26/09/14

Sadar Investasi

Selalu terhibur dengan kalimat "tak ada kata terlambat untuk berinvestasi". Soalnya, jujur saja kalau lihat orang-orang yang jauh lebih muda sudah pada paham investasi, kok jadi berasa telat banget...

Secara sekarang uda kepala tiga gitu...anak juga sudah mau masuk sekolah. Tapi ok_lah drpd merasa terintimidasi sama "feeling guilty", mending pakai kalimat penghiburan tadi. Selain itu yaaa dengan disiplin investasi dan terus belajar. Dengan situasi keluarga yang single income, plus jabatan saya selaku "menteri keuangan rumah tangga", jadi deh saya merasa belajar investasi itu wajiiiib!

Flash back ke beberapa tahun lalu, waktu masih single_punya gaji_dan nggak punya tanggungan, boro-boro mikir investasi jangka panjang. Yang penting gaji masuk tiap bulan dan masih bisa nabung. Nabung kan juga investasi :D. Boro-boro mikirin pendapatan bunga yang ngga ngejar laju inflansi de el el. Masih ada uang di rekening bank, habis perkara. Lihat ada temen yang sudah kredit rumah, malah mikirnya : hedeh serius banget siapin masa depan. Nggak ada mikir beli-beli barang yang bernilai investasi. Adanya beli-beli barang yang nilai ke depannya menurun macam gadget, kamera, sepeda motor (tapi emang karena kebutuhan kerja juga siiy). Yang pernah saya lakuin saat itu cuma ikut tabungan berjangka (tiga tahun) di sebuah bank gara-gara tertarik hadiah promonya sama ambil dua polis asuransi unit link (yang bentar lagi mo selese masa nabungnya). Kalau ada tabungan pensiun sama jamsostek...itu kan karena diwajibkan perusahaan.

Tapi resign dan langsung jadi "menteri keuangan" rumah tangga juga nggak menjamin langsung tergerak belajar investasi. Uang dari suami ya cuma dipisah untuk kebutuhan sehari-hari sama nabung di rekening. Sudah merasa cukup dengan tidak foya-foya dan rutin menyisihkan pendapatan. Eh ya, sudah mulai sih beli emas..tapi nggak rutin dan dikiiit. Masih lebih nyaman simpan uang di tabungan konvensional. Sampai kemudian tertarik jualan online dan bisnis MLM. Tapi gara-gara pemisahan keuangan yang nggak bagus, malah sempat membuat keuangan agak belibet. Pelajarannya : sesederhana dan sekecil apapun bisnis kita, pengaturan keuangan mesti rapi dan tegas.

Sekarang, gara-gara sering baca-baca sharing-sharing masalah keuangan di forum-forum emak-emak, baru deh tergugah hati. Dan ouooooo....betapa-betapa pengaturan keuangan rumah tangga masih jauh dari rapi dan terencana.

Yaks...bikin perencanaan jangka panjang/tahunan pakai excel segala sih belom. Tapi setidaknya uda mulai mikir oh kudunya begini..kudunya begitu. Terus juga mendiversifikasi jenis tabungan. Nggak cuma nabung di rekening bank aja (kalau kata suhu-suhu invest sih rekening bank mah bukan untuk investasi, tapi transaksi....yups betuuull, lha wong biaya adminitrasinya saja berlomba sama pendapatan bunga :D).

Lalu mulailah rapi-rapi sana -sini. Salah satunya mengurus pindah alamat untuk pengiriman laporan bulanan polis asuransi. Yak..ketika dulu pindah alamat, saya nggak urus perubahan ke perusahaan asuransi loh. Alhasil, sudah bertahun-tahun saya nggak pernah terima laporan bulanan atas dua polis asuransi saya. Karena sedari awal sudah terpatri kalo ini invest jangka panjang plusk9 pembayarannya pake autodebet rekening, jadi selama  pembayaran ga ada masalah, ya saya abai. Ga pernah deh cek perkembangan unit-unit saya. Mana selama ini juga belum pernah manfaatin benefitnya karena belum pernah rawat inap (ih jauh-jauh deh ya). Sekalinya rawat inap ya pas sectio si Ale yang mana nggak ditanggung asuransi -tapi dicover kantor misua siiy :).

Baca-baca forum, unit link sih bukan sarana investasi yang recomended karena biaya akuisisi yang tinggi dan manfaat pertanggungan+cover+investasi yang diperoleh lebih rendah dibandingkan kalau dipisah menjadi asuransi dan investasi murni. Baru deh mulai pengin ngerti "berapa sih saldo polis saya?" kekekeke...dan rupanya memang, uda tujuh tahun berjalan pun belom balik modal loh...tapi mikir-mikir, malah makin rugi deh kalau distop. Terusin aja deh...tinggal bentar lagi. Toh rencana pakainya buat ntar anak kuliah. Dan itu masik belasan tahun lagi :). Tapi mikir juga kok rendah banget ya saldonya...baru keinget kalo dulu pilih pengelolaan dana dengan saham campuran. Jadi deh kontak agen untuk switch ke total saham dengan harapan returnnya bisa naik.

Gara-gara forum pula jadi "keracunan" virus reksadana. Dan setelah sekian lama cuma baca-baca (dan lambat paham), akhirnya tadi siang jadi deh beli reksadana (ntar buat tulisan sendiri deh soal ini).

Selain invest di produk-produk keuangan yang macem gitu, kami juga nabung di tabungan supertradisional, yakni arisan. Yipieeee.... ini investasi ga siy? Berhubung arisannya pake bunga, jadi saya anggap investasi deh hehehe. Kalau di sini sih arisan berbunga ini lazimnya disebut tarikan/tawaran atau jula-jula. Anggota yang menawarkan bunga tertinggi, dia yang menarik arisan.  Daripada bunga di rekening bank, perkembangan dana di tarikan lebih kompetitif lho..tapi ya itu, hanya berdasarkan saling percaya aja.

Mungkin jadi ada yang mikir, wah banyak dong mbaa tabungannya. Di mana-mana gituuu... Haha..banyak sedikit sih relatif yaa... tapi premi-premi polis saya mah minimalis. Beli reksadana itu juga bisa kok dengan Rp 100ribu aja per bulan.

Ini sih karena patuh sama prinsip "don't put your eggs in a basket". Terbukti kok, kalau semisal dulu invest semua dana di logam mulia, dan harga logam mulia malas-malasan kayak sekarang, kan bikin mules tuh.

Pas buka reksadana sempat ketawa-ketawa sama si mbak customer service bank, "saya nih mba, uang segini aja banyak banget keranjangnya". Si mbak CS sambil nyalamin saya bilang, "semoga semuanya optimal ya, Bu." Tentu saja saya aminkan doong :).

Kalau yang penghasilannya jauh lebih gede saja pada tertib mengatur keuangan dan rencana investasi, apalagi saya yah...

Akhir kata, mengutip chat whatsapp dengan temen tadi pagi :

Sebagian besar orang takut investasi krn risiko, berarti dia gak percaya meskipun sudah tahu investasi yg tepat dan risiko terukur

Nah sebagian besar yg jebol krn investasi bodong adalah orang yg gak wise dan rakus

Jd risiko dalam investasi selalu diperlukan, krn pada akhirnya bukan seberapa banyak uang yg kita hasilkan. Tetapi bagaimana kita mengelola kekayaan yg merupakan titipan dr Allah

#FinancialPlannerSyariah

Salam

(Lsd)






Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri Unggulan

Hari-hari Menjelang Akadku

pic : www.sewa-apartemen.net Minggu-minggu ini, aku dan Mas J semakin mendekati hari akad. Jadwal pastinya sih belum ada. Tapi kalau...

Postingan Terpopuler