Berkat Menikmati

gambar pinjam dari SINI

Ngomongin berkat, sepakat kan kalau bentuk berkat itu buanyaaaak banget. Dan siang ini aku ingat obrolan dengan seorang temen beberapa waktu lalu. Kami, sama-sama pendatang di Kota Siantar ini dengan penyebab yang serupa : suami ditempatkan bertugas di sini. Kami juga sama-sama emak-emak rumah tangga. Meski sama-sama pendatang, dia sudah ber-KTP Pematangsiantar sementara aku dan suami masih pegang KTP Jawa Tengah :).

Namanya emak-emak yah...sesekali ngobrolin fasilitas kantor suami masing-masing. Misalnya aja soal fasilitas mobil. Puji Tuhan, suami-suami kami sama-sama sudah dapat fasilitas mobil dari kantor masing-masing. Mobil operasional kerja yang bisa dibawa balik dan boleh dipakai untuk keperluan pribadi (asal jangan direntalin aja :P). Memang sih, mobil ini hanya fasilitas pakai. Di kantor misuaku, nggak ada kebijakan mobil jadi milik pribadi setelah pemakaian sekian tahun. Tapi buatku, fasilitas pakai aja sudah membantu bangeeet. Tinggal pakai dan secara periodik juga ganti mobil. Cuman mikir gimana keamanan pemakaian mobil aja (which is ini soal gimana misua nyopir--karena aku belum bisa nyopir, aku dukung doa aja supaya misua selalu safe selama pakai mobil). Biaya BBM, servis, sama pajak sudah urusan kantor. Jadi, walau belum punya sendiri, tapi sudah bersyukurrr bangeeeet :).

Terus soal rumah tinggal. Kalau kebijakan kantor suamiku, ketika pindah ke tempat baru, maka akan dapat biaya kontrak rumah selama dua tahun pertama (saja). Selanjutnya, kalau masih kontrak, ya bayar sendiri :D. Kalau kantor temen ini lebih enak, karena selama berada di kota itu dan ngontrak, maka biaya kontrak terus ditanggung perusahaan. Tapi listrik dan air bayar sendiri (entah deh kalau Pajak Bumi dan Bangunannya, siapa yang bayar). Perusahaan sepupuku, beda lagi fasilitasnya. Karena kerja di perkebunan mereka dapat fasilitas rumah dinas di area kebun. Rumah gratis, listrik+air gratis, bahkan juga dapat tunjangan khusus kalau pakai jasa asisten rumah tangga #akujugamaubangetbeginiiii

Urusan membanding-mbandingkan fasilitas kantor memang potensial menimbulkan respon, "wah enak ya kalau di kantor (suami) kamu. Kantor (suami)ku cuma gini...". Yaaa..jujur aja, spontan kadang aku juga begitu. Pas ngobrol sama temenku itu juga begitu...

Berhubung sekarang-sekarang  ini aku memang lagi termehek-mehek pengin punya rumah sendiri (karena sudah empat tahun tinggal di Siantar, yang mana artinya, jatah biaya rumah dari kantor sudah lewat sejak dua tahun lalu). Jadi kubilang sama temenku itu, "duuuh enak banget niih yang ga perlu bayar rumah."

Sambil ketawa-ketawa temenku merespon, "ya saat ini memang belum dapat berkat memiliki, tapi berkat menikmati kan sudah." Ups... bener banget. Saat itu, ucapan temenku terasa nampoool. Gara-gara fokus termehek-mehek PENGIN PUNYA RUMAH sendiri, akhirnya jadi rada samar sama berkat "menikmati rumah kontrakan."

Padahal, Tuhan sudah sediakan berkat yang bisa kami gunakan untuk bayar rumah. Banyaaak lhooo orang-orang yang pusiiing tujuh keliling tiap harus bayar kontrakan. Alih-alih bisa bayar kontrakan dengan lancar mereka terpaksa melakukan tindakan kriminal. Alih-alih bisa melanjutkan tinggal dengan nyaman, mereka terpaksa terusir dan tinggal di kontrakan yang lebih buruk, atau bahkan menggelandang. (Pas hari-hari kami kudu bayar kontrakan, di tivi lagi ada berita soal Zahra, balita Jakarta yang tinggal di kolong jembatan dan tragisnya tewas kecemplung sungai saat tidur). 

Tuhan juga berikan berkat "tarif kontrakan tetap." Padahal, kami sudah siap-siap ngeles bercanda kalau yang punya kontrakan mau naikin tarif. Rupanya, sampai hari H, nggak ada pemberitahuan naik. Pas kami datang bayar, si empunya rumah juga cuma nanya sambil becanda, "nggak ditambahi jumlahnya ini?". Dan ketika kami bilang "enggak", si bapak juga ketawa-ketawa aja...thanks God :). Ini berkat tersendiri karena tarif rumah-rumah kontrakan dan rumah kos-kosan di sekitar tempat tinggal kami sudah pada naik.

Dua ini cuma sebagian kecil aja tentunya yaaa...
Kalau mau nge-list... jelas banyak sekali item "berkat menikmati" yang Tuhan berikan pada kita. Tinggal kitanya terlalu fokus mengejar "berkat memiliki" atau bisa dengan bersukacita menikmati "berkat menikmati" ini. Soal memiliki, asal tetap berusaha, aku percaya semua akan indah pada waktunya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Menutup Polis Asuransi

Pakai Popok Tali Dua Sampai Usia Berapa?