Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2016

Cerita Pindahan

Gambar
Huaaa... sudah lamaaa sekali nggak update blog. Syediiih.... karena ini menyangkut komitmen pribadi yang kembali terciderai L. Lagi-lagi merasa belum sembuh sepenuhnya dari penyakit kurang konsisten :D. Alasannya, kemarin-kemarin ribet pindahan hingga belum ketemu ritme harian yang pas selama proses adaptasi. Hiyaaa.... bukan cuma ngeblog yang terbengkalai, tapi juga #nulisbuku proyek Sekolah Perempuan 13. Hhhmmmhh... Jadi, seperti saya tulis di TULISAN INI, kami sekeluarga dipindah ke Medan karena tugas suami. Ketetapan pindah sih sudah dari tahun lalu, tapi karena berbagai hal, baru deh terlaksana pindah medio 2016 ini. Salah dua dari “berbagai hal” itu adalah : keribetan cari kontrakan yang cocok dan menunggu si sulung Al selesai TK. Ternyata, pindahan yang sudah terpending hampir setahun ini pun masih ketambahan tertunda sehari gara-gara misskomunikasi pihak ekspedisi :D

Raport Tanpa Rangking

Gambar
Akhir pekan lalu, Al mengakhiri sekolah taman kanak-kanaknya yang ditandai dengan seremonial perpisahan di sekolah. Acara perpisahannya berjalan lancar dan ceria, khas acara anak-anak. Tapi ada yang tak enak di luar acaranya, yakni protes beberapa orangtua murid karena si anak nggak dapat rangking. Ada yang sampai SMS guru dan ingin bertemu langsung dengan pihak yayasan.Waduuuh...Mungkin bukan cerita baru yaaa... Di mana-mana dan sejak lama,  ada saja cerita orangtua yang tidak puas dengan penentuan rangking si anak oleh gurunya. Mereka golongan orangtua yang kemudian protes kepada guru/pihak sekolah karena merasa anaknya tuh pandai lhooo. Kok bisa sih nggak juara?Sebagian lain bukan menyalahkan guru, tapi memarahi si anak. Menaruh cap bodoh pada si anak. Mengatakan si anak tidak melakukan hal yang sepadan dengan perjuangan orangtua mencari biaya sekolah.Waduuuuh...Tidak menutup mata. Mungkin memang ada kasus di mana siswa di-cing, didiskriminasi karena persoalan pribadi/subyektif si …

Bahagia dan Sedih

Gambar
Semua orang ingin bahagia. Ya nggak sih? Bahagia dengan pengertian masing-masing, dengan usaha masing-masing. Segala apa yang dilakukan, muaranya adalah agar bahagia.Pun denganku. Mungkin aku bahkan agak-agak terobsesi untuk menjadi bahagia. Sampai-sampai, di situasi yang meyedihkan pun, aku berusaha menjumput-mengorek-mengais hal-hal yang sekiranya bisa membuatku tetap merasakan bahagia. Atau mungkin istilah yang lebih tepat adalah : tidak terlalu dalam tenggelam dalam kesedihan.Aku ingat sewaktu Elo sakit dan opname lebih dari seminggu di rumah sakit. Saat itu sedihnya bukan main. Dengan segenap hati aku meyakini "mantra" bahwa selalu ada hal indah yang bisa dijumput di sela kekacauan. Mungkin ini bisa dibilang sebagai sugesti atau iman atau pengharapan. Apalah itu, yang pasti itu adalah kata-kata agar aku tak sedih terlalu dalam.Rrrrr...malam ini tiba-tiba teringat pikiran lama. Sebenarnya, sedih itu tak masalah lho. Kesedihan, dalam dosis yang tidak over justru adalah pe…

Kekhawatiran, Rezeki, dan Penjual Buah

Entah sudah berapa kali dengar atau baca ilustrasi ini. Ilustrasi sederhana yang sepertinya punya banyak versi :Ada seorang ibu memiliki dua anak. Anak pertama bekerja sebagai penjual es buah, sedangkan anak kedua berjualan cendol hangat. Jika musim kemarau tiba, si ibu bersyukur karena es anaknya laku keras. Tapi sekaligus cemas memikirkan dagangan anak keduanya. Sebaliknya, di musim hujan, dagangan cendol hangat laku keras. Si ibu pun berbalik mengkhawatirkan anak pertama yang berjualan es. Di cuaca dingin, es kurang diminati pembeli.Moral of the story : janganlah khawatir akan rezeki (atau apapun itu). Tuhan sanggup memberi penghidupan dalam situasi apapun.  Pesan yang mudah ditebak kan? *tapi kadang tak mudah dipraktikkan hehehe*. Cerita ini, entah mengapa, begitu melekat di ingatan saya. Mungkin karena ceritanya simpel atau entah, mungkin ada sebab lain yang tidak saya tahu. Kan unik cara kerja ingatan itu : apa yang ingin kita ingat malah terlepas, sebaliknya yang ingin kita lup…