Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2009

Desperate Housewife

Apa yang aku prediksi jauh hari akhirnya kejadian juga. Belum lama aku menulis tentang kemungkinan jenuh, eh hari-hari ini kemungkinan itu sudah menjelma kenyataan. Perasaan menikmati "cuti panjang" sudah berlalu dan kini berganti dengan bosan yang sangat. Situasi belum memiliki bayi membuat pekerjaan domestik begitu cepat terselesaikan. Sementara, lebur dengan komunitas ibu-ibu belumlah nyaman. Lingkungan yang sama sekali baru juga membuatku belum punya banyak teman (sampai-sampai curhat pun di blog :D)

Mestinya memang banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan sebagai waktu produktif (of course for writing). Tapi ironisnya, situasi seperti ini justru enggak kondusif untuk produktif. Otak sepertinya beku. Temanku yang wartawan BOLA mengumpamakan kondisi ini sebagai “pemain yang mesti duduk di bench”. Sementara aku mengibaratkan sebagai Xena (The Princess Warrior) yang pedangnya (di)hilang(kan) atau Srikandi yang panahnya dilelang (hahahahha…lebay mode-on).

Situasi ini memang s…

mengapa daily wife?

Kalo baca/dengar kata daily, biasanya otak kita langsung nyambung ke koran cetak luar negeri, taruhlah New York Daily atau London Daily. Dan kalo kita pakai jasa Paman Gugel (gak tau kenapa saya merasa cocok dengan sebutan paman untuk mesin pencari yang terkenal seantero jagad ini), kata daily memang nggak akan jauh-jauh dari surat kabar (cetak) --di era online, situs berita bakal kalah saing kalo apdet beritanya nunggu ganti hari, mengacu pada salah satu portal berita mereka berlomba dengan kecepatan detik...hihihi tampak lebay yak--

Tapi saya nyaman-nyaman saja menyambungkan kata daily dengan wife, bahkan saya cinta banget dengan frasa ini. Bagi saya, frasa daily wife adalah eureka, karena saya merasa enggak nyontek dari buku maupun internet. Meski merasa itu ide orisinal, nggak perlulah ndaftarin hak paten segala. Apalagi, ketika tanya paman Gugel, ternyata sudah ada yang pake “dailywife” untuk nama blog-nya (untung di domain tetangga). Cuma, setelah saya baca, ternyata kontennya ad…

because marriage is an adventure

Karena pernikahan adalah petualangan, maka akan ada hal-hal luar biasa yang kita temukan, baik saat berjalan maupun waktu istirahat .

Karena pernikahan adalah petualangan, maka akan ada kegembiraan melimpah ketika melihat hijau daun, langit biru, awan putih, fajar cemerlang, dan senja keemasan

Karena pernikahan adalah petualangan, maka akan perut kita tetap bersukacita meski makan mie instan atau dedaunan


Karena pernikahan adalah petualangan maka akan ada nafas berkejaran dan tubuh yang begitu lelah

Karena pernikahan adalah petualangan maka sangat mungkin ada pertengkaran ketika berbeda pendapat

Karena pernikahan adalah petualangan maka tidak mustahil kita tergoda putus asa ketika seolah tiada lagi jalan yang bisa kita tempuh

Karena pernikahan adalah petualangan maka bisa saja kita menemui hal-hal di luar dugaan dan perencanaan


Karena pernikahan adalah petualangan, maka kebahagiaan yang kita inginkan tidaklah terletak di ujung perjalanan

Happines is not a goal, but a journey…

Flash back : pernikahan = petualangan

Gambar
Tulisan ini aku bikin untuk undangan pernikahanku dengan BJ, 6 Des 08


Pernikahan adalah Petualangan

Apakah pernikahan? Sehingga demikian banyak penghuni bumi mengharapkannya. Sebaliknya, ada juga yang takut atau sinis padanya.

Kami yang baru saja menerima “tiket” untuk menikah, mendengar dan membaca berbagai definisi tentang pernikahan. Kami tidak mengesampingkan sekian definisi itu. Namun, ada satu definisi yang cepat dan tetap melekat dalam ingatan kami. Bunyinya : pernikahan adalah petualangan komunikasi seumur hidup.

Kami menyukainya meski kami bukan petualang. Jelas saja, kami tak seperti Christopher Johnson McCandless1. Kami juga bukan orang-orang yang beruntung terpilih sebagai presenter acara Jejak Petualang2 atau peserta The Amazing Race3.
Masing-masing kami hanya pernah melakukan “petualangan kecil” seperti menjejakkan kaki di puncak beberapa gunung. Kata petualangan kecil sengaja kami beri tanda kutip karena itu hanya sebuah perjalanan singkat dengan peralatan serta bekal log…

akhirnya ngeblog (lagi)...

Akhirnya ngeblog lagih :D

Judul ini merupakan bentuk kelegaan sekaligus sinisme buatku yang kemarin-kemarin sudah ngeblog di beberapa domain TAPI (!!!!) nggak setia update konten. Walhasil blog-blog itu (yang ga akan aku cantumin link-nya di sini) terbengkalai (dooh jadi sampah di dunia maya sajah). Kayaknya bukan aku aja deh yang pernah dihinggapi penyakit ini :D

Selalu ada alasan untuk tindakan tidak bertanggung jawab. Dan bagi tindakanku, alasan yang rasanya paling bisa dimaklumi adalah sibuk kerja. Tapi kalaupun Anda bisa memaklumi, saya justru enggak bisa. Okelah saat itu kerjaan adalah jurnalis (yang tetep aja buruh di perusahaan orang) yang bagi banyak orang masih dianggap sebagai jenis pekerjaan yang tidak mengenal jam kerja dan sibuk banget. Waks..memang sih, ada kalanya demikian. Tapi toh tidak setiap hari. Bahkan, dulu, dengan job di desk olahraga --yang sama sekali nggak aku sukai ituh--, ritme kerja cenderung agak teratur dengan banyak waktu luang pada pagi-siang dan baru m…