Wastafel

gambar dari SINI


Di rumah emak, tidak ada wastafel, baik wastafel-cuci-tangan maupun wastafel-cuci-piring. Mencuci piring dilakukan di sumur yang terletak persis di samping dapur (jadi mesti keluar pintu dapur dulu). Demikian juga urusan mencuci sayur dan lain-lain urusan masak-memasak yang  butuh air. Nyaris semua harus dilakukan di sumur. Hal seperti itu lazim di kampung kami. Eh tapi ada secuil pengecualian di dapur kami. Waktu itu, bahkan sampai sekarang, juga belum terlalu lazim di kampung kami. Saat ini, walaupun sudah ada sebagian rumah yang memiliki wastafel cuci piring, sebagian besar rumah tangga masih mencuci piring di sumur. Yaii, sebenernya mencuci piring di sumur sudah lebih deket daripada mesti ke pancuran yang letaknya jauh dari rumah. Tapi namanya manusia, selalu pengin yang lebih praktis, lebih dekat, lebih nyaman, lebih ringan...lebih-lebih-lebih segalanya!

(Alm) Bapak membuat satu lubang berbentuk kotak berukuran kecil di dapur yang tingginya setara dengan lantai. Letaknya di sebelah gentong air. Lubang ini bisa untuk cuci tangan (dengan mengambil air dari gentong). Juga untuk tempat menaruh piring+gelas+perkakas dapur kotor sebelum nanti dicuci di sumur. Ohya, ada fungsi tambahan : pas saya kecil dulu, kalau malam-malam tiba-tiba terbangun pengin pipis dan takut ke WC (karena harus keluar rumah), saya buang air di lubang itu :D.



Beranjak besar dan mulai melihat aneka dapur rumah orang lain, saya jadi pengin ada wastafel cuci piring di dapur. Rasanya praktis saja kalau ada wastafel di dapur. Cuci piring nggak perlu angkut-angkut ke sumur. Tapi, ketika rumah direnovasi dan dibuat dapur baru, bapak tetap tidak membuat wastafel. Ya cuma bikin lubang kecil itu lagi. Wastafel cuci piring yang sederhana sekalipun adalah impian yang tidak tercapai di rumah emak. Sebab, sampai sekarang pun, emak tetap tidak tertarik memasang wastafel di dapur.

Jadi, ketika sekarang tinggal di rumah yang ada wastafelnya (walau masih berstatus rumah kontrakan), ini seperti secuil keinginan masa kecil yang terwujud. Dengan adanya wastafel, pekerjaan mencuci piring jadi lebih praktis. Nggak wajib mengangkut-angkut piring ke tempat cuci yang biasanya di (dekat) kamar mandi. Urusan masak-memasak juga lebih nyaman, karena cuci-mencuci bahan-bahan bisa dilakukan di wastafel. Yang jelas, nyupir (nyuci piring) malam-malam pun jadi bukan hal yang bikin malas. Ya karena bisa dilakukan di wastafel. Dan buat saya sih, dapur bersih dari cucian piring sebelum tidur itu sudah menyumbang kenyenyakan istirahat malam :)

Saya sudah cukup puas dengan wastafel sederhana. Bahkan juga nggak terlalu banyak cingcong ketika pertama kali menempati rumah ini (tahun 2010), ternyata wastafelnya bocor. Yang mana itu baru kami sadari ketika kotak-kotak kardus yang kami taruh di bawah wastafel semuanya basah. Ternyata pipa pembuangan airnya nggak tersambung ketat dengan wastafelnya. Pantesan air merembes ke bawah. Waktu itu, saya berusaha perbaiki dengan mengelem. Tapi tak berhasil. Tetap bocor. Alhasil, ruangan di bawah wastafel tidak diisi apapun.

Berhubung bocornya masih kecil, saya enjoy-enjoy saja. Paling-paling butuh beberapa hari sekali mengepel lantai bawah wastafel. Eh lama-lama, bocornya menggila. Setiap cuci piring, air langsung menggenang di bawah. Ternyata, pipa air dan wastafel sudah bener-bener tidak nyambung. Menempel tapi tidak lekat. Jadi banyak air yang merembes ke bawah. Sudah lapor suami, tapi tidak ada juga tindakan perbaikan :D. Jadi, mau nggak mau sebagai penanggung-jawab dapur mesti mikir sendiri.

Pertama-tama, saya coba lem pake lem setan. Nggak tau apa merk lem ini, tulisan China sih..tapi di sini disebutnya lem setan karena kalo nempel di kulit jadi lengket banget (kayak setan?). Usaha pertama gagal. Terus saya coba pakai lem yang sering dipakai buat lem aquarium. Gagal juga. Usaha ketiga, menyemen bagian bawah, tepat di sambungan pipa dengan wastafel. Lumayan berhasil menahan bocor. Tapi hanya tahan beberapa hari. Karena tidak ada penahan, lama-lama lapisan tipis semen berjatuhan dan kembali bocor. Putar otak. Kali ini yang disemen adalah sambungan bagian atas. Saringan sampah saya copot, lalu semen diaplikasikan di sela tipis antara wastafel dengan pipa bagian dalam. Tunggu sampai benar-benar kering. baru wastafel dipakai lagi. Uhuii, rupanya kali ini berhasil. Setidaknya sudah hampir sebulan, sambungan masih aman. Kalaupun masih ada bocoran, jumlahnya sangat tidak signifikan. Keberhasilan yang membuat saya cukup bangga. Nggak harus marah-marah ke suami atau mengundang tukang untuk melakukan ini :)

Kelak, kalau punya rumah sendiri, ya mesti ada wastafelnya dooong. Gara-gara nulis ini, jadi deh googling gambar wastafel.  Dan jadi takjub...aiiih rupanya bentuk wastafel itu macem-macem. Nggak kayak gambar di atas aja....  Gini nih kalau ga pernah main ke Ace Hardware dan sebangsanya, ga nyimak artikel-artikel tentang desain dapur, juga nggak pernah main ke dapur-dapur modern nan mewah hahahaha.

gambar dari SINI






gambar dari SINI




Gambar dari SINI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?