20/08/16

Air Yang Tak 24 Jam

Hasil gambar untuk kran air
gambar : www.kranair59.wordpress.com

13.00

Sengaja menuliskan angka di atas untuk menunjukkan waktu saat saya menulis ini. Lepas tengah hari. Waktu untuk kembali menghidupkan kran guna mengisi air di bak yang sudah habis untuk mandi pagi. Waktu yang pas untuk mencuci piring untuk sarapan serta perlengkapan memasak tadi. Juga waktu yang bagus untuk mencuci sebagian baju (yang mana jadwalnya 2-3 hari sekali).

Waktu yang "pas" itu tak ada kaitannya dengan ketersediaan waktu, melainkan dengan ketersediaan air.

Yups, di tempat tinggal baru ini, air dari PDAM tak mengalir 24 jam. Setelah tengah hari berarti peak hours penggunaan air  sudah berlalu. Mungkin di banyak tempat juga sama sih ya.... jam-jam segitu, bukan lagi saat sibuk menggunakan air. Mandi sudah selesai sedari tadi (yang pada mandi sudah ada di sekolah, tempat kerja, atau di rumah saja). Memasak, mengepel, dan mencuci rata-rata juga sudah pada beres. Saatnya banyak kran air dalam posisi menutup. Nanti, air akan mati ketika sore hari : 2nd peak hours dalam penggunaan air. Malam hari, sekitar pukul 21:00, baru deh air nyala lagi tapi debitnya masih kecil. Baru nanti menjelang tengah malam, air akan mengalir deras sampai pagi sekitar pukul 05.00. Begitulah ritme air di tempat tinggal kami saat ini. 



Minggu-minggu pertama, saya atau suami bahkan selalu begadang. Sebab waktu itu kami mengira air baru mengalir mulai jam 22.00. Jadi deh, malam-malam mulai nampung air. Seringkali sembari menampung air juga sambil mencuci piring (sebab saya lebih suka mencuci piring dengan air mengalir daripada pakai air di ember).  Bahkan saat itu saya juga mencuci baju kecil-kecil saat malam (baju besar saya masukkan laundry kiloan).
Di Siantar, saya juga biasa nyuci piring malam hari. Tapi kan nggak nyuci baju dan nampung air. Selalu main air malam-malam, bikin badan nggak fit sodara-sodara :D

Sempat terpikir untuk meniru langkah tetangga-tetangga : memasang pompa air di kran air. Biar nggak perlu ribet malam-malam karena air bisa mengalir setiap saat. Baru tahu saat itu lho kalau pompa air itu bisa dipasang di instalasi PDAM. Kirain buat dipasang di sumur aja. Ah tapi kata tetangga, saat jam sibuk, pakai pompa tak menjamin air ngocor. Lagipula, menurut saya, penggunaan pompa ini juga yang bikin air tak terdistribusi merata. Kalau tak satupun pompa terpasang, mungkin air bisa mengalir 24 jam di semua rumah, tapi debitnya kecil. Masalahnya, debit kecil memang tak nyaman. Alhasil pakailah pompa walau itu mematikan aliran air ke tetangga :D

Mau pasang tangki penampung mikir panjang. Pasang tangki dengan kerangka besi penahan, tentu butuh biaya mahal. Terlebih pasang kerangka besi secara permanen tentu butuh  izin empunya rumah. Kalau suatu saat nanti kami pindah, repot pula bongkarnya. Alhasil kami cuma pakai ember-ember besar untuk menampung air.  Kami pun harus benar-benar menghemat penggunaan air. Terbayang kan...dari tempat yang semula gampang-air ke tempat yang susah-air.

Dari sekian kali pindah rumah dan pindah kota, rasa-rasanya baru kali ini deh bermasalah dengan air. Di Siantar memang pernah juga air tak mengalir dan warga mesti ambil air di mobil tangki. Tapi itu kondisi khusus karena ada instalasi pipa air yang rusak. Hanya 1x24 jam, pipa sudah berhasil diperbaiki.

Ihwal tak lancarnya air di sini, saya juga tak tahu detailnya. Sebab, sempat dengar dari warga lama di komplek ini, dulu air sempat lancar. Kondisi begini terjadi setelah penghuni komplek makin bertambah. Masuk akal si ya...pengguna bertambah sementara pasokan (mungkin) tetap. Atau mungkin pasokan juga ditambah, tapi tak sebanding dengan penggunaan. Sudah hukum alam, kalau permintaan melebihi penawaran, akibatnya adalah kekurangan atau kelangkaan.

Sudah air tak lancar, info tagihan pun sempat bikin keder. Ketika serah terima kunci dengan empunya rumah, suami saya mendapat info kalau tagihan air bulan lalu lebih dari Rp 500.000. Alamaaaak....ini tagihan tak wajar dong. Secara rumah kontrakan ini sudah dua bulan dalam kondisi kosong. Masakan nggak ada penghuni tagihan lebih dari setengah juta? Siapa yang pakai? Hantu? Atau ada kerusakan instalasi air? Kesalahan perhitungan tagihan? Atau ada sebab lain?

Duh..sudah siap-siap mau adu panco komplain sama PDAM aja nih...

Soalnya di Siantar, di mana air mengalir 24 jam  dan penggunaan air  terbilang "suka-suka" tagihan hanya puluhan ribu. (Suka-suka di sini tetap dalam koridor "hemat air" sih ^-^). Kalau tetiba naik jadi ratusan ribu, alamat repot di anggaran rumah tangga. Sama-sama layanan PDAM, nggak mungkinlah perbedaan begitu mencolok. 


Jadi teringat juga air di kampung halaman. Di rumah emak, kami memakai sumur sedalam 12 meter yang airnya tak pernah kering walau kemarau. Bahkan, saat kemarau panjang dan  sumur-sumur tetangga banyak yang kering, sumur emak tetap ajeg-agung. Hanya surut tapi tetap mencukupi kebutuhan, bahkan saat demikian, bulik sebelah rumah pun mengambil air dari sumur kami.

Terbiasa dengan kondisi air yang lancar ke situasi air seret jelas bikin tak nyaman. Satu-satunya cara agar tak mengeluh berkepanjangan hanyalah dengan cara "mengingat-ke-bawah". Maksudnya mengingat tempat-tempat lain, di mana bisa dikatakan air lebih berharga daripada mutiara. Tempat-tempat di mana seseorang harus berjalan berkilo meter atau membayar mahal untuk sedikit air bersih (yang mungkin tak sepenuhnya bersih). Tempat-tempat di mana saat kemarau orang harus berjuang mengantre dan mengangkut air bersih dari tangki dropping.
Hasil gambar untuk antre air bersih
gambar : www.merdeka.com
Hasil gambar untuk mengambil air gunung kidul
gambar : www.m.tempo.co
Aiiih, di tempat lain, kondisi air di rumah ini jadi sudah merupakan impian-yang-terwujud.
Tentu saja, saya tetap mengharapkan pelayanan air yang lebih baik dari pemerintah kota Medan. Tapi sebelum itu terwujud, mungkin lebih baik untuk mengambil sisi baiknya. Dengan ini, mungkin kami jadi lebih dilatih untuk menghargai air. Juga untuk membuat "hemat air" tak sekedar jargon tapi memang keharusan.

Yups, seringkali segala sesuatu itu baru terasa sekali artinya ketika kita tak lagi merasakannya. Berbahagialah kalau di tempat teman-teman, air mengalir lancar 24 jam.

FYI, setelah "tagihan mengerikan" hingga ratusan ribu rupiah itu, bulan kemarin saya bayar air di Indomaret. And you know, tagihan cuma Rp 11.000. Mungkin pemilik rumah sudah komplain ke PDAM dan lalu ada hitung-hitungan kompensasi kemahalan atau bagaimana. Entahlah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler