Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Cerita Elo Sakit Hirschsprung (Part 2)

Gambar
Part 1 ada di mari ya...^-^


Gambar dari SINI

Hirschsprung Disease Ini nama penyakit yang tak familiar buat saya maupun MJ. Jujur, sebelum diagnosa dari dokter, saya baru sekali ketemu dengan kataHirschsprung, yakni ketika googling tentang penyakit Ileus. Suatu hari, MJ mem-forward artikel tentang ileus yang bisa disebabkan konsumsi obat diare sembarangan. Sebab itu ketika dokter bilang ada pelambatan gerak usus, saya langsung berpikir tentang Ileus. Berhubung saat itu lagi fokus cari info tentang ileus, jadinya sekilas aja baca tentang Hirschsprung.


Sembari menunggu pengurusan administrasi kepulangan Elo, kami berusaha mencari sebanyak mungkin tambahan informasi tentang Hirschsprung. Apalagi kalau bukan dengan googling (thanks to internet!). Dari Wikipedia, Hirschsprung adalah suatu bentuk penyumbatan pada usus besar yang terjadi akibat lemahnyapergerakan usus karena sebagian dari usus besar tidak memiliki saraf yang mengendalikan kontraksi ototnya.  Angka kejadian Hirschsprung adalah 1…

Cerita Elo Sakit Hirschsprung (Part 1)

Gambar
Sebenarnya draft tulisan ini sudah dimulai sejak bulan November. Bahkan draft pertama sempat saya post langsung dari handphone. Tapi karena karena berbagai alasan (duuh..alasan!!) akhirnya tulisan saya rombak total dan baru saya bagikan sekarang. Semoga bermanfaat bagi semua yang sedang membutuhkan –atau suatu saat nanti memerlukan- sharing tentang penyakit Hirschsprung.

Bermula dari Selasa, 29 September 2015. Hanya tinggal hitungan hari menjelang ulangtahun Elo yang pertama. Sudah dua minggu Elo dalam kondisi cukup sehat setelah sebelumnya demam-sembuh-demam-sembuh selama empat minggu. Bocah lelaki mungil itu terlihat ceria. Bahkan pagi itu ia makan agak banyak. Sesuatu yang menggembirakan karena hari-hari sebelumnya dia susah makan.

Tapi siang hari, tiba-tiba saja dia menangis kencang dan susah didiamkam. Saya yang Jawa ini menyebutnya nangis kejer (vokal "e" dibaca seperti pada "ke"). Insting saya langsung bilang, ini bukan nangis yang biasa. Tetangga depan dan …

Demam.Demam.Demam

Pagi menjelang siang yang indah. Ale masih sekolah. Elo tidur lelap sesi pertama. Kerjaan domestik sudah relatif beres - relatif karena masih ada sisa cucian piring di wastafel. Tapi ah sudahlah. Sesekali biarkan piring. Sebagai gantinya menunggui Elo tidur sembari ngeblog supaya blog ini tak karatan karena jarang disentuh :)

Kurang lebih empat minggu ini fisik maupun psikis memang terkuras. Gara-gara Elo yang demam on-off. Bermula dari Senin, 17 Agustus. Sehabis acara Dewasa Muda GBI NCC di Sidamanik, Elo sdh mulai hangat. Malamnya dia panas sekali hingga 40,2 derajat celcius. Sebelum Senin Elo mmg sudah batuk pilek. Kalau anak demam, apalagi sampai setinggi itu, umumnya orangtua pasti tak bisa tidur nyenyak. Berjaga-jaga. Kami cemas kalau-kalau Elo kejang. Tapi puji Tuhan demamnya tak sampai kejang. Dengan diberi paracetamol plus kompres hangat, demamnya berkurang. Berhubung pada hari ketiga demamnya membaik kami tak membawa Elo ke dokter. Memang sih masih tersisa sedikit batuk dan …

Ale Sekolah (Part 1)

Tak terasa, sudah lewat sebulan Ale sekolah. Berhubung lahir bulan Juni, usia Ale jadi pas dengan tahun ajaran. Bocah lelaki berbulu mata lentik ini mulai sekolah beberapa hari setelah ulang tahunnya yang kelima. Sekolahnya adalah sekolah yang bener-bener gres, alias benar-benar baru launching. Ini adalah sekolah yayasan milik gereja tempat kami berjemaat. Jauh hari, Ale masih menyebut nama sebuah TK lain untuk dia sekolah. TK yang berada di dekat dokter kandungan tempat saya cek sewaktu hamil si Elo. Tapi seiring dekatnya waktu sekolah, Ale pindah ke lain hati sekolah ini.  Sesuai permintaan kami –orangtuanya-, Ale langsung masuk TK B. Ya, kami memang nggak ingin Ale berlama-lama di TK (dia juga tidak masuk PAUD/Play Group). Alasannya sih pragmatis sekali. Saya percaya kok pendidikan usia dini itu penting, penting bangeet malah. Tapi saya juga percaya proses itu tidak harus dilakukan di sekolah. Lagipula, saya lihat, kemarin-kemarin Ale belum siap. Parameternyasimpel,dia tak mau dit…

Operasi Caesar Didampingi Suami

Gambar
# Masih seputar operasi caesar yang saya jalani Oktober 2014 lalu.



Di tulisan sebelumnya, saya bercerita tentang "sedihnya gagal melahirkan normal". Tapi it's ok, sedihnya kan nggak berlarut-larut. Down beratnya hanya di pagi hingga siang ketika masih belum bisa menerima situasi. Maklum, dengan adanya flek plus sempat kontraksi teruatur (yang mana dua tanda ini sama sekali tidak saya alami di partus pertama), rasanya saya seperti diberi harapan palsu :D. Tapi dengan mengamalkan *pinjam istilah penataran P4* teknik-teknik hypnotherapy plus berdoa, dari kondisi down perlahan up (Puji Tuhan).


Sempat nangis-nangis bombay, akhirnya saya bisa berangkat ke mejaoperasi dengan senyum-senyum *tapi mata masih bengkak sih* Senyum saya makin lebar karena berhasil "memaksa" suami untuk menemani masuk ke ruang operasi. Puji Tuhan, semua kondisi juga mendukung. Atas berkat Tuhan, si Mas Ale tumben-tumben tertidur siang itu. Kalau tidak tidur, dia pasti lengket sama ayahnya. …

Sad Story : Gagal VBAC

Barangkali ada yang belum mengerti, langsung saya tuliskan kepanjangan VBAC, yakni Vaginal Birth After Caesar atau persalinan vaginal (normal) setelah operasi caesar.


Sejak kehamilan pertama tahun 2009, saya menginginkan persalinan normal. Apa daya, kehamilan pertama molor hingga melampui Hari Perkiraan Lahir (HPL). Bahkan ditunggu hingga 40 minggu, tak juga ada tanda-tanda melahirkan. Sebagai calon ibu baru, saya stres. Terlebih saat itu, emak yang jauh-jauh datang dari Jawa Tengah (waktu itu saya tinggal di Kabanjahe, Sumut), justru drop karena tensi darah naik hingga 220. Suami juga sering tugas keluar kota.

Kombinasi situasi yang sungguh-sungguh membuat saya tertekan. Tiap saat saya berdoa agar si bayi bisa lahir normal. Saya sampai berganti dokter hingga tiga kali. Sebab, saya merasa dokter pertama dan kedua sangat pro-caesar. Di dokter ketiga, saya diberi waktu seminggu. Jika sampai seminggu bayi tetap tidak lahir, saya harus operasi. Hari-hari itu saya seperti ngotot berdoa mem…