa, tinggal klik aja Bareksa.com. Cari deh menu Bareksa Fund Academy lalu isi data-data. Nanti kita akan dikirimi email konfirmasi dan nomor Whatsapp kita akan diundang ke kelas tersebut. Kelas berisi orang-orang baru yang mendaftar pada periode tertentu. Jadi bukan seperti kita masuk ke grup yang sudah berjalan.

22/02/17

Pengalaman Mencairkan Deposito

Hasil gambar untuk deposito
pic : www.tips-cepat.blogspot.com

Beberapa bulan lalu saya mencairkan deposito saya di Bank BCA. Saat ini, saya juga sedang dalam proses mencairkan deposito di bank Mandiri. Tampak keren ya punya deposito sampai dua biji. Padahal isinya mah minimalis semuaπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Yang penting kan pernah punya deposito, jadi bisa cerita berdasarkan pengalaman. Kalau dianggap pamer pasrah aja, niatnya bukan begitu ^_^
Saya membuka dua rekening deposito tersebut saat masih tinggal di Pematangsiantar. Pas bikin enggak nanya detail tentang pencairan deposito. Saya pikir sama saja seperti rekening tabungan biasa yang bisa dicairkan di mana saja.

Pengalaman Membuka Rekening Deposito




Hasil gambar untuk deposito
pic : www.kreditgogo.com


Duluuuu, kalau dengar kata deposito, yang terbersit dalam pikiran saya adalah uang yang buanyaaak. Ya sih, banyak itu relatif. Jadi saya perjelas kuantitas praduga saya tentang deposito yakni bilangan ratusan juta atau miliar rupiah hingga tak terhingga.

Jumlah uang yang hanya bisa saya sebut dan bayangkan hahaha.

Punya duit buanyaak, taruh di deposito. Then tiap bulan bisa santai-santai hidup dari bunga deposito. Aaah... kalau pinjam lirik lagu lawas milik Oppie Andaresta, ini cuma khayalan :)


18/02/17

Solusi (Atau Bukan?)


#Menepati janji  kemarin lusa untuk menulis tentang solusi atas situasi “garing” akibat diet HP.

   

Lihat gambar gadget di atas... ada yang pernah punya? Pernah pakai? Atau bahkan sekarang masih pakai? HP QWERTY yang terbilang keren pada masanya. Cukup mampu membetot perhatian para pengguna gadget, sehingga sampai mendapat sebutan “HP sejuta umat.”  Harga beli waktu itu tak jauh beda dengan harga beli HP android saya. Sekarang kalau dijual, Nokia ini laku berapa yah? Pasti sudah jatuuh banget dari harga belinya.

Maka itu, meski sempat beralih ke Blackberry dan android, si hitam mungil ini nggak saya jual. Mungkin karena itu gadget yang cukup lama saya pakai, jadi ada keterikatan, jadi ada rasa sayang untuk melepasnya, baik untuk dikasihkan maupun dijual.

Lagipula, kondisinya memang sudah kurang oke. Kotak kemasan sudah nggak ada, fisik barang sudah lecet, juga sudah sering mati sendiri walaupun baterai sudah diganti baru dan dalam kondisi penuh. Di masa Elo kecil, ini adalah HP yang banyak merekam foto-foto maupun videonya. Juga HP yang sering dia banting. Jadi, masih bisa menyala itu sudah suatu prestasi tersendiri.  Kalau dia sudah kurang oke, ya wajar lah. Pasti dia sudah lelah ^-^

Sebenarnya sebelum kembali memakai si Nok ini, saya juga sudah pakai dua gadget. Satu android, satu lagi Blackberry Curve yang tidak diisi paket BB. Pakai BB sekedar untuk telepon dan SMS kalau-kalau si android lagi dipakai bocil. Pakai dua gadget bukan karena sibuk atau gaya-gayaan (toh juga HP jadul semua hehehe). Terlebih si HP android sebenarnya sudah dual SIM. Tapi ya karena itu tadi, si HP android sering dipakai bocils.

Eh, kok ya ndilalah si BB ilang...

Beli HP baru lagi? Duh, rasanya kok sayang budgetnya. Karena dibilang penting ya penting, dikata nggak penting juga memang nggak terlalu penting. Keputusannya, pakai lagi si hitam yang kemarin-kemarin sudah tidur manis di laci. Hari-hari siang tanpa di android membuat saya berpikir untuk kembali internetan pakai Nokia. Coba-coba kembali install whatsapp dan opera mini, juga cek sambungan WLAN-nya. Eh ternyata masih oke.. Cuma masih sering mati sendiri nih.. Jadi saya niatkan untuk menservisnya. Tapi sebelum itu, HP kembali dikembalikan ke factory setting. Begitu dimasukkan ke tukang servis, dia bilang HP ini baik-baik saja. Nggak ada error sama sekali. Dan memang betul, kok jadi nggak pernah mati-mati sendiri lagi. Mungkin karena disetting pabrikan itu yah..

So far so good sih. Entah ini solusi atau justru akan menimbulkan masalah baru. Jangan-jangan nanti saya jadi keasyikan online sampai-sampai sama saja dong, nggak bisa kasih contoh membatasi pemakaian gadget sama anak-anak. Tapi, sejauh ini sih rasanya masih jadi solusi. anak-anak nggak pengin merebut si HP. Tapi, saya juga tak bisa terlalu asyik online karena gadgetnya nggak secanggih android. Setidaknya masih bisa lah sedikit-sedikit browsing (kebanyakan browsing ga bakalan nyaman karena tampilan layar yang terbatas). Setidaknya juga masih bisa juga chatting via Whatsapp (hanya sampai Juni nanti :D) meski hanya dengan orang-orang dan grup tertentu. Di nomor WA satunya, saya masih seorang silent reader dan slow responder πŸ˜€
 

15/02/17

Diet HP (Part 2)

Hasil gambar untuk meme kecanduan gadget
pic : www.loop.co.id

Saya dan suami bukan tipe orangtua yang "mengharamkan" anak-anak pegang gadget. Bagaimanapun, ada hal-hal positif yang bisa didapatkan anak-anak dari gadget. Tapi kami juga sepakat bahwa harus ada batasan bagi anak-anak dalam menggunakan gadget. Makanya, sejak beberapa bulan lalu, kami sudah memulai "diet HP". 

Namanya "diet", selalu berhubungan dengan "menahan diri", ya kan? Nah, ini jadi tantangan banget buat kami yang sudah terbiasa asik gadget-an. Padahal, menjadi orangtua adalah soal keteladanan. Nggak fair kan kalau kami teramat membatasi anak-anak bermain gadget, sementara kami sendiri asik gadgetan di depan mereka? Nggak perlu mengarahkan jari telunjuk ke orang lain, kami pernah (atau sering?) melakukan kesalahan ini. Bahkan program "diet HP" ini dulu awalnya juga dari kesadaran akan kesalahan tersebut.

Baca : Diet HP

Tapiiii... (ihiks...ada tapinya nih...), layaknya diet makanan yang tak selalu berhasil. Diet HP kami naik turun, bahkan gagal. Kegagalan ini dimulai sejak kami pulang kampung saat libur Natal 2016 dan Tahun Baru 2017. Namanya liburan yaaa... biasanya banyak aturan yang jadi lebih longgar. 

Kami jadi permisif bila Ale dan Elo mau main HP. Kegagalan diet saat liburan pulkam disambung kejadian "extra liburan", yakni Elo lima hari rawat inap di rumah sakit setiba kami di Medan. Untuk membunuh kebosanan Ale karena nggak bisa main kemana-mana, sementara saya harus pegang Elo, saya "minta tolong" pada HP. Pun untuk menghibur Elo, saya juga minta tolong pada HP. Main game, lihat foto-foto, lihat video.... Di saat-saat saya juga capek, rasanya HP jadi teman mengasuh yang handal. Siggghh....


Bisa dibilang, diet HP kami berada di titik nadir. (Tsaaaaah....)

Dan dampaknya luwarbiyasa loh... sepulang dari RS, si mungil Elo tampak ada tanda-tanda kecanduan HP. Bangun tidur, langsung minta HP. Dia akan betah sekali pegang HP itu, yakni untuk main game dan lihat Youtube. Dan dia akan menangis marah kalau kami meminta HP tersebut.

Gawaaaat.....

Ale sebenarnya juga dikit-dikit minta HP sih. Tapi dia sudah lumayan bisa dinasihati. 

Kami memang sepakat untuk tidak memberi mereka HP pribadi. Jadinya HP kami-lah yang mereka pakai buat main. Kalau si ayah lagi di rumah sih, duo bocil ini bisa pegang masing-masing. Tapi kalau si ayah lagi tak ada di rumah, cuma HP saya yang bisa dipakai. Kadang mereka bisa rukun lihat game/video di satu HP. Tapi ada kalanya mereka beda keinginan. Si abang sering mengalah. Namun ada juga masanya, dia ogah ngalah. Jadi deh berantem gara-gara HP. 

Huwoooo....mama puciiing jadinyah!! Solusi praktis memang masing-masing pegang HP, kayak gambar di bawah ini. Tapi apa iya, ini solusi? #PertanyaanRetoris

Hasil gambar untuk kecanduan gadget
pic : www.rendy37.wordpress.com

Hmmmmh.... diet HP harus kembali ditegakkan nih. Bukan saja demi menghindari berantemnya dua bersaudara ini, tapi juga kembali mengingat dampak buruk jika anak kebanyakan main gadget. 

Ooooh...maafkan ayah-bundamu yang belum konsisten ini ya Nak...

Jadi kami mulai lagi untuk aksi diet HP jilid 2. Kalau biasanya suami balik kerja lalu asik pegang gadget, sekarang (kecuali untuk urusan kerja yang urgent) tahan dulu sampai anak-anak tidur. Sementara saya, saat anak-anak (terutama Elo) terjaga juga sama sekali nggak pegang HP. 

Nggak cuma obat dan cairan pel lantai, HP pun kudu ditaruh di tempat yang tak terjangkau anak-anak. Mereka hanya kami izinkan bermain HP saat week-end.  Itupun tetap dengan batasan waktu. 

Dampaknya juga luwarbiyasah. Awal-awal diet keras ini, Elo masih suka rewel minta HP. Tapi hari berlalu, dia tak begitu lagi. Paling-paling kalau Senin pagi, dia pasti minta karena terbawa memori main HP saat wiken :D. Tanpa HP, mereka jadi lebih banyak main lego, main di halaman, atau main lainnya. Nonton TV juga sih hehehe.. Kalau Elo bisa lupa, si Ale beda lagi. Dia tampak sekali kalau sangat menahan diri.

Haha, sama sih Le, bunda juga menahan diri. Di Ale, diet HP membuat dia kehilangan kesenangan main game dan nonton video. Sementara di saya, diet ketat ini membuat saya semakin merasa teralienasi dari dunia luar. 

Bagaimana tidak. Saya belum punya banyak teman di Medan. Bahkan, dengan tetangga sekitar pun saya belum punya banyak hubungan perkawanan.Saya juga belum tergabung dengan komunitas offline apapun. Komunitas yang sekali-sekali bisa jadi oase bagi rutinnya suasana keseharian sebagai emak-emak rumah tangga.

Bisa dibilang, HP adalah sarana utama saya untuk tetap terhubung dengan teman-teman di luar. Memang hanya lewat chat, chat grup, dan facebook saja sih. Sempat bikin akun media sosial lain, tapi pada akhirnya cuma facebook yang bisa aktif.

