23/01/17

Unit Link, Setelah Sepuluh Tahun...

Hasil gambar untuk unit link
pic : www.carajadikaya.com


(NOTE : Di artikel tentang tutup polis, yang saya hentikan adalah polis atas nama suami. Tapi saya masih melanjutkan polis atas nama saya sendiri).

Desember 2016. "Masa kontrak" sepuluh tahun pembayaran asuransi unit link Prudential saya berakhir. Ironisnya, meski sudah sepuluh tahun membayar premi, juga sudah sering membaca artikel (bahkan buku) tentang unit link, ternyata saya belum paham sepenuhnya tentang periode bayar premi ini. (Haha, bodoh kok dipelihara yak 😁😁).

Kenapa sih mesti sepuluh tahun bayarnya? Setelah sepuluh tahun, terus diapain?

Jujur, dulu pas awal bikin polis, saya terpesona dengan angka-angka yang ada di ilustrasi. Apalagi agen pastilah menggunakan segenap bahasa dan trik agar saya closing. Namanya juga jualan....ya kan? Di sisi lain, saya tak kritis terhadap segala penjelasannya. Kalau sekarang saja belum paham sepenuhnya, apalagi saat itu... sama sekali belum paham. Dan bagaimana mau kritis kalau sama sekali belum paham??πŸ˜€πŸ˜

Dulu di ilustrasi kan dipaparkan angka-angka. Salah satu yang diunggulkan oleh agen adalah potensi perbedaan antara menyimpan uang di bank dengan investasi di unit link. Intinya, investasi di unit link akan jauh lebih menguntungkan daripada menyimpan uang di bank. Di tahun-tahun awal, jumlah setoran masih terpotong biaya asuransi dan beberapa biaya lain. Sehingga, nilai tunai di unit link akan lebih rendah dibandingkan akumulasi uang di bank (asumsi jumlah uang yang ditabung per bulan sama besarnya). Pak agen mengatakan, di tahun enam (atau tujuh?), akumulasi uang di bank (dengan asumsi bunga standar) dengan hasil investasi di unit link akan seimbang.

Selain itu, setelah sepuluh tahun, nasabah tidak perlu lagi membayar premi. Meski demikian, manfaat proteksi akan tetap berjalan hingga usia 90 (atau 99?) tahun. #Dengan usia harapan hidup pada umumnya sih, sebelum usia itu sudah dipanggil YME😊# Di ilustrasi juga ada angka-angka fantastis seandainya kita melanjutkan pembayaran premi hingga jauh di atas angka sepuluh tahun.

Agen saya cukup bertanggung-jawab. Sampai sekarang, kalau saya tanya ini-itu, beliau jawab dengan baik. Kalau saya pikir-pikir sekarang, dulu beliau menjelaskannya juga bener sesuai ilustrasi. Masalahnya adalah saya yang nggak banyak tanya (tadi sudah saya bilang, saya nggak kritis 😒). Wes pokoke bayar wae sepuluh tahun....anggap uang hilang, habis perkara. Selanjutnya saya memang rutin membayar (premi Rp 300.000 per bulan) tanpa sekalipun bermasalah. Oh ya, selama ini, kalau ngobrol dengan sesama nasabah, bahkan dengan agen sekalipun, saya selalu mendapat kesan kalau "asik banget kalau sudah sepuluh tahun. Sudah bisa "panen" nih."

Tapi apa iya sudah "panen"?  Kayaknya ini termasuk "sesat pikir" soal unit link yah...

Belakangan saya "rajin" cek nominal investasi saya, yang ternyata, hingga menginjak tahun kesepuluh pun masih jauh dari akumulasi uang yang saya setorkan. Kata rajin saya apit tanda kutip karena semata mengecek laporan bulanan yang masuk ke email. Dulu, boro-boro saya cek email-email itu, Saya biarin saja tak terbaca. LOL

Baru deh sekarang sadar kalau di tahun kesepuluh ini, nilai tunainya bahkan masih jauh dari akumulasi premi yang saya setorkan. Dengan kata lain, nilai tunai-nya masih lebih rendah jika dibandingkan uang tersebut disimpan di bank dan tanpa bunga. Premi saya Rp 300 ribu per bulan. Jadi jika dikumpulkan selama sepuluh tahun, totalnya adalah Rp 300.000 x 12 bulan x 10 tahun = Rp 36 juta. Tapi di bulan Desember 2016, saat polis saya tepat berusia 10 tahun, nilai tunainya baru Rp 26 juta sekian. (Note : nilai tunai akan naik turun seiring fluktuasi nilau unit).

Lalu, barulah saya grusuk-grusuk cari info. Saya pilih telepon customer care. Biar mantep nih, mau ambil langkah apa setelah sepuluh tahun ini. Barulah lumayan paham kenapa mesti bayar sepuluh tahun. Yakni karena setelah sepuluh tahun, nilai tunai akan cukup untuk membayar premi asuransi hingga nasabah meninggal (dengan catatan, tak ada nilai tunai yang ditarik). Kalau nilai tunai-nya ditarik dan saya nggak lanjut bayar, manfaat asuransi hanya akan berjalan hingga habisnya nilai tunai yang tersisa untuk membayar premi asuransi. Pemahaman yang simpel tapi telat saya tahu πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜….

Kesimpulan sementara, setelah dikurangi premi asuransi yang kurang lebih Rp 100.000 per bulan, nilai investasi saya tak banyak berkembang (padahal sudah saya pilih yang investasinya di saham). Selama ini, secara garis besar komposisi investasi dan asuransi polis saya adalah 60 : 30. 

Merasa rugi? Menyesal ambil unit link? Enggak terlalu sih... Saya memilih menganggapnya sebagai risiko dari ketidaktahuan. Dulu kan memang masih blank, masakan mau disesali. Lagipula, hitungan dari perusahaan asuransi pastilah tidak sesederhana matematika praktis ala saya ^-^

Jadi setelah ini, mau digimanain? Dari ngobrol di telepon dengan CS, saya bisa memutuskan sebuah rencana.

Kelak,  saya akan menarik nilai tunainya untuk suatu keperluan. Tapi kalau ditarik semua (tutup polis), saya akan kehilangan manfaat asuransinya. Yaaah, meski selama ini belum pernah klaim (soalnya saya belum pernah opname di luar urusan operasi caesar yang tidak ditanggung oleh asuransi ini), rasanya justru akan rugi banget kalau polisnya saya tutup

Jadi, jangan tutup polisnya, melainkan ubah cara pembayarannya. Kalau semula saya membayar premi Rp 300.000 per bulan, selanjutnya saya hanya akan membayar biaya asuransinya saja yang kurang lebih Rp 100.000 per bulan. Selisih nilai pembayaran per bulan akan saya tabung ke tempat lain (mungkin reksadana atau saham). Namun, menurut CS, nasabah tidak bisa serta merta membayar Rp 100.000 per bulan. Untuk itu, saya mesti saya mesti mengubah cara bayar, dari autodebet ke top up.

Entah-lah, ini keputusan yang tepat atau tidak. Masih ada waktu untuk berpikir dan menimbangπŸ˜‡


 




 
   


Setahun Domain www.daily-wife.com


http://resepcaramemasakku.blogspot.com/






Ini jelas tak tiba-tiba. Waktu setahun dan terjadwal jelas tak tiba-tiba. Tapi karena waktu setahun ini saya lewati dengan santai,  akhirnya jadi terasa tiba-tiba juga deh :D. Beberapa minggu lalu, saat masih mudik di Temanggung, saya mendapat pesan pendek dari jagowebhosting, perusahaan tempat saya membeli domain www.daily-wife.com ini. Pesan berisi reminder untuk segera memperpanjang domain karena domain ini akan segera kadaluwarsa.

Berhubung sinyal di kampung itu sangat minimalis, saya tak bisa mengecek akun.  Jangankan browsing, pesan whatsapp atau BBM saja masuknya nggak realtime.  Dan pada dasarnya, saya memang masih terserang malas teramat sangat untuk online. Jadi jangankan ngurus blog,  cek email atau facebookan saja malas :D. 

Kemarin, saya mencoba mengirim pesan pendek ke nomor jagowebhosting. Karena malas cek akun, jadi mau tanya aja kapan domain ini expire. Tapi ternyata dua kali kirim pesan, dua kali pula gagal. Entah kenapa –yang jelas bukan karena tak ada pulsa. Lalu hari ini, gara-gara ada masalah pembayaran order di tokopedia, saya mesti cek-cek email. Daaan, akhirnya saya mengecek aneka email yang entah berapa lama nggak saya cek. Ada beberapa email dari jagowebhosting berisi reminder untuk pembayaran perpanjangan domain. Email terakhir sudah berisi peringatan (!), bahwa domain akan berakhir hari ini (22 Januari 2017). Jika saya tak segera membayar, memang akan ada masa tenggang 30 hari. Namun, selama masa tenggang itu, domain saya akan tersuspend. 

Blaik.... ternyata today is the last day. 

Jadilah buru-buru buka laptop. Bersyukur duo bocil sedang asik sendiri jadi nggak ngrecokin emaknya buka laptop. Segera login ke akun jagowebhosting, cek  perpanjangan domain, lalu segera membayar melalui internet banking. Syukurlah, semua bisa dilakukan dari rumah :)

Rrrrrr....

Setahun blog ini menggunakan domain berbayar  (kalau dihitung tanpa domain berbayar sudah jauh lebih tua lagih :D). Malu sih, karena di usia setua ini (untuk blog itungannya sudah tua lah ya...) tak ada kemajuan berarti dari blog ini. Progresnya superminimalis, kata yang sedikit lebih “sopan” daripada stagnan.

Jadi ulang (se)tahun blog ini belum pantas dirayakan rame-rame. Posting tulisan ulang-tahun, apalagi bikin give-away. Cukup refleksi diri dulu, apa sih dulu tujuannya ngeblog? Ya lah, saya juga mau blog-nya sukses mendatangkan pundi-pundi laiknya para blogger sukses. Tapi mau tok tanpa usaha, itu sama saja bohong. Jauh sebelum itu, sebenarnya saya hanya ingin bisa rajin berbagi. Berbagi apa saja dalam keseharian saya. Toh, apa yang kita anggap remeh-temeh, bisa saja bermanfaat bagi orang lain.

Seperti kata Paulo Coelho dalam novel The Alchemist : “Setiap orang di dunia ini, apapun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya.”

Saya percaya dengan tulisan seseorang bisa berbagi dan memainkan peran dalam sejarah dunia.  Saya tak muluk berpikir tentang dunia yang luas. Dunia bisa saja berupa  dunia kecil seseorang atau beberapa orang. Toh, tetap saja itu manfaat. Tapi....... saya masih belum sungguh-sungguh melakukannya. Hiks hiks hiks...

Hari ini saya sendirian merayakan ulang tahun blog saya. Tak ada lilin, hanya harapan, esok dan seterusnya blog ini bisa lebih aktif untuk menjadi berkat bagi sesama. Amiin.


Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler