Kapokkah Ikut Asuransi?

Hasil gambar untuk asuransi
gambar : www.sadar-asuransi.com


Sering deh dengar orang bilang "kapok ikut asuransi." Biasanya rasa kapok ini dilatarbelakangi oleh pengalaman buruk terkait asuransi yang diikutinya, seperti klaim ditolak, manfaat yang didapat tidak seperti yang dipromosikan agen, sampai uang premi dibawa kabur oleh agen. Tentunya masih banyak sebab-sebab lain yang kalau diuraikan semua bisa jadi artikel berjudul "1.000 Alasan Orang Kapok Ikut Asuransi" (hah 1.000? Bisa jadi hihihi)

Saya sendiri pernah mendapatkan pengalaman yang harus dibayar mahal terkait asuransi. Seperti saya ceritakan di tulisan "pengalaman menutup polis asuransi", di mana bisa saja saya dianggap kehilangan uang sedikitnya Rp 7 juta karena salah memilih produk asuransi. Bagi sebagian kalangan, Rp 7 juta bukan apa-apa ya.. Tapi buat saya, itu masih jumlah yang sangat berharga ^_^. 

Pengalaman lain adalah ketika kartu asuransi Mega Health atas nama anak bungsu saya tidak bisa digunakan ketika dia keluar rumah sakit dengan diagnosa penyakit Hirschprung. (Baca : Cerita Elo Sakit Hirschprung). Ketika membayar, dengan PeDe-nya saya menyodorkan kartu asuransi. Kami tunggu cukup lama sampai akhirnya dapat jawaban jika biaya tidak bisa dibayar oleh perusahaan asuransi dengan alasan Hirschprung adalah penyakit bawaan dan karenanya tidak dicover oleh asuransi.


Kasus yang pertama sih saya bisa terima. "Kerugian" itu saya pahami sebagai bagian dari risiko menggunakan asuransi unit link. Ya memang gituuu kalau asuransi unit link sih. Nilai tunai diambil ketika pembayaran premi baru jalan dua tahun, ya pantes kalo rugi besar. Sedari awal sudah dijelaskan sih sama agen. Yang bikin agak senewen cuma sikap si mbak staff kantor asuransi pas saat pencairan aja sih.

Yang agak nyesek justru di kasus kedua. Saat itu asuransi yang kami pakai saat itu adalah fasilitas dari kantor suami. Jadi kami sama sekali nggak pegang buku polis yang memuat detail kontrak dan layanan. Selain itu, dari kantor suami ada dua jenis asuransi untuk rawat inap, yakni BPJS dan swasta (yang swasta ini sering berganti sesuai kebijakan kantor. Pada saat Elo sakit itu kantor suami sedang bekerja sama dengan Mega Health). 

Saya mafhum sih kalau banyak (atau malah nyaris semua?) asuransi kesehatan tidak menanggung biaya akibat penyakit bawaan. Tapi saat El sakit, diagnosa sakit bawaan kan baru kami tahu setelah perawatan, bukan saat masuk. Sementara saat masuk kamar perawatan, keluarga pasien sudah langsung ditanya sama perawat, "nanti pembayaran pakai apa? Cash atau asuransi. Kalau asuransi, asuransi apa?"

Nah lho...kalau sudah tahu penyakit El dari awal, saya mau pilih bayar pakai BPJS dong. Secara BPJS bisa cover segala macam penyakit. Tapi kan baru tahu penyakitnya setelah dirawat, sementara jenis asuransi dipatok di awal. Pengalaman rawat inap El di dua rumah sakit yang berbeda, jenis asuransi selalu ditanyakan di awal (apakah memang begitu prosedur di rumah sakit?). Kalau bisa pilih jenis asuransi di saat pembayaran kan enak. Yang A nggak bisa cover, ganti pakai yang B.... Maunyaaaaa siiiiih.
Kejadian lain : di polis asuransi satunya (yang sepenuhnya bayar sendiri), saya sudah  sepuluh tahun bayar premi. Tapi, satu kalipun saya belum pernah klaim. Karena yang bisa diklaim hanya untuk rawat inap (dan penyakitnya ditanggung). Sementara dalam periode ini, saya baru dua kali rawat inap yang disebabkan operasi caesar. Dalam asuransi yang saya ikuti, rawat inap oleh sebab kehamilan nggak bisa diklaim.

Satu sisi bersyukur dong, kan berarti relatif sehat. Kalaupun ada sakit, sakit biasa yang tak perlu rawat inap. Di sisi lain bisa juga berpikir, rugi dong...sudah bayar lama tapi nggak pernah klaim? -Ada lho beberapa orang yang meski sebenarnya bisa rawat jalan tapi pilih opname supaya bisa klaim biaya pengobatan :D

Di sinilah rasanya seperti anomali. Meski bisa dibilang sudah mengalami kejadian tak menyenangkan, tapi saya nggak kapok ikut asuransi. Bahkan andai dana mencukupi sih saya mau-mau saja tambah polis lagi -tentunya pilih jenis asuransi yang memang sesuai kebutuhan supaya tidak (merasa) salah lagi. Tapi sementara ini sih, cukupkan diri dengan asuransi yang sudah diikuti. Syukur-syukur yang sudah ada ini pun bisa terus lancar bayar preminya :).


Saya tetap percaya asuransi sebagai upaya mengalihkan sebagian risiko jika terjadi hal-hal buruk yang tidak saya inginkan. Terbukti, saat Elo sakit (lagi) dan dirawat di rumah sakit (lagi), kami sama sekali tak membayar sepeser pun biaya perawatan. Elo rawat inap dua kali pada bulan Januari dan April 2017 di kamar VIP dan sedari awal pendaftaran menggunakan asuransi (swasta) dari kantor suami. Sebenarnya dag dig dug juga, ntar kalau sakitnya sama dengan yang dulu, alamat nggak bakalan ditanggung asuransi. Sementara, kami enggan pakai BPJS karena antrinya ituuuu...nggak kuku. Memang sih, bayar pakai asuransi  yang ini mesti sabaaaar nunggu verifikasinya. Kami fixed pulang setelah visit dokter pagi (jam 9-an), tapi baru keluar RS sekitar pukul 17. Capek nunggu iya...tapi nggak capek di dompet ^-^
 
Kalau sudah ogah asuransi karena alasankeyakinan, itu hak masing-masing orang. Tapi kalau buat saya, PR-nya adalah bagaimana terus menambah pengetahuan tentang asuransi. Dengan demikian, saya tak salah pilih produk asuransi yang sesuai kebutuhan dan kemampuan.

Salam
Lsd

Komentar

  1. Kalo saya sih mbak belum kapok ikut asuransi, soalnya saya belum pernah ikut asuransi mbak ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...ya lah gimana mau kapok ya,coba aja belum :). trimakasih sudah berkunjung kang iman ^-^

      Hapus
  2. Iya aku juga sempet galau kalo yang asuransi bab upaya kehamilan ga bisa keklaim, serasa sia sia nabungku huhu

    BalasHapus
  3. Saya malah ga pengalaman asuransu kehamilan mbak. Kalo asuransi kehamilan yg mbak ikuti, hanguskah kalau gak ada klaim?

    BalasHapus
  4. Saya malah ga pengalaman asuransu kehamilan mbak. Kalo asuransi kehamilan yg mbak ikuti, hanguskah kalau gak ada klaim?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?