Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Diet HP

Gambar
Sudah tiga hari ini saya melakukan diet HP. Iya, HP yang kependekan dari HandPhone! Tentunya bukan berarti mengatur pola makan HP yaaa.. Karena saya masih makan nasi, bukan makan perangkat elektronik :D. Diet di sini berarti mengatur pemakaian HP dalam keseharian saya. 
Keputusan ini saya (dan suami) ambil karena khawatir anak kedua kami, El bakal kecanduan HP.Jangankan lihat HP nganggur, HP lagi dipakai ayahnya atau bundanya atau mas-nya pun langsung dia rebut. HP lagi dicharge, langsung dicabut kabelnya. Kalau HP benar-benar habis baterai, dia langsung nangis nggak mau tahu. Duuuh... ini bocah baru 1.5 tahun lho..

[Mengatasi Ketakutan Kecil #3] : Setrika

Gambar

[Mengatasi Ketakutan Kecil #2] Cacing

Gambar

[Mengatasi Ketakutan Kecil #1] Belut

Gambar
Kalau ada ketakutan kecil, apakah ada ketakutan besar? Saya "asal" saja sih bikin penggolongan. Ketakutan besar saya terjemahkan sebagai ketakutan/kekhawatiran pada hal-hal serius seperti masa depan, kesehatan, perkawinan, atau kematian. Sedangkan ketakutan kecil saya artikan sebagai kengerian pada hal-hal sepele, misal : ulat, cacing, karet dan gelang. Sekalipun sepele akhirnya jadi nggak sepele karena bisa jadi tingkat keparahannya sudah masuk golongan phobia.
Saya sendiri pernah mengalami ketakutan pada beberapa hal kecil. Puji Tuhan, saya berhasil melawannya. Bagaimana cara cerita ketakutan dan cara melawannya, akan saya tulis dalam tiga seri. Seri pertama adalah tentang saya dan BELUT  ^_^

Kapokkah Ikut Asuransi?

Gambar
Sering deh dengar orang bilang "kapok ikut asuransi." Biasanya rasa kapok ini dilatarbelakangi oleh pengalaman buruk terkait asuransi yang diikutinya, seperti klaim ditolak, manfaat yang didapat tidak seperti yang dipromosikan agen, sampai uang premi dibawa kabur oleh agen. Tentunya masih banyak sebab-sebab lain yang kalau diuraikan semua bisa jadi artikel berjudul "1.000 Alasan Orang Kapok Ikut Asuransi" (hah 1.000?

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Gambar
Beberapa hari lalu, seorang teman cerita bahwa dia memutuskan stop membayar premi asuransi Prudential. Dia sudah membayar selama dua tahun dengan premi Rp 1.6 juta per bulan (untuk satu keluarga). Berarti total sudah lebih dari Rp 30 juta yang dia setorkan.
Teman saya ini benar-benar cuma "stop bayar premi", bukan mengurus penutupan polis ataupun cuti premi. Alhasil, dari jumlah sebanyak itu yang sudah disetorkan, dia tidak mendapatkan nilai tunai dan polisnya terancam lapse (hilang manfaat). Atau malah sudah lapse? Entah, waktu itu cuma cerita selintas, jadi nggak dapat cerita detailnya.
Saya pribadi agak menyayangkan sih. Seandainya dia mengurus penutupan polis, pasti masih ada nilai tunai yang bisa diambil, seberapapun jumlahnya. Atau kalau mengurus cuti premi, manfaat asuransi masih akan berjalan sampai "tabungan" premi habis. Mana tahu kan, ada hal-hal yang tidak diinginkan dan tercover asuransi terjadi dalam rentang waktu cuti premi ini.