Diet HP yang extra ketat bikin saya jadi nggak bisa mengakses itu semua, kecuali curi-curi kesempatan, semisal Elo pas tidur siang atau main di teras. Satu-satunya kesempatan hanya saat mereka tidur. Tapi kalau malam, biasanya saya ikut ketiduran atau masih ribet dengan kerjaan domestik.

Jadilah, saya sebagai orang yang sering lambaaat merespon chat dan seorang member grup chat yang nyaris selalu jadi silent reader. Saya juga jarang update status facebook. Sekali-kali bisa update status, saya juga slow respon dalam membalas komentar. Kesempatan terbaik untuk bermain gadget adalah malam hari, saat anak-anak sudah tidur lelap. Tapi di saat itu, biasanya saya masih ribet dengan kerjaan domestik atau malah sudah ikutan lelap. Praktis, saya jadi kuper (kurang pergaulan) baik di dunia nyata aupun dunia maya.

Bagaimana mau bisnis online kalau cek gadget saja syusyah? Hehehe

Meski rasanya sih saya belum sampai taraf kecanduan HP, tapi situasi  begini bikin saya kurang waras juga (keciaaaan...hahaha). Bersyukur, akhirnya ketemu solusi. Meski solusi ini jadi tantangan juga sih. Solusi apakah itu???? Rrrrr, sayangnya waktu nulis habis. Jadi belum bisa cerita sekarang deh. Saya ceritakan di tulisan selanjutnya yaaaa.... 😊😊😊😊😊😊







09/02/17

Bunda atau Mama?

Tetiba saya kepengin dipanggil dengan sebutan berbeda oleh anak-anak. Kalau anak pertama memanggil saya dengan sebutan "bunda", bolehlah anak yang kedua ini pakai panggilan "mama."

Haha, keinginan yang iseng. Nggak ada urgensinya sama sekali. Cuma sekedar kepengin aja. Rasanya unik saja kalau anak-anak memanggil ibunya dengan sebutan yang berbeda-beda.

Dulu sih pernah bercanda sama Ale, gimana kalau ganti panggilan ke saya dari bunda ke mama? Tapi Ale nggak mau. Mungkin sudah terbiasa, jadi telanjur nyaman.

Kemarin keinginan iseng itu tetiba muncul gara-gara Elo yang sampai sekarang belum bisa mengucap kata bunda. Elo ini memang agak terlambat bicara (speech delay). Di usianya sekarang (2,4 bulan), kosakata yang jelas baru "ayah" (dan ayahnya jadi senang banget karenanya). Di mulut Elo, nama abangnya -Ale- menjadi Ai. Sementara bunda menjadi Awa. Jauh banget ya....

Bahkan bagi batita dengan kemampuan bicara normal pun, kata bunda tak akan menjadi kata pertama yang bisa diucapkan dengan sempurna. Saya lupa sih, dulu bagaimana proses Ale bisa mengucap kata bunda dengan pas. Saya yakin, dia nggak ujug-ujug bisa bilang bunda. (Ah, menyesal nggak menuliskannya :D)

Mama adalah kata yang mudah terucap oleh manusia yang sedang belajar bicara. Dan memang kok, Elo bisa bilang "mama".

Tapi si ayah BJ tak mengizinkan panggilan yang berbeda ini. Katanya, ntar Elo bingung. Kemarin-kemarin bunda, kok sekarang mama? Abangnya panggil bunda, kok aku panggil mama?

Alasan yang masuk akal. Jadi, sudahlah, keinginan untuk punya panggilan berbeda itu saya sudahi saja. Tak urgent juga ^_^

Lagipula anak-anak itu sering unik. Sebagian mereka justru ada yang berinisiatif sendiri mengubah panggilan ke orangtuanya karena alasan-alasan yang kocak. Seperti anak seorang kawan yang semula memanggil "ibu", tiba-tiba berubah memanggil "mami". Alasan si bocah, mami itu lebih keren daripada ibu. Yang terakhir saya tahu, keponakan saya Iel, yang biasa memanggil kakak saya ibu, kemarin saya dapati dia menggunakan sebutan bunda. Alasan Iel, ibu itu bahasa Jawa, sementara bunda adalah bahasa Indonesia. Haha..

Bunda, Mama, Mami, Simbok, Emak, Umi, Mommy...apapun panggilannya, minumnya tetap.....

#lho????

Kehilangan Sekali Lagi

Satu lagi seorang kerabat pergi. Pergi jauh kepada keabadian. Kemarin, Rabu (8/2), salah seorang Oom saya dipanggil Tuhan. Dan lagi-lagi, karena jauhnya jarak, saya tak bisa datang langsung untuk turut mengantar kepergiannya yang terakhir. Hanya bisa berdoa dari sini, untuk beliau serta bulik, dan sepupu-sepupu saya, keluarga yang ditinggalkannya.

Ini salah satu konsekuensi tinggal jauh dari keluarga besar. Setiap ada kabar duka (ataupun suka), sebagian besar hanya bisa kami respon dengan ucapan dan doa dari jauh. Datang langsung jelas menuntut perhitungan waktu dan dana. Perhitungan yang hasilnya nyaris akan selalu condong pada jawaban "tidak bisa hadir."

Ya sih, mereka juga maklum.

Medan dan kampung halaman saya  memang masih satu Indonesia. Tapi toh, sudah terasa jauh. Faktanya, dari Jogja, terbang langsung ke Medan butuh waktu kurang lebih tiga jam. Sementara Jogja - Singapura (yang sudah luar negeri) hanya perlu waktu sekitar dua jam.

Dengan situasi keuangan kami, jadwal pulang kampung pun hanya setahun sekali. Tak ada anggaran khusus untuk pulkam dari kantor si ayah, sehingga kami benar-benar harus menyisihkan biaya untuk pulang. Itu pun seorang Oom saya pernah berkata, "nggak usah sering-sering pulanglah, mending uangnya ditabung, untuk beli rumah dan investasi lainnya."

Haha, iyaa, Oom yang satu ini memang agak prihatin dengan kondisi kami yang sampai sekarang masih jadi kontraktor alias rumahnya ngontrak. Tapi soal frekuensi kepulangan, mungkin kami punya standar yang berbeda. Setahun sekali pulang, buat saya dan suami, sudah terbilang sangat jarang. Seandainya memungkinkan, pengin bisa lebih dari itu. Bukan karena selalu terkangen-kangen dengan kampung halaman. Tapi karena orangtua. Sejauh masih bisa pulang, untuk menjenguk beliau berdua (tinggal ibu dan ibu mertua), kami memilih untuk pulang.

Jujur saja, setiap kabar duka dari rumah selalu terasa menyentak. Saya nyeri membayangkan bahwa suatu saat kabar itu adalah tentang kepergian ibu atau ibu mertua saya. Kalau ini, sudah bakalan pasti kami akan pulang. Apapun situasinya.

Hussssssss...
Ora ilok ngomong ngono (nggak boleh ngomong begitu). Pamali ngomongin kematian.

Ah entah, saya justru merasa lebih baik membicarakannya. Toh mau tidak mau, kematian tidak bisa ditolak. Dengan membicarakannya, saya justru merasa lebih ringan.

03/02/17

Elo Sakit Apa? #NulisLagi


Elo sakit apa?

Itu pertanyaan-pertanyaan yang mampir di kolom komentar facebook ketika beberapa waktu lalu saya post foto Elo yang masih diinfus di bed rumah sakit. Statusnya sendiri memang nggak jelas sih...nggak lengkap 5W+1H ala caption foto jurnalistik πŸ˜ƒ. Terlebih itu status pertama setelah berminggu-minggu nggak nyetatus (belakangan saya memang jarang fesbukan -sementara akun media sosial lain yang saya punya tak aktif sejak lama).

Jadi, sudah nggak jelas, tampak "ujug-ujug" pula. Nggak sedikitpun status-status sebelumnya yang bisa menjadi prolog dari kejadian sakitnya itu. Jadi cerita yang agak panjangnya di sini aja deh. Mana tahu teman-teman yang saat itu tanya dan saya jawab singkat-singkat sempat baca. Memang ini a very-very latepost sih... tapi berhubung sudah saya tulis dari beberapa hari lalu (dan nggak kelar-kelar), sayang kalau nggak jadi buat menuh-menuhi blog😼😼😼😼

Jadi, pada zaman dahulu .....

Eh, bukan begitu yaaak prolognya ^_^. 

Jadi begini ceritanya : (buka layar, silakan siapin teh dan camilan πŸ˜‰)

Alkisah, medio Desember 2016 itu kami mudik ke Jawa Tengah. Pertama, tujuannya ke Klaten ke tempat Mbah Uti (mertua saya) yang sedang sakit. Di sana kurang lebih dua minggu, Elo sehat-sehat saja. Ini sudah amazing karena dulu tiap mudik, Ale (abangnya Elo) pasti langsung ada sakitnya. Sakit demam/flu ringan aja sih. Mungkin dampak kecapekan di perjalanan (yang waktu itu Medan - Jogja belum ada penerbangan langsung, tapi mesti transit di Jakarta).

Sampai selanjutnya kami pindah tujuan mudik,  ke tempat Mbah Upi (ibu saya) di Temanggung yang cukup dingin. Nah di sini nih ada beberapa acara jalan-jalan. Baik piknik maupun acara keluarga. Salah duanya jalan-jalan ke Dieng yang duingiiin dan ke Rawapening di Ambarawa. Sejauh acara jalan-jalan, Elo masih fun saja tampaknya. Tapi terakhir jalan-jalan (ke Curug Sewu di Sukorejo), Elo sudah tanda-tanda demam. Itu hari Kamis, sementar Senin depannya (empat hari lagi) kami mesti terbang balik ke Medan.

Beneran, mulai Jumat, suhunya tinggi banget. Kami nggak bawa thermometer jadi nggak tahu sampai berapa derajat celcius. Waaah....langsung kami beri paracetamol juga kami balur parutan bawang merah campur minyak telon. Saya juga mengompresnya menggunakan air hangat. Reaksi dari perlakuan itu memang menurunkan suhunya tapi nanti naik lagi. Begitu sampai keesokan harinya. Sempat berpikir mau bawa dia ke dokter anak. Tapi ah, ini kan baru hari kedua demam. Mudah-mudahan besok reda. Eh ternyata di hari Minggu juga masih demam. Dokter anak pada tutup di hari Minggu. Rumah sakit juga UGD aja yang buka.

Tapi budhe-nya Elo yang bidan tampak tenang saja lihat kondisi Elo. Bahkan juga nggak mau ngasih obat apa-apa selain tambahan parcet. Kami jadi relatif tenang juga. Secara intuitif saya juga merasa bocah ini masih tahan. Tapi sudah terpikir sih untuk besoknya (Senin) cek darah di Medan. Bagaimanapun, karena dulu Elo pernah opname cukup lama, tiap dia demam pikiran kami sudah kemana-mana. 


Dengan berbekal doa dan intuisi, kami memutuskan untuk esoknya tetap terbang (karena Ale sudah jadwal masuk sekolah). Tapi, dengan demam yang sudah berlangsung tiga hari, kami memutuskan untuk langsung membawa Elo ke rumah sakit sesampai di Medan. Kalau ke dokter praktik, palingan juga suruh cek darah dan besoknya ke dokter lagi untuk baca hasil laboratorium. 

Sungguh-sungguh berdoa agar tidak ada kejadian buruk pada Elo selama perjalanan (2 jam menuju bandara, 1 jam menunggu boarding, 3 jam terbang, plus 1 jam dari bandara ke rumah). Puji Tuhan di pesawat dia banyak tidur. Pukul 13.00 lebih, kami sampai rumah yang.....ya ampuuuun banyak pertanda keberdaan tikus di mana-mana. Rupanya, ketika kami tinggal mudik, tikus jadi penghuni utama di rumah ini. Haduuuuh...

BJ langsung ke kantor mengambil mobil kerjanya. Saya di rumah mengurus anak-anak, bebersih yang dirasa penting, juga bersiap ke RS. Baju-baju tinggal tambah-kurang yang di dalam koper mudik aja. Sekitar pukul empat sore, kami pergi ke RS.

Pilihan pertama ke RS Stella Maris. Di sana dicheck oleh dokter King Rudi SpA. Dari check fisik, dokter bilang perut Elo enggak bising. Dokter bilang "takutnya demam berdarah" (tapi saya mikirnya nggak ada fase turun demam nih). Tapi kan memang baru dugaan, untuk lebih valid cek darah dan direkomendasikan opname. Kami memang sudah siap-siap sih... Sayangnya kelas kamar yang kami ingini  penuh. Oleh dokter kami direkomendasikan ke RS Murni Teguh Memorial Hospital (MTMH). Langsung deh geser ke sana.

Saya masuk ruang UGD sama Elo, sementara BJ mengurus pembayaran sama Ale. Usai urusan pendaftaran, kami masih harus menunggu pengambilan darah di kamar UGD. Cukup lama menunggu padahal AC UGD duiingin. Sampai-sampai saya minta perawat untuk mematikan AC karena Elo cuma pakai kaus kutung. Selesai urusan pengambilan sampel darah (dan infus), kami menuju kamar di lantai lima.

Ah jadi inget masa-masa Elo dirawat di Siantar dulu. Baru setahun tiga bulan silam....eh sekarang sudah opname lagi. Apalagi, setiap ditanya mana yang sakit, Elo juga langsung pegang perutnya. Dan dia juga mulai diare (saat mulai demam, dia belum diare). Ada rasa khawatir, sakitnya seperti yang dulu lagi. Tapi kali ini, penampakan perut Elo biasa-biasa saja. Tak menggembung seperti dulu. Dokter minta sampel urine dan feses. Ah, mudah-mudahan bukan megacolon yang bikin demam ini. 

Sebenarnya, kami ngejar terbang hari Senin supaya Ale bisa sekolah. Tapi rupanya dengan sikon saat itu, Ale terpaksa harus melanjutkan liburnya. RS MTMH cukup jauh dari tempat tinggal kami. Plus, si ayah BJ juga langsung padat agenda kerjaannya (setelah libur dua mingguan). Dulu sih waktu Elo sakit di Siantar, sikon masih mendukung untuk Ale tetap sekolah dengan pergi pulang dari RS. Ada sih teman sesama orangtua murid yang menawari untuk menghandle Ale di rumahnya. Jadi selama belum dijemput ayahnya, sepulang sekolah Ale di rumah dia dulu. Tapi Ale mana mau begitu.

Jadilah Ale partner utama saya menunggui Elo saat bapaknya kerja. RS Murni Teguh ini gedungnya bagus sih. Tapi kurang mendukung untuk anak sekecil Ale kalau dia lagi bosen di kamar. Dia nggak bisa jalan-jalan keluar jauh-jauh dari kamar karena takut tersesat. Kami di lantai tujuh sementara Ale belum pintar naik turun lift sendiri. Pun jam operasional lift secara bebas dibatasi hanya saat jam bezoek. Di luar jam itu, naik turun lift harus minta tolong perawat/karyawan dengan kartu aksesnya. Sebelum pindah lantai tujuh, kami di lantai lima. Lumayan, pemandangan luar jendela adalah stasiun kereta api Medan dan proyek-proyek gedung dengan sekian crane-nya. Pemandangan yang cukup menarik buat Ale Elo. Setelah pindah lantai tujuh, pemandangan luar jendela cuma proyek bangunan sebelah (yang nggak crane-nya!). Nggak seru buat bocils.

Berada di kamar VIP itu memang terjaga privasinya. Tapi sekaligus jadi kurang pergaulan dengan sesama pasien dan anggota penunggunya. Sikon ini paling terasa kalau lagi butuh makan siang. Nggak ada yang bisa dimintain tolong dan kantin nggak bisa antar makanan ke kamar.  Sementara di jam itu, BJ tak selalu bisa ke RS (kantornya juga cukup jauh euy). Kami kan terhitung orang baru di Medan, belum banyak sahabat dekat yang akan bezoek kalau kami sakit. Juga nggak ada keluarga yang akan menemani berjaga saat BJ tak ada. Jadilah nggak ada partner untuk bergantian menjaga Elo saat saya harus mencari makan siang ke lantai satu. Kalau lagi nungguin orang sakit gini kan sebisa mungkin yang jaga makannya cukup. Kalau makan mie instan terus bisa-bisa gantian opname ^_^

Bersyukurnya Ale bisa diandalkan untuk sesaat saya pergi mencari makan. Dia sebenernya mau ikut juga sih. Kesempatan untuk jalan-jalan keluar kamar gitu loh. Tapi kan nggak mungkin si mungil yang lagi sakit ditinggal sendirian. Pokoknya saya pesan ke Ale, (1) bunda akan berusaha secepat mungkin kembali ke kamar, (2) Ale jangan kemana-mana, (3) Ale segera tekan tombol kalau adek nangis atau ada orang yang bukan perawat/dokter ke kamar.

Yah, begitulah risiko kalau opname jauh dari keluarga dan sahabat. Tapi risiko ini sudah kami perhitungkan sih. Saat itu pilihannya sama-sama nggak enak.  Kalau opname di Temanggung,  ada keluarga besar yang pasti kasih perhatian penuh. Nggak perlu ribet soal makanan, pakaian ganti, dan printhilan lainnya. Tapi risikonya harus menggeser jadwal terbang dan BJ duluan balik Medan. 

Bersyukur pelayanan di RS MTMH tidak mengecewakan. Para perawatnya cukup responsif dan ramah. Kalau ada beberapa yang nggak ramah, yah mungkin dia sedang lelah😊😊😊. Meski begitu, rupanya saya dan Ale tumbang juga. Kamis sore, kami berdua periksa ke poliklinik di RS itu. Kalau dalam kondisi normal sih, mungkin saya nggak akan buru-buru ke dokter.  Tapi ini kondisi khusus.... dokter bilang, Jumat Elo sudah bisa pulang. Tapi kebayang, nanti sesampai di rumah saya nggak bisa langsung leyeh-leyeh. Kerjaan bersih-bersih dan beres-beres pasca mudik panjang sudah menari-nari di depan mata. Dan itu pasti nggak bisa langsung was-wis-wus ngerjainnya karena Elo belum 100 persen fit.

Di luar semua itu, emak-emak memang "dilarang" sakit kan?πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Jumat pagi, usai dokter visit, kami dinyatakan "sah" boleh pulang. Dokter King bilang ke perawat supaya cepat mengurus kepulangan kami. "Soalnya, habis ini mereka mau ke Centre Point" (mall sebelah RS MTMH). Hahaha, becanda aja si dokter, belum sanggup mikirin nge-mol lah dok... tuh rumah masih acak adut nggak karu-karuan.

Dan kalaupun ada niat mau langsung ngemol, itu nggak akan terlaksana. Karena oh karena, urusan verifikasi pembayaran pakai asuransi-nya lama bangeeeet. Menunggu dari sekitar pukul 11 siang, urusan asuransi baru beres sekitar pukul lima sore. Untung bisa nunggu di kamar. Coba udah suruh keluar kamar, apa nggak telantar di ruang tunggu tuh? Tapi bersyukur, biaya sakitnya kali ini tercover semua oleh asuransi. 

Bersyukur lagi, sekarang si Elo sudah sehat kembali. Jangan opname-opname lagi ya Nak...




Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler