27/01/16

Berdamai Dengan Panggilan "Emak"


Gara-gara kemarin mendaftarkan diri ke Komunitas Emak Blogger (KEB), jadi deh pengin cerita ini. Tadi sebelum menulis ini, sempat lihat notifikasi facebook. Rikues saya sudah di-approve (yipiiee). Tapi belum meluncur ke grup sih, baru lihat notifikasi doang. Berhubung judulnya saja komunitas emak(2), panggilan sesama member adalah "(e)mak".

Sekarang sih panggilan "mak" (emak atau mamak) sudah terasa adem di telinga, pikiran, maupun perasaan #tsaah. Tapi beberapa tahun lalu, panggilan ini terasa aneh loh. Padahal beberapa-tahun yang saya maksud di sini bukan jangka waktu yang terlalu lama. Bukan tahun-tahun di masih gadis (ya iyalaaah...kalo masih gadis dipanggil "mak", bisa-bisa lempar sepatu manyuun berat :D). Tapi ini tahun-tahun setelah saya menikah, bahkan punya anak.

Padahal panggilan emak itu bukan sesuatu yang asing buat saya. Sebaliknya, justru teramat dekat. Merunut jauh ke belakang, ke masa kecil. Saya memanggil ibu saya dengan panggilan emak, lebih seringnya sih mak-e hehehe. Dulu kampung saya, tak banyak anak yang menyebut ibunya emak. Lebih sedikiiit lagi yang memanggil ibu (atau malah tak ada). Lalu, sama sekali tak ada yang memanggil mama/mami. Mayoritas panggilan pada ibu adalah simbok/embok/mboke. Banyak juga yang menggunakan panggilan biyung. 


25/01/16

Menunggu Dot Com

gambar dari tempat ini


Dua atau tiga tahun lalu, saat masih aktif di sebuah MLM, saya cukup sering belanja domain (alamat web). Dari awalnya sama sekali tak kenal apa itu domain, jadi sering beli domain gara-gara web replika. Nama web replika kan umumnya panjaaaang yaaa. Ada nama web utama plus tambahan identitas masing-masing member... empunya saja perlu energi extra untuk ngapalin. Nggak asik buat promosi ^-^

Berbekal browsing dan training online, jadi deh coba-coba beli domain. Eh sebelum beli domain lebih dulu pakai domain gratisan dot tk sih. Walau tak sefamiliar dot com yang penting sudah bisa menyederhanakan URL web replika (kalau ada yang gratis, ngapain yang bayar? #prinsip utama# hahaha). Berhubung waktu itu saya sudah leader, jadi deh bantuin temen-temen jaringan untuk forwarding URL web replika mereka dengan dot tk. Cara-caranya simpel tapi harus pakai laptop/PC. Makanya mesti bantu temen-temen yang belum punya fasilitas itu. Bagi yang sudah punya laptop/PC, saya ajari.

Lalu dot tk berhenti memberikan layanan gretongan. Jadi deh mau nggak mau pakai yang bayar #kaciaan deh. Mengikuti berbagai referensi, saya pilih akhiran dot com. Akhiran dot com sepertinya memang lebih familiar dibandingkan akhiran lain yaa... walau sudah nggak tren, sekarang pun masih suka ada candaan atau status di media sosial dengan embel-embel dot com. Misal :

www.dikamartidur.com
www.nggambleh.com
www.menunggu.com
www.capekberat.com

15/01/16

Hibernasi



Gara-gara komentar di status facebook mbak Okie E. Noorsary jadi deh ketemu (lagi) sama kata hibernasi. Ah ya, rasanya sudah cukup lama tak bersua dengan kata ini. Awalnya mbak Okie nulis status menyemangati diri untuk nulis. Jadilah, saya yang juga sedang melakukan hal serupa membubuhkan komentar. Saling balas komentar sampai muncul kata hibernasi. Kata mbak Okie, blognya lagi hibernasi.

Melihat blog diri sendiri yang jelas sudah hibernasi lamaaa, jadi kepo blogwalking ke blog mbak Okie. Ah...ya kan...seperti dugaan saya. Hibernasinya ga separah daily-wife hehehe. Tapi segitu pun mbak Okie sudah bilang hibernasi.

Jadi ingat duluuuu...waktu awal-awal terkena block-writing. Saya bilang ke diri sendiri, nggak apa-apa deh hibernasi dulu. Tiap-tiap orang kan punya musim masing-masing. Mungkin ini memang sedang musim gugur buat saya. Tapi rupanya musim gugurnya kelamaan. Terlebih kemudian punya kesibukan lain di luar segala-urusan-sebagai-ibu-rumah-tangga. Jadilah niatan menulis itu hibernasi dalam jangka waktu yang sangat panjang. Bertahun-tahun boooo...

Tapi sudahlah. Kalau blog ini sudah terbukti eksis lagi, baru deh ntar cerita lebih panjang tentang masa hibernasi itu. Sekarang...yakinlah bahwa musim semi telah tiba ^-^(LSD)

12/01/16

Cerita Elo Sakit Hirschsprung (Part 3)




Cerita sebelumnya : part 1 di sini dan part 2 di sini ^-^

Awalnya merasa cukup dengan berbagi cerita tentang Elo sampai part 2. Tapi rupanya tulisan kemarin memang agak menggantung endingnya. Alhasil jadi dapat pertanyaan-pertanyaan tentang situasi Elo sekarang ^-^

Puji Tuhan setelah lima kali datang ke klinik Dr Rochadi SpB. SpBA, Elo sudah baik. Perutnya yang semula menggembung sudah kempis dan dia mulai bisa beraktifitas seperti biasa. Pada usia 11 bulan -sebelum sakit, Elo sudah mulai belajar jalan satu sampai tiga langkah. Sejak sakit praktis dia stop belajar jalan. Jangankan jalan ya...buat berdiri saja lemes dumessss ^-^. Setelah mulai sehat, langsung deh mulai belajar jalan lagi, mulai lasak lagi :).

Selama pemulihan, Elo nggak dipantang makanan apapun sama dokter. Normal saja... namanya masih kecil makanannya juga belum macem orang dewasa. Makan masih nasi lembut, juga belum makan dengan rasa-rasa tajam yang bisa mengundang reaksi perut. Sama dokter cuma dianjurkan sering makan pepaya, tapi Elo nggak mau, jadi saya substitusi dengan buah sayur -intinya yang mengandung serat. Dokter juga cuma kasih vitamin biasa - yang bisa beli di sembarang apotik dengan harga terjangkau, bukan vitamin yang mesti resep dokter dengan harga wow (eh ada ya vitamin yang mesti pakai resep dokter? )



Tapi memang, saat-saat itu nafsu makannya belum kembali. Mungkin perutnya juga masih belum sepenuhnya enak. Jadi makannya sedikit-sedikit. Tetap bersyukur, masih ada makanan yang masuk. Daripada tidak mau makan sama sekali seperti saat opname. Memang tubuh Elo jadi tampak keciiil. Sudah dasarnya bukan chubby baby...eh sakit lama pula. Sebelum sakit berat Elo kurleb 8 kilogram dan saat sakit menyusut sampai 1 kg. Terbayang kan... usia setahun dengan berat 7 kg. Kecil bin mungil.


Tapi melihat dia tertawa-tawa bermain bersama Mas Ale juga kakak-kakak sepupunya, selalu rasa syukur itu mengembang. Kalau jadi kolostomi, hari-hari itu dia tak akan sebebas merpati (eh gara-gara Kahitna, tiap bilang "sebebas" langsung nyambung sama merpati hahaha). Maksudnya, hari-hari itu Elo kemana-mana dengan lubang di perut. Otomatis dia nggak bebas main karena perutnya dikasih perban atau apalah supaya lubangnya tak terbuka. Lubang yang terbuka atau kurang bersih akan memicu aneka infeksi. Atau bahkan mungkin perlu colostomy bag diikatkan di perut kalau-kalau dia pup sewaktu-waktu. 

Penyerapan makanannya juga sangat mungkin terganggu akibat operasi itu. Sudah makannya sedikit, penyerapannya terganggu pula... dobel problem. Tapi entah juga yaa... apa kalau memang mesti operasi, Elo harus kolostomi. Karena Dr Rochadi menemukan metode operasi Hirschsprung yang cukup sekali, tak perlu dua kali. Metode yang dibahas dalam disertasi Dr Rochadi dan mengantar beliau meraih gelar Doktor. Yang jelas nggak perlu operasi tetap lebih baik dibandingkan operasi walau cuma sekali, ya kan?

Selama rawat jalan di Jogja kami tinggal di rumah Mbah Uti (mertua saya) di Klaten. Berhubung Elo sudah terlihat baik, saya memutuskan untuk gantian tinggal (sementara) ke rumah Mbah Upi (ibu saya) di Temanggung. Rencananya sih dua minggu di Klaten, dua minggu di Temanggung. Jadi kan balance. Tapi rencana meleset... di Temanggung malah molor sampai empat minggu. Itupun masih ditahan-tahan sama saudara-saudara, karena waktu itu kan bulan November (2015) jadi "kenapa nggak sampai habis natal saja?"


Weits... Elo sudah tampak baik kok. Ale juga sudah pengin segera pulang Siantar. Tiap digodain kalau pulangnya mundur, bocah kelas TK B ini langsung ngambeg. Nggak cuma Ale yang kangen ayah, bundanya juga kok (cuiiitssss). Semuanya sudah kangen ayah hehehe. Tinggal di rumah emak sendiri, bersama keluarga besar, jelas menyenangkan. Terlebih banyak yang mau pegang Elo dan Elo juga mau. Jadi saya bisa agak-agak cuti gitu hehehe. Ya lah..kalau sudah di Siantar, bisa seharian full pegang itu bocah. Ibu-ibu pasti ngerti gimana capeknya full seharian pegang bocah yang lagi belajar jalan kan? #pertanyaanretoris. Tapi saya tipe istri yang tak suka berlama-lama berjauhan dengan suami. Kalau situasi tidak memaksa untuk berjauhan, rasanya lebih baik untuk tidak berlama-lama.


Jadilah medio November kami bertiga balik Siantar. Pengalaman pertama terbang bertiga saja (saya, Ale, Elo - minus ayah). Sungguh-sungguh berdoa agar krucila tenang selama penerbangan. Bersyukur banget ada direct flight Air Asia Jogja - Medan. Betapa ribetnya kalau bawa dua bocah kecil dan mesti transit, pindah pesawat - seringnya pakai pindah gate pula :D. Itu pun barang-barang sudah saya paketkan lebih dulu. Jadilah terbang hanya dengan satu koper plus satu tas tangan, eh sama tas sekolah Ale juga deng...isinya cemilan dan mainan ^-^. 


Berangkat pagi-pagi sekitar pukul 04.30 dari Temanggung untuk mengejar flight pukul 09.00. Anak-anak saya biarkan nggak tidur banyak selama perjalanan ke bandara (kurang lebih tiga jam). Harapannya biar nanti tidur di pesawat saja. Trik berhasil. Di pesawat, duo krucil pules jadi emaknya bisa ikut istirahat (walau tetap nggak bisa ikut tidur :D). Dan kami sampai Kuala Namu dijemput ayah lalu sampai Siantar dengan selamat.

Sekarang kami suda kembali-ke-situasi-normal. Ayah bekerja seperti biasa. Saya juga "ndomestik" seperti sedia kala. Ale kembali sekolah. Dan Elo lasak seperti semula.


Saya bukan cenayang, juga tak punya karunia melihat kejadian di depan. Jadi nggak tahu juga nanti bagaimana si Elo, apakah sakit Hirschprungnya tak akan masalah lagi? Yang pasti sekarang buang air besarnya sudah lancar. Makannya juga sudah membaik meski tetap belum bisa masuk list bocah-lahap-makan. At least, beratnya sudah nambah, terakhir timbang sudah mendekati angka 9 kg. Ya siiih, kalau di grafik Kartu Menuju Sehat ini masih di daerah hijau muda (wilayah aman), belum di daerah hijau (wilayah optimal). Tapi ini pun sudah bersyukuur banget-banget-banget. Nggak lagi terobsesi punya anak chubby. Mungil yang penting sehat dan aktif.


Apakah dia akan selalu sehat? Apakah kami akan selalu sehat? Apakah tak akan ada lagi krisis-krisis lain yang boleh kami alami? Pertanyaan yang tak bisa saya-kami jawab. Kejadian kemarin meneguhkan kami untuk menjalani semuanya dengan percaya, Gusti mboten sare, Tuhan tidak tidur.

05/01/16

Ngomongin Resolusi



Mengenang obrolan tentang resolusi.

Januari 2008. Lupa kapan tanggalnya, kalau nggak salah akhir-akhir bulan gitu deh. Belum musim ngobrol di BBM/Whatsapp/Line dan semacamnya seperti sekarang. Waktu itu saya (S) dan MJ chat di Yahoo Messenger.

MJ : resolusimu apa?

S : #$&#;:'$##)/^.^&-/:: blah blah blah (rada panjang lebar menjabarkan resolusi saya di tahun itu). Kalau MJ apa resolusinya?

MJ : Menikah...

(Jeda)

MJ : Itu pun kalau kamu mau.

(Jeda) Saya nggak menduga dapat jawaban ngaco kayak gitu dan akhirnya nggak mau kalah ngaconya.

S : Ayo. Aku juga lagi cari suami, nggak nyari-nyari pacar lagi.

Gara-gara ngobrolin resolusi, kami jadi nyambung deh. Apakah hari saat ngobrol itu kami jadian? Nggak tau juga... Yang pasti 6 Desember 2008 kami menikah.

Kali ini di suasana tahun baru kami sok-sok merekronstruksi obrolan seperti di atas. Ngobrol dengan ditemani dua anak yang masih imut-imut.

S : jadi apa resolusi MJ taun ini?

MJ : nambah anak...

(Jeda)

Itu pun kalau kamu mau.

-------------------------

Hhhmmmmm....Kira-kira gimana ya ending dari resolusi-resolusian yang ini?

posted from Bloggeroid

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler