24/08/16

Peralatan Yang Sudah Lama Tak Saya Gunakan

Ide menulis itu ada di/dari mana-mana. Demikian kata para penulis ternama. Memang sih.... saya tak menolak pendapat itu. Soal ide, saya punya buanyaak. Yang minus itu eksekusinya hahahaha... (minus kok bangga :D)

Banyak alasan untuk nggak segera menuliskan sebuah ide, sampai akhirnya ide itu menguap tak berbekas (huh :D). Sebabnya karena menunda-nunda menuliskan ide ituuu...padahal sesepele apapun ide, bisa saja jadi tulisan, baik pendek ataupun panjang - tergantung pengembangannya. Dan sesepele apapun ide, bahkan yang kita sekedaran saja menuliskannya, bisa saja loh bermanfaat buat orang lain - tanpa kita sangka.Seperti cerita seseorang tentang kerusakan ovennya. Sepertinya sekedar cerita saja, tapi ternyata sangat membantu ketika oven saya ngambeg tak mau berbunyi "ting".

Baca : Ketika Oven Tak Mau Berbunyi Ting

Seperti ide menulis yang timbul pagi ini. Supaya tidak menguap, segera deh menuliskannya.

Just a little thing (sih). Tapi nggak apa-apa kan diceritakan. Apalagi di blog sendiri hihihi..

Tadi pagi nih....gara-gara si Al yang (nyaris) selalu pengin (maaf) pup tiap mau berangkat sekolah. Pas cebok dibantu ayah BJ, eh bajunya kena basah. Deuuuh...BJ langsung bilang, bajunya ada berapa? (Maksudnya biar ganti baju aja). Maksud baik yang pagi itu impossible terwujud karena baju putih Al cuma ada dua. Itupun yang satu lagi direndam.

Beeeh...sudah dalam kondisi mepet waktu, malah kejadian begini. Berhubung nggak bisa ganti, BJ sempat bilang ke Al, "nggak apa-apa ya pakai baju basah sedikit". 

Setelah saya lihat, ya sih basahnya memang nggak kuyup. Tapi tepat di bawah krah belakang. Kasihan juga kalau basah-basah. Bisa sih disetrika...tapi makan waktu untuk lepas pakai bajunya.

Tetiba ingat hairdryer merk Miyako yang sudah lamaaaa banget nggak pernah saya gunakan. Bersyukurnya, walau masih ada di dus-dus barang pindahan, tapi saya ingat di mana tepatnya. Jadi deh, langsung ambil si hairdryer, colokkan listrik, lalu tekan tombol dan diarahkan ke bagian yang basah. Tak butuh waktu lama baju Al pun kering dan siap berangkat.

Aha...terimakasih hairdryer...

Walau sudah sepuh dan tak sempurna lagi fisiknya, tapi masih sangat membantu dalam situasi emergency. Terbilang sepuh karena saya membelinya tahun 2008. Walau tak ada catatan pembelian, tapi rasanya saya nggak salah soal waktu itu. Sebab hairdryer itu dulu saya beli sebelum menikah dengan suatu alasan.

Dari pertengahan kuliah hingga masa bekerja, rambut saya selalu pendek. Bukan cuma sebahu tapi cuma sedikiit lebih panjang lah kalau dibandingkan sama Sarah Sechan atau Indy Barends. Plus saya juga bukan orang yang stylish baik dalam.hal berpakain maupun make up and hair do. Dua hal yang membuat saya tidak butuh hair dryer. 

Apalagi pakai hairdyer...pakai sisir aja kadang lewat. Kalau lagi buru-buru, sisir aja pakai jari. Toh perginya juga pakai helm. Mau disisir rapi jali, ntar juga kacau lagi. 

Tapi akhir tahun itu saya berencana menikah. Sesuai dengan asal-usul saya dan suami, kami akan menikah dengan pakaian adat Jawa (pakaiannya doang, ritual adatnya kagak :D). Orang-orang senusantara pasti tahu dong, kalau dandanan pernikahan adat Jawa berarti sanggul lengkap dengan cunduk-mentulnya. 

Rambut saya yang pendek banget bakalan kurang mendukung untuk sanggulan. Mau tak mau harus dipanjangkan untuk mempermudah kerja penata sanggulnya nanti. Setidaknya sampai bahu lah...

Nah itu masalahnya. Gara-gara berambut pendek, saya sering keramas pagi hari. Segar dan nggak masalah karena rambut tetap cepat kering. Ketika rambut sedikit agak panjang, saya sudah merasa agak bermasalah dalam kecepatan rambut kering di pagi hari.

Saat itulah terpikir untuk beli hairdryer. Lupa berapa harganya....udah lama banget. 

Rutin terpakai ya cuma saat-saat itu sih.Setelah menikah, rambut kembali saya pangkas pendek...as always. Sempat agak panjang (sampai bahu) ketika hamil kedua. Setelah itu pendek lagi. Padahal dari SD hingga awal kuliah, rambut nyaris selalu sepinggang lho...sekarang mah boro-boro. Gondrong dikit aja udah gerah ^_^

Eh ya...sebenernya si hairdryer ini nggak sepenuhnya nggak dipake sih. Dulu pas Al kecil, kadang masih saya pakai untuk mengeringkan karpet atau selimut atau kasue yang terkena ompol. Tapi entah kenapa itu nggak berlanjut...mungkin karena dengan udara Siantar yang cukup panas, tanpa di-dryer sudah bisa kering sendiri hihihi.

Begitulah cerita hari ini...

Nggak penting banget....memang ^_^

23/08/16

Lemari Baju dengan Wallpaper untuk Penyekat Ruangan

Hasil gambar untuk wallpaper murah dan bagus
gambar : www.lensarumah.com


Terbilang jarang membaca tentang desain interior, dekorasi, atau apapun itu yang berhubungan dengan penataan ruangan membuat saya selama ini berpikir kalau wallpaper itu pasti mahal. Bagaimana tidak, ruangan dengan dinding ber-wallpaper biasanya berkaitan dengan "harga (lebih) mahal". Katakanlah, dinding wallpaper itu biasanya ada di klinik dokter spesialis bukan di puskesmas. Atau, wallpaper itu mudah di temukan di restoran bukan di warung pinggir jalan. Terus..kalau di rumah-rumah pribadi, biasanya rumah mewah dong yang pakai wallpaper, bukannya rumah sederhana. Seperti gambar rumah di atas, itu rumah mewah atau sederhana?

Tapi persepsi itu berubah beberapa waktu lalu gara-gara kebutuhan kami akan penyekat ruangan. Di rumah (kontrakan) baru ini, pembagian ruangan tergolong simpel. Lebar sekitar tujuh meter dibagi dua memanjang. Sisi kanan untuk teras, tiga kamar, dan satu kamar mandi. Sedangkan sisi kiri memanjang "blong" tanpa sekat dari ruang tamu hingga dapur. Dengan panjang sekitar 15 meter, sisi kiri ini hanya terbagi untuk teras, ruang yang memanjang itu, dan ruang cuci-jemur di belakang.

22/08/16

Brambang Goreng dan Douglas Malloch

sawi bening bakso dengan brambang goreng, masakan siang hari ini ^-^

Saya adalah bagian dari kelompok ibuk-ibuk yang tak hobi memasak. Memang sih nyaris tiap hari saya memasak. Tapi ini atas nama kewajiban, bukan kegemaran. Meski demikian, bukan berarti saya memasak dengan terpaksa yaaa..Saya berusaha selalu memasak dengan kesadaran untuk menyediakan makanan bagi orang-orang tercinta (tsaaah). Tentu saja, hasilnya jangan dibandingkan dengan mereka-mereka yang memasak sebagai panggilan jiwa (jelas saya kalah sebelum berlaga).


Eh tapi, pagi ini saya lagi nggak fit. Malesss banget buat masak. Padahal, sedari kemarin saya sudah berencana, memasak tumis genjer (secara bercanda, saya menyebutnya sayur PKI) dan tempe goreng tepung. Duuh kalau lagi males yaa... masakan sesimpel itu pun males ngerjain. Sempat terpikir untuk beli sayur masak aja...ah tapi di kedai jarang ada sayur yang tak pedas. Seringnya serba santan dan pedas...jelas bukan masakan yang bisa lewat lidah anak-anak. 

20/08/16

Air Yang Tak 24 Jam

Hasil gambar untuk kran air
gambar : www.kranair59.wordpress.com

13.00

Sengaja menuliskan angka di atas untuk menunjukkan waktu saat saya menulis ini. Lepas tengah hari. Waktu untuk kembali menghidupkan kran guna mengisi air di bak yang sudah habis untuk mandi pagi. Waktu yang pas untuk mencuci piring untuk sarapan serta perlengkapan memasak tadi. Juga waktu yang bagus untuk mencuci sebagian baju (yang mana jadwalnya 2-3 hari sekali).

Waktu yang "pas" itu tak ada kaitannya dengan ketersediaan waktu, melainkan dengan ketersediaan air.

Yups, di tempat tinggal baru ini, air dari PDAM tak mengalir 24 jam. Setelah tengah hari berarti peak hours penggunaan air  sudah berlalu. Mungkin di banyak tempat juga sama sih ya.... jam-jam segitu, bukan lagi saat sibuk menggunakan air. Mandi sudah selesai sedari tadi (yang pada mandi sudah ada di sekolah, tempat kerja, atau di rumah saja). Memasak, mengepel, dan mencuci rata-rata juga sudah pada beres. Saatnya banyak kran air dalam posisi menutup. Nanti, air akan mati ketika sore hari : 2nd peak hours dalam penggunaan air. Malam hari, sekitar pukul 21:00, baru deh air nyala lagi tapi debitnya masih kecil. Baru nanti menjelang tengah malam, air akan mengalir deras sampai pagi sekitar pukul 05.00. Begitulah ritme air di tempat tinggal kami saat ini. 

05/08/16

Ketika Oven Tak Berbunyi Ting

dok pribadi


Judulnya bikin saya ketawa sendiri karena mengingatkan pada novel-novel jadul. Tapi ini sama sekali bukan cerita fiktif sih. Ini kisah nyata ^-^
Beberapa minggu lalu, oven listrik saya bermasalah pada bagian timer-nya. Oven merk Solid ini baru dibeli bulan Februari 2016. Jadi, sampai Juli ini terhitung baru lima bulan. Sebelumnya oke-oke saja dipakai. Tetiba saya pakai buat memanggang pizza roti tawar, eh tombol timer tak mau bergerak sampai bunyi “ting” yang menandakan setelan waktu telah habis. Tombol timer pasti berhenti di setelan waktu sekitar lima menit sebelum posisi nol. Mateng-mateng sih mateng asal waktu memanggang dilebihkan sekitar lima menit. Tapi bete saja sih...Secara oven masih terhitung baru.  
Sempat terpikir, apa oven ini sedikit error saat pindahan rumah. Tapi teringatnya oven ini dibawa duluan, jadi tidak bersama-sama dengan barang-barang lain. Artinya tidak tertumpuk-tumpuk barang lain. Atau mungkin karena goncangan-goncangan selama perjalanan Siantar – Medan? Ah entahlah..

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler