Pagar

Malam ini, si ayah (MJ..bukan Mary Jane tapi Mas Jalu he2) belum pulang kerja. Barusan saya whatsapp MJ, dia bilang memang pulang malam. Tapi tadi, sekitar satu jam sebelum saya whatsapp MJ, saya berinisiatif membuka pagar depan. Saya berasumsi, MJ sebentar lagi pulang. Jadi maksudnya sih, biar nanti kalau MJ pulang, dia nggak perlu ribet turun mobil untuk buka pagar. Tapi bisa langsung meluncur ke halaman.

Tapi asumsi saya salah...

Ini sudah malam dan MJ belum pulang. Mana cuaca hujan pula. Suasana jadi terasa sepiii.... Dengan keadaan pagar terbuka, saya merasa nggak aman. Tapi mau menutup pagar : males karena hujan... #dilemaaaa

Padahal, kalau pagarnya tertutup, apa situasi bener2 jadi aman? Nggak juga. Pas lebaran lalu, pagar depan tertutup rapat, tapi kami kemalingan. Dari jejaknya, si maling sepertinya lompat dari pagar samping _yang mana memang bukan pagar tinggi, sekedar pagar kawat duri yang kalau dipotong pun bisa.

Yah, pagar rumah tempat tinggal kami memang bukan pagar dengan security tingkat tinggi. Tapi bukan juga pagar artifisial, karena toh tidak dibuat dengan cita rasa keindahan. Hanya pagar besi pada umumnya, lalu di bagian samping disambung dengan bata dan kawat duri.

Meski demikian, ada perbedaan rasa aman yang signifikan antara kondisi pintu pagar tertutup dengan terbuka. Kalau tertutup, kami merasa lebih aman...padahal faktanya pagar tertutup pun tetap tidak aman. Karena pencuri, biasanya pandai melewati pagar. Jadi pintu pagar ini sebenarnya hanya memberikan (rasa) aman yang semu.

Kadang saya rindu dengan situasi rimah tak berpagar seperti rumah-rumah di kampung. Terbiasa tanpa pagar, kami merasa aman-aman saja. Tanpa pagar, rumah serasa ramah. Jika rumah berpagar, apalagi pagarnya tinggi, orang merasa segan untuk masuk. Apalagi pagarnya tinggi dan tertutup... empunya rumah bisa jadi memang (agak) asosial, atau amat sangat menjaga privasi.

Memang sih, sekarang, di hunian tipe cluster, rumah-rumah dibangun tanpa pagar. Tapii... tanpa pagar yang palsu. Karena sekeliling perumahan justru dipagar tinggi. Lalu di gerbang perumahan, satpam bersiaga.

Yah...mau nggak mau. Walaupun ideal saya adalah rumah tanpa pagar, tapi di beberapa lingkungan ini saya mesti kompromi. Karena tanpa pagar bisa menjadi "undangan" untuk seseorang melakukan kejahatan.

Ini baru ngomongin pagar fisik yaaa... belum kalo ngomongin pagar yang abstrak. Pagar yang tak kelihata8n, tapi dalam hidup ini, nyata-nyata membatasi kehidupan seorang dengan yang lainnya. Pagar itu bisa berupa suku, agama, ras, kekayaan, pendidikan, dan banyak lagi lainnya.

Ah pagar....


Posted via Blogaway

Rindu Bleki

Siang ini, entah dipicu oleh apa...tiba-tiba mata Ale berkaca-kaca. Bocah 4,5 tahun itu menyebut-nyebut sebuah nama : Bleki. Anjing kampung betina  (sesuai namanya) berwarna hitam, yang sudah lama kami jual karena saya merasa tidak akan sanggup memelihara seekor induk anjing beserta anak-anaknya. Memelihara seekor anjing saja sudah butuh energi dan toleransi, apalagi lebih banyak anjing? Pasti butuh energi dan toleransi lebih tinggi.

Banyak orang bilang, memelihara anjing kampung itu mudah. Tak butuh perawatan dan pemeliharaan khusus. Tapi tetap saja, buat saya memiliki anjing berarti memunyai tanggung jawab. Kalaupun dia tidak perlu makanan khusus, tetap saja harus dikasih makan kan? Minimal diberi nasi....dan porsi nasi anjing ituu..ternyata lebih banyak dari porsi nasi saya! Padahal, dulu kami tidak memasak nasi khusus untuk anjing. Nasi yang kami makan, itulah yang juga kami berikan pada anjing. Alhasil, beras lebih cepat habis :D. Belum lagi, kalau ada limbah kepala dan jeroan ikan, saya mesti merebusnya dulu sebelum diberikan pada anjing.  Itu belum termasuk keharusan memandikan ketika si anjing sudah jorok plus membersihkan kejorokan -kejorokan lain yang lazim ditimbulkan oleh keberadaan anjing.

Ish...saya memang suka melihat anjing. Senang juga memiliki anjing. Tapiiii... ternyata saya tidak terlalu suka konsekuensinya :D.

Bleki bukan anjing pertama kami. Sebelumnya kami sudah beberapa kali memelihara anjing karena permintaan Ale. Semuanya anjing kampung yang kami beli seharga Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu.

Anjing pertama kami bernama Browni. Anjing warna coklat yang terus menyalak di tiga hari pertama di rumah. Lalu pagi-pagi kami lepas talinya dengan asumsi dia sudah "ngomah-omahi" alias feel at home di rumah barunya. Ternyata belum, tiga hari masih terlalu pendek untuk membuatnya merasa : ini tempat barunya. Pagi itu, tak lama setelah tali dilepas, dia sudah pergi entah kemana. Kami tak pernah berjumpa lagi dengan Browni.

Tak lama berselang, ada anjing kedua. Anjing jantan yg juga berwarna coklat, tapi kami namai Gogreen. Dia anjing yang manis...Namun, dia hanya sekitar lima bulan bersama kami. Suatu hari tiba-tiba dia melemah. Hari kedua, dia muntah darah. Lalu tak lama kemudian dia mati. Saya menitikkan air mata waktu dia dikubur di halaman belakang.

Beberapa bulan kemudian, ada lagi anjing jantan warna hitam yang kami namai Kiku. Dia tumbuh sehat. Sayangnya, dia punya habbit yang saya tidak suka, yakni menggigiti aneka barang plus membawa sampah dari luar ke halaman rumah. Pernah suatu hari dia menggigit tas tetangga yang sedang dijemur di halaman. Oooowghhhh.... saya nggak tahan. Kiku kami jual.

Terakhir adalah bleki. Sebenarnya dari awal saya sudah tidak sreg karena Bleki ini betina. Terpaksa, dalam hal ini saya sexist. Punya anjing betina berarti kemungkinan besar punya anak-anak anjing. Duuuh...saya merasa nggak sanggup. Sebagian orang lebih suka anjing betina karena nanti bisa mendapat untung dari menjual anak-anaknya. Tapi saya bukan termasuk bagian orang itu. Soal memelihara anjing, saya lebih suka yang berjenis kelamin jantan. Jadi, ketika bleki mulai menunjukkan tanda-tanda tertarik bereproduksi, saya minta pada suami untuk menjualnya. Suatu sore, dengan tanpa sepengetahuan Ale, kami tolong pada tetangga untuk menjualkan bleki.

Tapi entah bagaimana Ale bisa tahu, jika anjingnya dibawa pergi Bang Rudi. Mungkin Ale masih terlalu kecil untuk mengingat Browni, Gogreen, dan Kiku. Tapi dia punya memori khusus terhadap Bleki. Sesekali, dia akan merindukan Bleki, seperti siang ini. Dia "meratap" memanggil-manggil Bleki dengan kepolosan seorang bocah : kangen bleki, miss u bleki, miss u bleki.

Saya ingin tertawa, tapi juga sekaligus ingin menangis.


Posted via Blogaway

Sadar Investasi

Selalu terhibur dengan kalimat "tak ada kata terlambat untuk berinvestasi". Soalnya, jujur saja kalau lihat orang-orang yang jauh lebih muda sudah pada paham investasi, kok jadi berasa telat banget...

Secara sekarang uda kepala tiga gitu...anak juga sudah mau masuk sekolah. Tapi ok_lah drpd merasa terintimidasi sama "feeling guilty", mending pakai kalimat penghiburan tadi. Selain itu yaaa dengan disiplin investasi dan terus belajar. Dengan situasi keluarga yang single income, plus jabatan saya selaku "menteri keuangan rumah tangga", jadi deh saya merasa belajar investasi itu wajiiiib!

Flash back ke beberapa tahun lalu, waktu masih single_punya gaji_dan nggak punya tanggungan, boro-boro mikir investasi jangka panjang. Yang penting gaji masuk tiap bulan dan masih bisa nabung. Nabung kan juga investasi :D. Boro-boro mikirin pendapatan bunga yang ngga ngejar laju inflansi de el el. Masih ada uang di rekening bank, habis perkara. Lihat ada temen yang sudah kredit rumah, malah mikirnya : hedeh serius banget siapin masa depan. Nggak ada mikir beli-beli barang yang bernilai investasi. Adanya beli-beli barang yang nilai ke depannya menurun macam gadget, kamera, sepeda motor (tapi emang karena kebutuhan kerja juga siiy). Yang pernah saya lakuin saat itu cuma ikut tabungan berjangka (tiga tahun) di sebuah bank gara-gara tertarik hadiah promonya sama ambil dua polis asuransi unit link (yang bentar lagi mo selese masa nabungnya). Kalau ada tabungan pensiun sama jamsostek...itu kan karena diwajibkan perusahaan.

Tapi resign dan langsung jadi "menteri keuangan" rumah tangga juga nggak menjamin langsung tergerak belajar investasi. Uang dari suami ya cuma dipisah untuk kebutuhan sehari-hari sama nabung di rekening. Sudah merasa cukup dengan tidak foya-foya dan rutin menyisihkan pendapatan. Eh ya, sudah mulai sih beli emas..tapi nggak rutin dan dikiiit. Masih lebih nyaman simpan uang di tabungan konvensional. Sampai kemudian tertarik jualan online dan bisnis MLM. Tapi gara-gara pemisahan keuangan yang nggak bagus, malah sempat membuat keuangan agak belibet. Pelajarannya : sesederhana dan sekecil apapun bisnis kita, pengaturan keuangan mesti rapi dan tegas.

Sekarang, gara-gara sering baca-baca sharing-sharing masalah keuangan di forum-forum emak-emak, baru deh tergugah hati. Dan ouooooo....betapa-betapa pengaturan keuangan rumah tangga masih jauh dari rapi dan terencana.

Yaks...bikin perencanaan jangka panjang/tahunan pakai excel segala sih belom. Tapi setidaknya uda mulai mikir oh kudunya begini..kudunya begitu. Terus juga mendiversifikasi jenis tabungan. Nggak cuma nabung di rekening bank aja (kalau kata suhu-suhu invest sih rekening bank mah bukan untuk investasi, tapi transaksi....yups betuuull, lha wong biaya adminitrasinya saja berlomba sama pendapatan bunga :D).

Lalu mulailah rapi-rapi sana -sini. Salah satunya mengurus pindah alamat untuk pengiriman laporan bulanan polis asuransi. Yak..ketika dulu pindah alamat, saya nggak urus perubahan ke perusahaan asuransi loh. Alhasil, sudah bertahun-tahun saya nggak pernah terima laporan bulanan atas dua polis asuransi saya. Karena sedari awal sudah terpatri kalo ini invest jangka panjang plusk9 pembayarannya pake autodebet rekening, jadi selama  pembayaran ga ada masalah, ya saya abai. Ga pernah deh cek perkembangan unit-unit saya. Mana selama ini juga belum pernah manfaatin benefitnya karena belum pernah rawat inap (ih jauh-jauh deh ya). Sekalinya rawat inap ya pas sectio si Ale yang mana nggak ditanggung asuransi -tapi dicover kantor misua siiy :).

Baca-baca forum, unit link sih bukan sarana investasi yang recomended karena biaya akuisisi yang tinggi dan manfaat pertanggungan+cover+investasi yang diperoleh lebih rendah dibandingkan kalau dipisah menjadi asuransi dan investasi murni. Baru deh mulai pengin ngerti "berapa sih saldo polis saya?" kekekeke...dan rupanya memang, uda tujuh tahun berjalan pun belom balik modal loh...tapi mikir-mikir, malah makin rugi deh kalau distop. Terusin aja deh...tinggal bentar lagi. Toh rencana pakainya buat ntar anak kuliah. Dan itu masik belasan tahun lagi :). Tapi mikir juga kok rendah banget ya saldonya...baru keinget kalo dulu pilih pengelolaan dana dengan saham campuran. Jadi deh kontak agen untuk switch ke total saham dengan harapan returnnya bisa naik.

Gara-gara forum pula jadi "keracunan" virus reksadana. Dan setelah sekian lama cuma baca-baca (dan lambat paham), akhirnya tadi siang jadi deh beli reksadana (ntar buat tulisan sendiri deh soal ini).

Selain invest di produk-produk keuangan yang macem gitu, kami juga nabung di tabungan supertradisional, yakni arisan. Yipieeee.... ini investasi ga siy? Berhubung arisannya pake bunga, jadi saya anggap investasi deh hehehe. Kalau di sini sih arisan berbunga ini lazimnya disebut tarikan/tawaran atau jula-jula. Anggota yang menawarkan bunga tertinggi, dia yang menarik arisan.  Daripada bunga di rekening bank, perkembangan dana di tarikan lebih kompetitif lho..tapi ya itu, hanya berdasarkan saling percaya aja.

Mungkin jadi ada yang mikir, wah banyak dong mbaa tabungannya. Di mana-mana gituuu... Haha..banyak sedikit sih relatif yaa... tapi premi-premi polis saya mah minimalis. Beli reksadana itu juga bisa kok dengan Rp 100ribu aja per bulan.

Ini sih karena patuh sama prinsip "don't put your eggs in a basket". Terbukti kok, kalau semisal dulu invest semua dana di logam mulia, dan harga logam mulia malas-malasan kayak sekarang, kan bikin mules tuh.

Pas buka reksadana sempat ketawa-ketawa sama si mbak customer service bank, "saya nih mba, uang segini aja banyak banget keranjangnya". Si mbak CS sambil nyalamin saya bilang, "semoga semuanya optimal ya, Bu." Tentu saja saya aminkan doong :).

Kalau yang penghasilannya jauh lebih gede saja pada tertib mengatur keuangan dan rencana investasi, apalagi saya yah...

Akhir kata, mengutip chat whatsapp dengan temen tadi pagi :

Sebagian besar orang takut investasi krn risiko, berarti dia gak percaya meskipun sudah tahu investasi yg tepat dan risiko terukur

Nah sebagian besar yg jebol krn investasi bodong adalah orang yg gak wise dan rakus

Jd risiko dalam investasi selalu diperlukan, krn pada akhirnya bukan seberapa banyak uang yg kita hasilkan. Tetapi bagaimana kita mengelola kekayaan yg merupakan titipan dr Allah

#FinancialPlannerSyariah

Salam

(Lsd)






Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Wastafel

gambar dari SINI


Di rumah emak, tidak ada wastafel, baik wastafel-cuci-tangan maupun wastafel-cuci-piring. Mencuci piring dilakukan di sumur yang terletak persis di samping dapur (jadi mesti keluar pintu dapur dulu). Demikian juga urusan mencuci sayur dan lain-lain urusan masak-memasak yang  butuh air. Nyaris semua harus dilakukan di sumur. Hal seperti itu lazim di kampung kami. Eh tapi ada secuil pengecualian di dapur kami. Waktu itu, bahkan sampai sekarang, juga belum terlalu lazim di kampung kami. Saat ini, walaupun sudah ada sebagian rumah yang memiliki wastafel cuci piring, sebagian besar rumah tangga masih mencuci piring di sumur. Yaii, sebenernya mencuci piring di sumur sudah lebih deket daripada mesti ke pancuran yang letaknya jauh dari rumah. Tapi namanya manusia, selalu pengin yang lebih praktis, lebih dekat, lebih nyaman, lebih ringan...lebih-lebih-lebih segalanya!

(Alm) Bapak membuat satu lubang berbentuk kotak berukuran kecil di dapur yang tingginya setara dengan lantai. Letaknya di sebelah gentong air. Lubang ini bisa untuk cuci tangan (dengan mengambil air dari gentong). Juga untuk tempat menaruh piring+gelas+perkakas dapur kotor sebelum nanti dicuci di sumur. Ohya, ada fungsi tambahan : pas saya kecil dulu, kalau malam-malam tiba-tiba terbangun pengin pipis dan takut ke WC (karena harus keluar rumah), saya buang air di lubang itu :D.

Masih Gagal

gambar pinjam dari sini




Ceritanya, sejak punya eksternal keyboard itu aku buat challenge buat diri sendiri, yakni "satu hari (minimal) satu tulisan di blog ini:.

Tapi apa yang terjadiiiih?
Rupanya self-challenge itu masih gagal kupenuhi. Yah namanya alasan, macem-macemlah. Tapi semuanya bisa kusimpulkan dalam dua kata saja, yakni KURANG KOMITMEN!

Nah loooo....
Yuk aaah... buat challenge lagi. Jangan hukum diri terlalu dalam. Kasih kesempatan. Tapi jangan pula terlalu lembek. Kayaknya butuh sistem punishment jugaaaa...misal, kalau hari ini ga nulis, besok ga boleh ngopi. Eh ga boleh ngopi kan berat juga buat dakyuuu :D

Well...kegagalan adalah hal biasa, tapi jangan jadi kebiasaan dong #selftalk

Akhirnya Ngeblog dengan Smartphone

Sebenarnya beberapa waktu lalu sudah install aplikasi "blogger" di HP android S^msung ini. Tapi berhubung niat rutin menulis memang belum ada, aplikasi itu nggak tersentuh sama sekali dan malah aku hapus.

Kemarin2 memang masih dimanjakan adanya laptop. Kalaupun hasrat menulis lagi muncul, aku pilih pakai laptop. Buatku, mengetik di laptop tetap lebih nyaman daripada di HP (apalagi HP layar sentuh_walau sudah beberapa bulan pakai layar sentuh, rasanya masih lebih nyaman pakai HP keyboard biasa).

Belakangan, ketika hasrat menulis kembali subur, laptopku justru dipakai BJ akibat peristiwa laptop BJ digondol maling tempo hari. Jadilah memutuskan beli eksternal keyboard agar tetap nyaman mengetik. Tapi rupanya pakai eksternal keyboard pun belum sepenuhnya nyaman. Apalagi, waktu kemarin ngetik postingan pakai eksternal keyboard, aku belum install aplikasi lagi. Tapi masih buka blog pakai browser (karena dibuka pakai opera mini nggak bisa). Ketik dulu di doc_to_go baru copy lalu buka blogger via browser baru paste. Ribet..

Gara_gara keribetan itu, hari ini jad kepikiran lagi soal aplikasi blogger. Soal kenyamanan ngetik di layar sentuh, mungkin perlu pembiasaan saja. Jadi tadi pagi, dengan semangat ala para orator demo, langsung deh install aplikasi Blogger dan langsunh deh mencoba menulis.

Tapi rupanya nggak langsung berhasil. Mungkin karena setting HPku ya, jadi begitu masuk aplikasi otomatis terdaftar dengan emailku yang ***lisdha. Padahal aku ingin mengaktifkan blog yang terdaftar dengan email ***lywife. Aku berusaha untuk menambah account email tapi gagal. Mencoba sign out untuk ganti account juga nggak berhasil. Googling maupun tanya via status facebook juga nggak nemu solusi.

Akhirnya sampai malem, aplikasi tadi masih kubiarin. Baru deh setelah Ale tidur, aku coba utak_utik lagi. Tetap belum bisa #nasibgaptek. Baru kepikiran untuk coba aplikasi lain. Pilihan jatuh ke blogaway. Sama dengan blogger, begitu install langsung otomatis login dengan email ***lisdha. Utak_utik untuk ganti/tambah account. Nggak langsung berhasil tapi Puji Tuhan happy ending.

Dan hasilnya adalah tulisan ini...yeayy!! Memang gini deh nasib kalau gaptek yaaa.... tapi dengan berhasil utak_utik sendiri, rasanya puas.

Dan dengan berhasilnya install aplikasi ini, mudah2an niat proyek pribadi berupa (minimal) satu_hari_satu_tulisan bisa terlaksana. AMIIIN. (LSD)

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Abang atau Mas?

Tinggal di daerah yang berlainan suku ternyata menjadi seni tersendiri dalam memberikan sebutan untuk Ale setelah adiknya lahir nanti.

Sebagai orang Jawa, kakak laki-laki biasa dipanggil "mas" atau bisa juga "kang" seperti di Sunda. Sementara, sekarang kami tinggal di daerah suku Batak, yang mana seorang kakak laki-laki lazim dipanggil dengan sebutan "abang". Sedangkan sebutan "kakak" adalah khusus untuk "kakak perempuan". Berbeda dengan Bahasa Indonesia yang sama-sama menggunakan "kakak" baik untuk saudara laki-laki maupun perempuan. Dalam hal ini, bahasa daerah umumnya memang lebih spesifik yaa...

Ale yang masih kecil, belum memahami perbedaan seperti ini. Terlebih sewaktu saya belum hamil, saya dan BJ (suami) belum intens mengenalkan konsep kakak_adik padanya. Dia belum mengenal sebutan "mas" dan lebih familier dengan panggilan "abang", laiknya dia memanggil kawan-kawan bermain yang lebih besar di sini. Nah, saat kami pulang kampung ke Jawa, Ale bermain dengan kakak sepupu laki-lakinya (Iel). Kami bilang ke Ale, "ini Mas Iel".....dan spontan Ale memanggilnya "Abang Mas Iel" hahahaha.

Sekarang, menjelang punya adik, mungkin karena alasan primordial, kami membiasakan Ale dengan panggilan "Mas Ale." Bukan karena nggak suka dengan panggilan "Bang" sih...tapi lebih karena "panggilan akar budaya". Toh, selama kami masih tinggal di Tanah Batak, Ale ini akan tetap dapat panggilan "Bang" dari kawan-kawan sepermainan yang lebih kecil.

Jadi, dipanggil abang atau mas?

Ale bisa mendapatkan dua-duanya. Saya rasa, ini salah satu sentuhan kekayaan budaya Indonesia pada Ale.

Akhirnya...Punya Eksternal Keyboard

Saya termasuk golongan orang yang sampai sekarang masih belum nyaman pakai teknologi layar sentuh untuk mengetik, terutama kalau mengetik yang cukup panjang. Kalau cuma buat status atau chat sih masih okelah pakai touch screen :). Bahkan waktu beberapa bulan lalu memutuskan ganti HP dari si jadul Nokia E63, saya nasih berpikir untuk ganti gandget yang pakai tombol. Tapi misua merekomendasikan Samsung Grand Duos...ya okelah. Berhubung merasa suami lebih melek gadget, saya manut.

Memang sih, sejak awal beli si Samsu ini sudah terlintas pengen punya eksternal keyborad. Tapi ah buat apa? Karena untuk ngetik-ngetik panjang saya masih bisa pake laptop BenQ yang walopun sudah termasuk The Jaduls tapi masih bisa dioperasikan. Baru deh, setelah kejadian kemalingan tempo hari (ntar saya buat tulisan tersendiri), langsung deh jadi merasa harus segera mbeli eksternal keyboard. Soalnya, laptop saya yang Puji Tuhan ga ikut terangkut si maling sementara dipake kerja sama misua, sampai dia dapat lapi pengganti dari kantor. Padahal di situasi seperti ini, saya justru lagi menggebu-nggebu ingin kembali sering nulis seperti duluw. Eheeem...

Jadi deh langsung googling soal eksternal keyboard. Setelah dapat sejumput info, hari selanjutnya cari-cari itu barang di Siantar. Pertama-tama dateng ke toko komputer langganan di Jalan Bandung. Pertama tanya, saya keliru bilang "eksternal hardisk" ke empunya toko. Gara
-gara sejak beberapa waktu sebelumnya ngomongin .eksternal hardisk melulu sama misua. Di toko itu, ga ada eksternal keyboard. Jadi deh pindah ke toko handphone +aksesoriesnya di Jalan Merdeka. Ternyata di situ juga ga ada dan direkomendasikan ke toko seberang jalan. Jadi deh, nyebrang lagi. Eh tapi di dua toko itu saya kembali salah selalu nyebut eksternal hardisk lebih dulu :D.

Puji Tuhan di toko terakhir tersedia, tapi cuma satu model saja. Ya udah deh, gapapa daripada enggak ada.Tanya-tanya dan coba pakai, akhirnya deal harga Rp 240ribu dari semula Rp 250 ribu (kalau pandai nawar, pasti bisa lebih miring lagi eh :.D).

Beberapa hari setelah beli, si eks_kibod nggak langsung saya pakai. soalnya misua ada di rumah, jadi bisa deh pakai BenQ. Baru deh hari ini, saya running si eks_kibod. Masih gugak_guguk alias belum lancar :D. Ya teuteup lebih enakan langsung pake lapi Tapi lumayan deh, lebih cepetan pake eks_kibod daripada pake layar sentuh. Tapi teuteup aja masih banyak salah typo :)



Berkat Menikmati

gambar pinjam dari SINI

Ngomongin berkat, sepakat kan kalau bentuk berkat itu buanyaaaak banget. Dan siang ini aku ingat obrolan dengan seorang temen beberapa waktu lalu. Kami, sama-sama pendatang di Kota Siantar ini dengan penyebab yang serupa : suami ditempatkan bertugas di sini. Kami juga sama-sama emak-emak rumah tangga. Meski sama-sama pendatang, dia sudah ber-KTP Pematangsiantar sementara aku dan suami masih pegang KTP Jawa Tengah :).

Namanya emak-emak yah...sesekali ngobrolin fasilitas kantor suami masing-masing. Misalnya aja soal fasilitas mobil. Puji Tuhan, suami-suami kami sama-sama sudah dapat fasilitas mobil dari kantor masing-masing. Mobil operasional kerja yang bisa dibawa balik dan boleh dipakai untuk keperluan pribadi (asal jangan direntalin aja :P). Memang sih, mobil ini hanya fasilitas pakai. Di kantor misuaku, nggak ada kebijakan mobil jadi milik pribadi setelah pemakaian sekian tahun. Tapi buatku, fasilitas pakai aja sudah membantu bangeeet. Tinggal pakai dan secara periodik juga ganti mobil. Cuman mikir gimana keamanan pemakaian mobil aja (which is ini soal gimana misua nyopir--karena aku belum bisa nyopir, aku dukung doa aja supaya misua selalu safe selama pakai mobil). Biaya BBM, servis, sama pajak sudah urusan kantor. Jadi, walau belum punya sendiri, tapi sudah bersyukurrr bangeeeet :).

Terus soal rumah tinggal. Kalau kebijakan kantor suamiku, ketika pindah ke tempat baru, maka akan dapat biaya kontrak rumah selama dua tahun pertama (saja). Selanjutnya, kalau masih kontrak, ya bayar sendiri :D. Kalau kantor temen ini lebih enak, karena selama berada di kota itu dan ngontrak, maka biaya kontrak terus ditanggung perusahaan. Tapi listrik dan air bayar sendiri (entah deh kalau Pajak Bumi dan Bangunannya, siapa yang bayar). Perusahaan sepupuku, beda lagi fasilitasnya. Karena kerja di perkebunan mereka dapat fasilitas rumah dinas di area kebun. Rumah gratis, listrik+air gratis, bahkan juga dapat tunjangan khusus kalau pakai jasa asisten rumah tangga #akujugamaubangetbeginiiii

Urusan membanding-mbandingkan fasilitas kantor memang potensial menimbulkan respon, "wah enak ya kalau di kantor (suami) kamu. Kantor (suami)ku cuma gini...". Yaaa..jujur aja, spontan kadang aku juga begitu. Pas ngobrol sama temenku itu juga begitu...

Berhubung sekarang-sekarang  ini aku memang lagi termehek-mehek pengin punya rumah sendiri (karena sudah empat tahun tinggal di Siantar, yang mana artinya, jatah biaya rumah dari kantor sudah lewat sejak dua tahun lalu). Jadi kubilang sama temenku itu, "duuuh enak banget niih yang ga perlu bayar rumah."

Sambil ketawa-ketawa temenku merespon, "ya saat ini memang belum dapat berkat memiliki, tapi berkat menikmati kan sudah." Ups... bener banget. Saat itu, ucapan temenku terasa nampoool. Gara-gara fokus termehek-mehek PENGIN PUNYA RUMAH sendiri, akhirnya jadi rada samar sama berkat "menikmati rumah kontrakan."

Padahal, Tuhan sudah sediakan berkat yang bisa kami gunakan untuk bayar rumah. Banyaaak lhooo orang-orang yang pusiiing tujuh keliling tiap harus bayar kontrakan. Alih-alih bisa bayar kontrakan dengan lancar mereka terpaksa melakukan tindakan kriminal. Alih-alih bisa melanjutkan tinggal dengan nyaman, mereka terpaksa terusir dan tinggal di kontrakan yang lebih buruk, atau bahkan menggelandang. (Pas hari-hari kami kudu bayar kontrakan, di tivi lagi ada berita soal Zahra, balita Jakarta yang tinggal di kolong jembatan dan tragisnya tewas kecemplung sungai saat tidur). 

Tuhan juga berikan berkat "tarif kontrakan tetap." Padahal, kami sudah siap-siap ngeles bercanda kalau yang punya kontrakan mau naikin tarif. Rupanya, sampai hari H, nggak ada pemberitahuan naik. Pas kami datang bayar, si empunya rumah juga cuma nanya sambil becanda, "nggak ditambahi jumlahnya ini?". Dan ketika kami bilang "enggak", si bapak juga ketawa-ketawa aja...thanks God :). Ini berkat tersendiri karena tarif rumah-rumah kontrakan dan rumah kos-kosan di sekitar tempat tinggal kami sudah pada naik.

Dua ini cuma sebagian kecil aja tentunya yaaa...
Kalau mau nge-list... jelas banyak sekali item "berkat menikmati" yang Tuhan berikan pada kita. Tinggal kitanya terlalu fokus mengejar "berkat memiliki" atau bisa dengan bersukacita menikmati "berkat menikmati" ini. Soal memiliki, asal tetap berusaha, aku percaya semua akan indah pada waktunya.






Cerita Hujan (1)

Hujan deras. Sangat deras. Bahkan tadi sempat disertai bungkahan es. Ah ya…ukuran bungkahan sepertinya berlebihan. Tapi menyebut butiran, juga kurang tepat. Es-nya mungkin sebesar kerikil. Ketika jatuh menimpa atap seng menimbulkan suara bergemelotak. Ale sampai menutup telinga….takut.

Selain disertai es, juga ada angin dan kilat. Bersyukur, aku dan Ale sudah tiba di rumah. Tadi kami sempat kehujanan. Untuk pertama kalinya, kami bedua kehujanan dengan naik sepeda motor. Habisssnyaa…sedari pagi rasanya malasssss sekali keluar. Bahkan malass ngapa2in. Sampai aku berpikir, kalau aku begini-begini terus, aku bakalan mati dilumat malas.

Bawaan hamil? Hisyyyy… aku benci punya dugaan seperti ini. Malas itu…bagaimanapun kan negatif. Dan ibu hamil tidak boleh tenggelam pada hal yang negatif-negatif. Tapi siang tadi memang panasss sekali. Demi agar-tidak-terlumat-malas plus karena memang ada keharusan untuk mengirim paket, akhirnya aku dan Ale keluar.

Mengirim paket ke Bengkalis-Riau, dengan alamat RT../RW.. Ds…, Kec… tampaknya bukan daerah perkotaan. Tempo hari aku sudah tanya ekspedisi RAW, bisa tidak menjangkau daerah itu. Mereka bilang tidak bisa. Dengan alamat di perkampungan, ekspedisi swasta biasanya tidak mau. Atau, kalaupun mau, charge-nya lebih mahal. Bahkan, pengalaman buruk, barang nggak diantar tapi penerima yang harus ambil ke kantor ekspedisi. Itu kalau penerima dilengkapi nomor telepon. Kalau tidak? Ya entah bagaimana nasib barang kiriman.

Tapi baiklah,..walau mendung sudah begitu menggantung. Bahkan, kilat sudah pamer cahaya, aku tetap mencoba ke Elteha. Dan seperti kuduga, Elteha tak bisa mengirim ke daerah itu. Nggak ada cabang di Bengkalis, kata si ibu Elteha. Jadi, akhirnya ke kantor pos deh.

Walo kadang nggak puas sama layanan kantor pos, tapi aku ga bisa bilang NO WAY sama kantor warna orange ini. Aku malas kirim paket via pos karena alasan persyaratan kemasan. Nggak bisa pake sembarang bungkus kayak ekspedisi lainnya. Di pos, paket mesti dibungkus dengan kertas warna coklat. Makanya, kalo kirim paket aku biasa pake ekspedisi lain. Tapi dalam kasus-kasus kiriman ke pelosok begini, pos Indonesia selalu jadi penyelamat. (Makasih Posindo –smile+wink)

Berhubung tadinya bukan bungkus coklat, akhirnya mesti re-packing dulu di kios depan pos. Pake amplop besar dan plastik, kena Rp 3 ribu. Lalu lanjut ke konter pos. Seperti biasa, ditanyai apa isi paket. Seperti biasa pula, bohong kecil (idihh…bohong ya tetap bohong!) sama petugas konter. Habisnya kirim parfum siiih… dan kalo jawab jujur, ga bakalan boleh tuh. Kan barang cair termasuk barang terlarang untuk dikirim.

Eh, selesai bayar, ada suara sirine di jalan depan kantor pos. Plus jalanan lengang. Nggak biasanya, karena Jalan Sutomo adalah jalan utama di Pematangsiantar. Jalan ini hanya lengang di tengah malam – dini hari atau pada situasi khusus. Oohh..rupanya ada pawai. Ada pasukan bawa bendera-bendera, juga ada grup-grup drumband. Kebanyakan anak sekolah sih.. Ale antusias sekali menonton (terutama pada mobil polisi yang tak berhenti menguing dengan lampu sirine yang menyala). Kutanya mbak sebelah, pawai apa? Pawai MTQ jawabnya. Pantesan..peserta perempuannya kok berhijab semua.

Tak menunggu pawai usai, aku memutuskan pergi dari kantor pos. Semula aku berencana belok ke toko buku Lumen. Pikirku, sembari nunggu hujan turun – reda, aku mau cari kado untuk ultah Echa, plus cari majalah untuk menggenapi majalan Sekolah Minggu yang kurang. Dan kuyakin pasti ada buku yang bisa kubeli (biasa deeh, kalau liat buku pasti lapar mata). Tapi Ale nggak mau. Dia mau pulang. Baiklah..sembari meluncur sembari bilang sama Tuhan, agar hujan turun kalau kami sudah sampai rumah. Tapi baru sampai jalan ke Kuil Dewi Kwan Im, hujan sudah turun. Lumayan deras. Sudah persiapan mantel sih…langsung deh berhenti, pake si mantel biru. Mantel lebar (bukan bentuk baju) sehingga mesti diduduki bagian ujung-ujungnya. Memastikan agar ujungnya tidak berkibar-kibar dan menimbulkan kecelakaan. Ale di depan, menutup dirinya dengan mantel dengan menyisakan pada bagian muka. Jadi seperti memakai kerudung.

Kami berdua tertawa-tawa. Kehujanan berdua di “kereta” untuk pertama kalinya, bukannya membuat kami merana. Dulu sering kehujanan kalau pulang liputan. Edisi kehujanan paling lekat di ingatan adalah suatu kali saat pulang petang dari Stadion si Jalak Harupat, Soreang. Hujan begitu deras. Lalu lintas begitu padat. Dan, seperti biasa, dengan drainase yang tak bagus, air cukup tinggi. Sampai pijakan kaki. Sepatu penuh dengan air, rasanya tak nyaman. Sehingga aku memutuskan untuk melepas sepatu. Jadi, naik sepeda motor dengan nyeker. Agak bahaya sebenarnya. Tapi saat itu, dengan begitu terasa lebih baik. Sampai di kantor (Jalan Riau), badan basah kuyup dan kotor. Perut lapar. Tapi tak bisa langsung istirahat. Mandi air hangat lalu makan sambil santai-santai berselimut nonton tivi? Oo..nanti duluuu…. Tugas lanjutan masih menanti. Nulis repotase-nya coyy…

Ya begitulah salah satu kenangan masa itu… Masa yang sudah sangat laluu.

Sore tadi, setelah kehujanan, kami langsung mandi. Lalu bercanda berdua di atas sofa (si dede kan belum bisa diajak bercanda interaktif..masih nyaman di perut). Kami tak menyalakan tivi karena guruh masih sering menggelegar. Tertawa-tawa dengan Ale, sempat juga marahan, karena kami rebutan hape. Hihihi…emaknya juga nggak mau ngalah :D. Coba kalau edisi kehujanan bermantel tadi ketahuan ayah..kayaknya bakalan kena ceramah deh :D. Tapi kan ayah lagi nggak ada (untungnya..wink-wink).

Bercanda-canda dengan manusia kecilku membuat pikiranku melayang pada ibu-ibu yang masih menunggu. Menunggu manusia kecil hadir di rahimnya. Saat hujan deras begini dan tak ada suami, tak ada bocah kecil yang menemani. Ah ya… selalu..selalu..aku berdoa untuk kesabaran dan kebahagiaan mereka. Segala sesuatu indah pada masanya—klise memang. Tapi akupun meyakini, begitulah adanya.

Kembali Rumah Lama

Pagi ini, aku kembali ke sini. Ke rumah maya yang sudah lama sekali tak aku singgahi. Karena aku tak setia...mencoba menghidupi beberapa rumah lain..tapi di sana juga kalah melawan konsistensi. Yiaaah..dalam menghuni rumah maya, masalahku memang satu : konsistensi. Tapi pagi ini aku -entah mengapa- ingin kembali ke sini. Membaca-baca tulisanku yang tak seberapa... lucuuu, tertawa sendiri. Jadi walaupun malu juga kalau tulisan itu sampai terbaca orang lain..tapi biarlah. Ini seperti memasang foto yang pada masanya terasa sangat keren, atau setidaknya kalaupun tidak keren...adalah foto yang tidak malu-maluin untuk ditampilkan. Tapi kemudian beberapa tahun kemudian, kita merasa : ihhh fotonya culun bangeeet. Tapi itu memang fotonya kaaan.. Beberapa tulisan lama di sini bisa diedit, bahkan didelete. Tapi biarlah begitu..sebagai kenangan kalau aku pernah menulis itu. Kini aku di sini..bersiap untuk renovasi. Melawan masalah konsistensi. Agar rumah ini jadi cantik. Setidaknya cantik menurutku. Kalau orang lain juga merasa terberkati... Itu BONUSSS. Semangat pagiiii :)