24/06/16

Cerita Pindahan

Rumah di Jalan Halilintar, Siantar..selamat tinggal :)
Huaaa... sudah lamaaa sekali nggak update blog. Syediiih.... karena ini menyangkut komitmen pribadi yang kembali terciderai L. Lagi-lagi merasa belum sembuh sepenuhnya dari penyakit kurang konsisten :D.
Alasannya, kemarin-kemarin ribet pindahan hingga belum ketemu ritme harian yang pas selama proses adaptasi. Hiyaaa.... bukan cuma ngeblog yang terbengkalai, tapi juga #nulisbuku proyek Sekolah Perempuan 13. Hhhmmmhh...
Jadi, seperti saya tulis di TULISAN INI, kami sekeluarga dipindah ke Medan karena tugas suami. Ketetapan pindah sih sudah dari tahun lalu, tapi karena berbagai hal, baru deh terlaksana pindah medio 2016 ini. Salah dua dari “berbagai hal” itu adalah : keribetan cari kontrakan yang cocok dan menunggu si sulung Al selesai TK. Ternyata, pindahan yang sudah terpending hampir setahun ini pun masih ketambahan tertunda sehari gara-gara misskomunikasi pihak ekspedisi :D

06/06/16

Raport Tanpa Rangking

Akhir pekan lalu, Al mengakhiri sekolah taman kanak-kanaknya yang ditandai dengan seremonial perpisahan di sekolah. Acara perpisahannya berjalan lancar dan ceria, khas acara anak-anak. Tapi ada yang tak enak di luar acaranya, yakni protes beberapa orangtua murid karena si anak nggak dapat rangking. Ada yang sampai SMS guru dan ingin bertemu langsung dengan pihak yayasan.

Waduuuh...

Mungkin bukan cerita baru yaaa... Di mana-mana dan sejak lama,  ada saja cerita orangtua yang tidak puas dengan penentuan rangking si anak oleh gurunya. Mereka golongan orangtua yang kemudian protes kepada guru/pihak sekolah karena merasa anaknya tuh pandai lhooo. Kok bisa sih nggak juara?

Sebagian lain bukan menyalahkan guru, tapi memarahi si anak. Menaruh cap bodoh pada si anak. Mengatakan si anak tidak melakukan hal yang sepadan dengan perjuangan orangtua mencari biaya sekolah.

Waduuuuh...

Tidak menutup mata. Mungkin memang ada kasus di mana siswa di-cing, didiskriminasi karena persoalan pribadi/subyektif si guru. Diskriminasi yang mungkin membuat siswa tidak mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.

Mungkin yaaa... saya bilang mungkin karena tidak punya data, belum pernah mengalami sendiri, atau mengetahui secara langsung sebuah kejadian seperti itu.

Balik ke raport yang bikin ketidakpuasan para ortu, saya jadi ingat lagi deh artikel-artikel yang dulu pernah saya baca, yakni tentang raport tanpa rangking. Yaiii...walau sudah banyak sekolah yang menerapkan, tetap saja ini masih antimainstream. Karena mainstream-nya masih pakai rangking!

Temen-temen lebih setuju yang mana?

Kalau saya pribadi sih cenderung pro ke rapor tanpa rangking. Mungkin karena otak saya sudah telanjur tercuci oleh teori "kecerdasan majemuk". Saya percaya setiap anak punya kecerdasan dalam suatu hal. Jadi kalau dirangking, dia pasti punya peringkat bagus dalam suatu materi penilaian.

Teringat sebuah ilustrasi di sebuah buku parenting. Yakni ketika monyet, kelinci, dan burung harus berlomba memanjat. Siapa yang juara? Tentu si monyet. Tapi kalau lomba terbang, siapa pemenang? Jelas si burung. Beda lagi kalau lomba menggali tanah? Siapa yang nomer satu? Tak lain si kelinci.

Coba yaa..semua poin penilaian dibuat perangkingan masing-masing, pasti semua anak dapat rangking. Bahkan anak yang masih tampak paling tertinggal sekalipun dibandingkan teman-temannya, bisa jadi dia tetap punya sebuah keunggulan. Masa sih "anak bodoh" itu sepenuh-penuhnya bodoh, tak ada satupun keunggulannya?

Atau jangan-jangan masih berpegang, buat apa pintar menyanyi tapi tidak bagus dalam sains? Juara mata pelajaran ketrampilan tapi jeblok di matematika? 

Padahal, suatu saat nanti, teman-teman para sarjana sains akan melakukan standing ovation saat si temen-yang-bodoh-di-sains-tapi-pandai-menyanyi ini mengakhiri suatu konsernya. Atau kelak para ahli matematika akan memburu karya craft si teman-yang-dulu-jeblok-di-matematika-tapi-keren-di-pelajaran-ketrampilan.

Lagipula, buat anak-anak, apa iya rangking itu sedemikian penting? Paling-paling bangga sesaat ketika menerima piala, habis itu main-main lagi seperti biasa. Anak-anak yang nggak dapat rangking pun, mungkin ada yang nangis sesaat ketika temannya maju menerima piala. Habis itu juga main-main lagi as usual.

Jangan-jangan rangking ini bukan untuk kepentingan anak, tapi lebih untuk kebanggaan orangtua. Siapa yang tak bangga kalau ikut diminta maju dan berfoto bersama anak memegang piala? Bukti bahwa sebagai orangtua, kita berhasil mendidik anak atau karena kita memiliki "kekayaan" berupa anak yang nilai akumulatifnya lebih dari yang lain?

Mungkin ada pendapat bahwa pemberian rangking  di rapor melatih anak untuk lebih kompetitif. Iyakah? Sepanjang pengalaman dan pengamatan yang terbatas, kok kejadiannya nggak seperti itu.  Dominasi rangking kelas biasanya itu-itu saja. Jarang-jarang ada rising star yang tadinya rangking bawah terus mencuat ke papan atas. Geser-gesernya biasanya nggak jauh-jauh amat. 

Walhasil cap pintar atau bodoh seolah permanen selama anak menempuh pendidikan. Tragisnya, "anak-anak bodoh" biasanya bukan berjuang untuk menjadi "anak pintar", tapi mencari perhatian dengan menjadi "anak nakal".

Saya membayangkan sebuah acara pelepasan anak-anak, di mana masing-masing anak mendapat peringkat bagus sesuai keunggulannya. Anak-anak senang karena menjadi juara. Orangtua puas karena tahu anaknya punya sebuah kompetensi yang layak dikembangkan.

Ya sih, mungkin agak lebih ribet dalam praktiknya. Tapi bukan tidak mungkin dilakukan.













02/06/16

Bahagia dan Sedih

Semua orang ingin bahagia. Ya nggak sih? Bahagia dengan pengertian masing-masing, dengan usaha masing-masing. Segala apa yang dilakukan, muaranya adalah agar bahagia.

Pun denganku. Mungkin aku bahkan agak-agak terobsesi untuk menjadi bahagia. Sampai-sampai, di situasi yang meyedihkan pun, aku berusaha menjumput-mengorek-mengais hal-hal yang sekiranya bisa membuatku tetap merasakan bahagia. Atau mungkin istilah yang lebih tepat adalah : tidak terlalu dalam tenggelam dalam kesedihan.

Aku ingat sewaktu Elo sakit dan opname lebih dari seminggu di rumah sakit. Saat itu sedihnya bukan main. Dengan segenap hati aku meyakini "mantra" bahwa selalu ada hal indah yang bisa dijumput di sela kekacauan. Mungkin ini bisa dibilang sebagai sugesti atau iman atau pengharapan. Apalah itu, yang pasti itu adalah kata-kata agar aku tak sedih terlalu dalam.

Rrrrr...malam ini tiba-tiba teringat pikiran lama. Sebenarnya, sedih itu tak masalah lho. Kesedihan, dalam dosis yang tidak over justru adalah penikmat kebahagiaan.

Siapa bisa mengerti arti manis kalau tak pernah merasakan pahit. Siapa bisa menjelaskan panas kalau belum tahu apa itu dingin. Mereka yang terkena kemarau panjang adalah orang-orang yang akan begitu bersukacita merasakan hujan.

Yaah... jadi tak perlu kecil hati jika diizinkan mengalami situasi menyedihkan. Berdoa saja agar kesedihannya tidak berkembang-biak, menyebar ke mana-mana, menggerogoti benteng-benteng kegembiraan hidup. Kesedihan dan kebahagiaan adalah keniscayaan yang beriringan, yang menjadikan kita dewasa dari waktu ke waktu.

#NgingetinDiriSendiri



01/06/16

Kekhawatiran, Rezeki, dan Penjual Buah

Entah sudah berapa kali dengar atau baca ilustrasi ini. Ilustrasi sederhana yang sepertinya punya banyak versi :

Ada seorang ibu memiliki dua anak. Anak pertama bekerja sebagai penjual es buah, sedangkan anak kedua berjualan cendol hangat. Jika musim kemarau tiba, si ibu bersyukur karena es anaknya laku keras. Tapi sekaligus cemas memikirkan dagangan anak keduanya. Sebaliknya, di musim hujan, dagangan cendol hangat laku keras. Si ibu pun berbalik mengkhawatirkan anak pertama yang berjualan es. Di cuaca dingin, es kurang diminati pembeli.

Moral of the story : janganlah khawatir akan rezeki (atau apapun itu). Tuhan sanggup memberi penghidupan dalam situasi apapun.  Pesan yang mudah ditebak kan? *tapi kadang tak mudah dipraktikkan hehehe*.

Cerita ini, entah mengapa, begitu melekat di ingatan saya. Mungkin karena ceritanya simpel atau entah, mungkin ada sebab lain yang tidak saya tahu. Kan unik cara kerja ingatan itu : apa yang ingin kita ingat malah terlepas, sebaliknya yang ingin kita lupa malah melekat.

Nah, di suatu hari yang panas saya beli buah potong pada seorang pedagang keliling. Sambil menunggui si abang  memotong-motong buah, iseng-isenglah saya membuka obrolan. Mungkin karena cerita di atas sudah hafal di luar kepala, maka perkataan saya seperti terinspirasi dari situ.

"Wah, kalau panas gini laris lah ya, Bang," ujar saya.

"Ya gitulah, Kak. Alhamdullilah. Tapi nggak tentu juga. Kadang panas begini dagangan malah nggak habis. Tapi pas hujan-hujan, malah kehabisan," jawab si abang buah.

Rrrrrr... berarti memang bener banget yaa pesan cerita itu. Rezeki (dalam berbagai bentuknya), tidak bisa ditentukan oleh situasi. Ya sih, situasi mungkin berpengaruh. Tapi pengaruh is only pengaruh yang bisa berhasil memengaruhi, bisa juga gagal.

Jangan khawatir. Begitu banyak hal baik bisa terjadi di luar jangkauan pikiran kita.

#NgingetinDiriSendiri

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler